Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir April 2026 mengalami defisit sebesar Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Mnekeu) menegaskan, kondisi tersebut masih dalam batas aman dan sesuai target fiskal pemerintah. Menurutnya, posisi APBN saat ini tetap menunjukkan fungsi strategis sebagai instrumen menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional.
“Defisitnya tinggal Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB. Kemarin waktu keluar di bulan Maret. Bulan Maret para analis para ekonom bilang kalau itu kan 0,9 3 bulan, Kalau pukul rata kan 0,9 kali 4 jadi defisitnya 3,6 oke. Sekarang kalau saya pakai approach yang sama, pakai 0,6 itu 4 bulan berarti setahun kira-kira 0,6 kali 3, 1,8,” ujar Menkeu di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (20/5/2026).
Ia menjelaskan, tren fiskal nasional mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Salah satu indikatornya terlihat dari keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus sebesar Rp28 triliun.
Menurut Purbaya, capaian surplus keseimbangan primer menjadi sinyal bahwa pengelolaan fiskal pemerintah tetap sehat dan disiplin meski ekonomi global masih menghadapi tekanan dan ketidakpastian.
“Keseimbangan primernya sudah surplus lagi Rp28 triliun dan ke depan kemungkinan terus membaik. Pendapatan negara tumbuh 13 persen, sementara penerimaan pajak naik 16 persen. Bahkan bisa mendekati 20 persen,” katanya.
Kementerian Keuangan juga mencatat realisasi pembiayaan anggaran hingga April 2026 telah mencapai Rp298,5 triliun atau sekitar 43,3 persen dari target APBN tahun berjalan.
Pemerintah optimistis kinerja fiskal akan semakin kuat pada semester kedua tahun ini seiring peningkatan penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan.
“Artinya kita akan terus mengupayakan peningkatan pendapatan negara. Prospeknya jelas lebih baik dibanding tahun lalu,” ujar Purbaya. (lea/saf/faz)




