PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) mengekspor Bintang Radler ke Australia setelah menjalani uji pasar pada akhir 2025. Langkah ini menjadi diversifikasi ekspor perseroan yang sebelumnya didominasi Bintang Pilsener, sekaligus membidik tren konsumsi bir ringan di pasar global.
Presiden Direktur PT Multi Bintang Indonesia Tbk Roland Bala mengatakan, ekspor Bintang Radler merupakan bentuk diversifikasi produk ekspor anak usaha Heineken Company asal Belanda di Indonesia ini. Produk ekspor perusahaan sebelumnya didominasi bir Bintang Pilsener.
“Ini merupakan bagian dari ambisi kami untuk membawa lebih banyak varian Bintang ke pasar global,” ujar Roland dalam konferensi pers di fasilitas produksi Multi Bintang, di Tangerang, Banten, Selasa (19/5).
Menurut dia, Australia dipilih karena telah memiliki basis penggemar Bintang yang kuat, terutama didorong popularitas Bintang Pilsener. Namun, tren konsumsi kini berkembang ke produk bir yang lebih ringan dan menyegarkan seperti Bintang Radler.
Bintang Radler merupakan varian bir yang diproduksi di Indonesia. Produk minuman beralkohol ini memadukan bir rasa buah sehingga kadar alkoholnya lebih rendah dan rasanya lebih ringan dibandingkan bir biasa seperti Bintang Pilsener.
Sebagai bagian dari ekspansi pasar, Bintang Radler kini telah tersedia di 500 gerai Liquorland di Australia dan akan hadir secara nasional melalui jaringan Dan Murphy’s serta BWS mulai Agustus 2026.
Supply Chain Director Multi Bintang Indonesia, Florentinus Jemmy Cahyono, menyatakan pada eskpor perdananya perseroan melepas 6 kontainer Bintang Radler.
“Dengan (besaran) 20 feet,” kata dia saat ditemui di kesempatan yang sama. Meski demikian, pihaknya belum memerinci besaran nilai ekspor yang dilakukan.
Perusahaan mencatat varian sebelumnya, Bintang Pilsener, telah membangun jejak ekspor ke Belanda sejak 2013, Amerika Serikat sejak 2019, serta menjangkau sejumlah pasar di kawasan Asia-Pasifik.
Pada tahun 2024, portofolio ekspor Bintang diperluas melalui kehadiran Bintang Crystal di Timor Leste.
“Selama 95 tahun beroperasi sejak 1931, perusahaan terus mengembangkan portofolio produk sesuai dinamika pasar dan preferensi konsumen,” kata dia.
Selain Bintang Pilsener, perusahaan juga menghadirkan berbagai inovasi seperti Bintang Arak Jeruk Madu, Bintang Anggur Merah, hingga Bintang Crystal.
Kontribusi Cukai Industri Minuman Beralkohol Capai Rp 8,92 Triliun pada 2025Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kontribusi cukai industri minuman beralkohol mencapai Rp 8,92 triliun sepanjang 2025. Nilai itu meningkat 0,73% dibandingkan realisasi penerimaan cukai tahun sebelumnya yang sebesar Rp 8,86 triliun.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijanti Punguan Pintaria, mengatakan industri minuman beralkohol tetap memiliki peran terhadap perekonomian nasional meski menjadi salah satu sektor yang dikendalikan dan diawasi secara ketat.
“Industri minuman beralkohol terus berperan dalam perekonomian, khususnya terhadap penerimaan negara melalui kontribusi pembayaran cukai,” ujar Merrijanti dalam acara pelepasan ekspor Bintang Radler di Tangerang, Selasa (19/5).
Ia menjelaskan, pengawasan industri minuman beralkohol dilakukan sesuai Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 dan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 17 Tahun 2019.
Berdasarkan golongannya, kontribusi cukai minuman beralkohol golongan A dan C mengalami peningkatan masing-masing sebesar 1% dan 13% pada 2025. Sementara itu, kontribusi cukai golongan B tercatat turun 3%.
Merrijanti menyebut penurunan pada golongan B terjadi karena kemampuan produksi dalam negeri untuk kategori tersebut masih tertinggal dibandingkan negara lain, terutama Australia dan negara-negara Eropa.
“Untuk golongan B yang kebanyakan jenisnya wine, kita masih belum memproduksi dengan baik dibandingkan negara-negara lain, khususnya Australia dan Eropa,” katanya.




