Drone Ukraina Tembus Benteng Terkuat Putin! Kilang Minyak Moskow Meledak Hebat

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada Sabtu, 17 Mei 2026 dini hari, ibu kota Rusia, Moskow, dan sejumlah wilayah di sekitarnya mengalami salah satu malam paling mencekam sejak perang Rusia-Ukraina dimulai lebih dari empat tahun lalu. Ratusan drone Ukraina dilaporkan menyerbu wilayah Rusia secara bersamaan dalam operasi udara besar-besaran yang disebut sebagai serangan drone terbesar terhadap Moskow sejak perang pecah.

Langit malam di atas Rusia berubah menjadi medan pertempuran. Sirene serangan udara meraung di berbagai wilayah, ledakan terdengar berkali-kali, sementara sistem pertahanan udara Rusia berusaha keras menembak jatuh gelombang drone yang datang dari berbagai arah.

Serangan ini menjadi titik balik psikologis penting dalam perang. Untuk pertama kalinya, warga Moskow benar-benar merasakan ketakutan dan ancaman perang yang selama ini lebih banyak terjadi di wilayah Ukraina.

Fasilitas Minyak Strategis Moskow Terbakar Hebat

Salah satu target utama serangan adalah fasilitas pipa dan stasiun pemuatan minyak di Solnechnogorsk, wilayah pinggiran barat laut Moskow.

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kobaran api raksasa melahap area fasilitas tersebut. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit malam dan terlihat dari jarak yang sangat jauh.

Dalam beberapa video lain, kendaraan pemadam kebakaran Rusia tampak berusaha mengendalikan api. Namun semburan air dari mobil pemadam terlihat hampir tidak mampu meredam besarnya kobaran yang terus membakar area fasilitas energi tersebut.

Menurut laporan otoritas setempat, fasilitas itu merupakan bagian penting dari jaringan distribusi minyak di sekitar ibu kota Rusia. Lokasinya berada sekitar 40 hingga 45 kilometer dari pusat Moskow dan setiap hari memasok sekitar 2.000 ton bensin untuk kebutuhan warga kota.

Jumlah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 8,4 persen dari total konsumsi bahan bakar Moskow, sehingga serangan terhadap fasilitas ini dinilai memiliki dampak strategis besar terhadap logistik energi Rusia.

Lebih dari 550 Drone Diluncurkan ke Rusia

Pemerintah Rusia mengumumkan bahwa Ukraina meluncurkan lebih dari 550 drone dalam satu malam serangan.

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sebagian besar drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Namun sejumlah drone tetap berhasil lolos dan menghantam berbagai target penting di wilayah Rusia, termasuk di Oblast Moskow, Ryazan, hingga Dagestan.

Wali Kota Moskow, Sergey Sobyanin, mengatakan sedikitnya lebih dari 80 drone diarahkan langsung menuju ibu kota Rusia.

Ia menyebut operasi tersebut sebagai serangan drone terbesar terhadap Moskow dalam satu tahun terakhir.

Sementara itu, Gubernur Oblast Moskow mengonfirmasi sedikitnya tiga orang tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Ukraina Sebut Serangan Sebagai “Balasan yang Sah”

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa operasi jarak jauh tersebut berhasil menembus jaringan pertahanan udara Rusia yang paling padat.

Dalam pernyataannya, Zelensky menyebut serangan itu sebagai “balasan yang sah” terhadap serangan besar Rusia sebelumnya ke Ukraina.

Menurut Dinas Keamanan Ukraina, target utama operasi kali ini adalah fasilitas industri militer Rusia, termasuk:

Ukraina menilai seluruh fasilitas tersebut merupakan bagian penting dari mesin perang Moskow karena memasok bahan bakar dan logistik bagi pasukan Rusia di garis depan.

Zelensky kemudian mengunggah video di platform X dan mengatakan:

“Hukuman jarak jauh Ukraina kini telah mencapai wilayah Moskow.”

Ia menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan respons atas serangan besar Rusia terhadap Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya yang menewaskan puluhan warga sipil.

Serangan Balasan atas Hujan Rudal Rusia

Menurut pihak Ukraina, pada dini hari 13 hingga 14 Mei 2026, Rusia meluncurkan salah satu serangan udara terbesar sejak perang dimulai.

Dalam operasi tersebut, Rusia disebut menembakkan lebih dari 1.500 drone serang dan 56 rudal ke berbagai kota Ukraina, termasuk:

Serangan itu melibatkan rudal Iskander dan rudal hipersonik Kinzhal.

