Jurnalis RI Ditangkap di Tengah Konflik, Kilas Balik Kisah Meutya Hafid

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kabar penahanan jurnalis-jurnalis Indonesia oleh tentara Israel dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) saat ini kembali memunculkan satu ingatan lama: Ini bukan pertama kali Warga Negara Indonesia (WNI) berada di tengah pusaran konflik Timur Tengah.

Di kawasan yang selama puluhan tahun dipenuhi perang, invasi, blokade, hingga perebutan pengaruh geopolitik itu, jurnalis Indonesia kerap berada di garis paling depan untuk menyaksikan sejarah—dan dalam beberapa kasus, ikut menjadi korbannya.

Lebih dari dua dekade lalu, jurnalis Indonesia pernah memiliki pengalaman serupa. Seorang jurnalis yang kini menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid juga disandera kelompok bersenjata di Irak yang menamai dirinya Brigade Mujahidin Irak.

Baca juga: Bertambah, 7 WNI Ditangkap Israel, 2 Lainnya di Kapal Kasr 1 Sadabat

Disandera tahun 2005

Kejadian penyanderaan Meutya dan juru kamera, Budiyanto, terjadi pada Februari 2025.

Dikutip dari wawancaranya dengan Kompas TV pada tahun 2015, ia mengungkapkan, peristiwa bermula ketika ia dan rombongan tengah menempuh perjalanan darat dari Yordania ke Baghdad, Irak, selama 10 jam.

Meutya yang saat itu menjadi jurnalis Metro TV menempuh jalur rawan. Namun, itu adalah satu-satunya opsi terbaik, ketika jalur udara lebih berisiko—pesawat yang ia tumpangi berpotensi ditembak pasukan dari bawah.

"Jadi pilihannya, ya, sudahlah, walaupun 10 jam kita lalui untuk masuk kembali ke Baghdad. Sudah masuk kedua kalinya itu (dari Irak, ke Yordania, lalu ke Irak lagi)," cerita Meutya dikutip Selasa (19/5/2026).

Baca juga: KSP Sebut 5 WNI Ditangkap Israel, 4 Lainnya Berlayar dalam Kondisi Rawan

Ketika memasuki wilayah Ramadi—satu dari wilayah Segitiga Sunni—rombongan sempat berhenti untuk mengisi bensin di pom bensin.

Wilayah ini dikenal sebagai basis kekuatan politik dan militer pada masa pemerintahan Saddam Hussein. Begitu pun menjadi jantung perlawanan Sunni pasca-Saddam.

Di situlah, penyanderaan dimulai, ketika pasukan bersenjata Irak menanyakan paspor.

Awalnya, Meutya belum menyadari apa yang akan terjadi. Ia bahkan sempat bingung mengapa mereka menanyakan paspor.

"Waktu itu belum lihat senjata (yang mereka bawa). Terus pas sudah masuk ke mobil, baru mereka ikut masuk dan bawa senjata laras panjang duduk di belakang saya, terus senjatanya diarahin ke saya," beber dia.

Ministry of Defense/Britannica Warga Irak menarik sebuah patung Saddam Hussein di jalanan kota Baghdad setelah pasukan koalisi pimpinan AS menduduki kota itu.

Suasana mencekam

Senjata laras panjang yang diarahkan kepadanya lantas membuat Meutya ketakutan. Ia menyadari berada di posisi rawan dengan kemungkinan terburuk.

Air mukanya mengeras, sementara kakinya sulit merasakan pijakan. Pikirannya berkecamuk, karena ia sedikit banyak telah melihat dinamika yang terjadi pada masyarakat Irak setelah invasi Amerika Serikat (AS).

"Lebih banyak orang saling bunuh karena memang stres setelah invasi Amerika. Jadi memang keadaannya sangat riots, kita tidak tahu orang ini mau apa. Waktu itu kita pikir yang terburuk... Jadi betul-betul terpikir dibunuh ya enggak akan (hidup). Ya langsung doa-doa. Langsung pasrah," ucap Meutya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Cerita Hati Spesial Ramadhan: Meutia Hafid, Tragedi Penyanderaan di Irak hingga Politik


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPRD DKI Kawal Kesiapan Hewan Kurban Demi Kenyamanan Ibadah Warga
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tiga Calon Haji Bengkulu Dirawat di RS Arab Saudi Jelang Puncak Ibadah Armuzna
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Pengamat: Peluang Persib untuk Gagal Juara BRI Super League Sangat Kecil, Borneo FC Butuh Mukjizat
• 19 jam lalubola.com
thumb
Lewat Penghargaan Daerah Berprestasi, Kemendagri Bangun Iklim Kompetitif
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Rajungan RI Lolos Standar Ekspor AS hingga 2029
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.