Pemerintah Ukraina menyebut operasi Rusia tersebut sebagai serangan udara terbesar dalam lebih dari empat tahun perang.

Akibatnya, Ukraina menganggap serangan balik ke Moskow sebagai bentuk pertahanan diri yang sah.

Pertahanan Udara Moskow Mulai Dipertanyakan

Moskow selama ini dikenal sebagai wilayah dengan sistem pertahanan udara paling ketat di Rusia.

Militer Rusia bahkan membangun tiga lapis jaringan pertahanan udara di sekitar ibu kota, termasuk penggunaan sistem:

Namun serangan drone massal Ukraina kali ini menunjukkan bahwa sistem tersebut mulai kesulitan menghadapi serangan drone dalam jumlah sangat besar secara bersamaan.

Selain Solnechnogorsk, kota minyak penting Ryazan di Rusia bagian tengah juga dilaporkan terkena serangan.

Rekaman dari lokasi memperlihatkan api besar dan asap hitam pekat menutupi langit kota.

Target Ukraina bahkan meluas hingga pangkalan Armada Laut Kaspia Rusia di Dagestan. Sebuah drone FP-1 dilaporkan berhasil menghantam fasilitas militer di wilayah tersebut.

Putin Diduga Sudah Mengantisipasi Ancaman Drone Ukraina

Menurut sejumlah pengamat militer, operasi besar Ukraina ini sebenarnya telah dipersiapkan menjelang parade Hari Kemenangan Rusia pada 9 Mei 2026.

Pemerintah Rusia diduga telah menyadari ancaman tersebut sejak awal.

Beberapa minggu sebelum parade, Moskow secara sepihak mengumumkan gencatan senjata sementara pada tanggal 8 hingga 9 Mei.

Setelah itu, Presiden Rusia Vladimir Putin juga melakukan komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di bawah mediasi Amerika Serikat, Rusia dan Ukraina akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama tiga hari, yakni dari 9 hingga 11 Mei 2026, sekaligus melaksanakan pertukaran tawanan perang.

Namun di balik itu semua, Putin tampak tetap sangat khawatir terhadap ancaman serangan drone Ukraina.

Parade Hari Kemenangan Rusia Berlangsung Suram

Pada parade Hari Kemenangan di Lapangan Merah Moskow tanggal 9 Mei 2026, Rusia melakukan berbagai pembatasan besar-besaran.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Rusia:

Selama perayaan berlangsung, pusat kota Moskow juga mengalami pembatasan internet besar-besaran. Sinyal GPS di sejumlah wilayah dilaporkan tidak dapat digunakan.

Parade tahun ini bahkan disebut banyak pengamat sebagai parade Hari Kemenangan paling suram dalam sejarah modern Rusia.

Total durasi parade hanya sekitar 45 menit — menjadi parade militer Hari Kemenangan terpendek dalam sejarah Rusia modern.

Jumlah peserta parade juga jauh menurun. Hanya sekitar 1.000 personel yang ikut berbaris, termasuk tentara Korea Utara.

Pemandu acara menyebut pasukan Korea Utara tersebut ikut membantu “membebaskan wilayah Kursk dari pendudukan Ukraina”.

Namun pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, tidak hadir secara langsung dan hanya mengirimkan pesan ucapan selamat kepada Putin.

Pemimpin negara yang hadir di Lapangan Merah juga sangat terbatas. Di antaranya hanya Presiden Belarus serta pemimpin Kazakhstan dan Uzbekistan.

Secara keseluruhan, hanya terdapat 12 formasi pasukan yang melintasi Lapangan Merah — sekitar sepertiga dari jumlah formasi pada parade tahun 2024.

Setelah pidato Putin selesai, televisi Rusia kemudian menayangkan video propaganda militer berdurasi tujuh menit yang menampilkan persenjataan Rusia.

Tak lama kemudian, Putin terlihat segera meninggalkan lokasi menggunakan kendaraan antipeluru.

Drone “Bars” dan FP-1 Jadi Senjata Andalan Ukraina

Dalam operasi kali ini, Ukraina terutama menggunakan dua jenis drone utama, yaitu drone Bars dan drone FP-1.

Drone Bars

Drone Bars — yang berarti “Macan Tutul” — merupakan drone jet jarak jauh baru buatan Ukraina.

Pengembangannya dimulai pada tahun 2024 dan pertama kali diperkenalkan ke publik pada April 2025.

Drone ini menggunakan mesin turbojet kecil dan diluncurkan menggunakan roket berbahan bakar padat.

Kemampuannya antara lain:

Sejak awal 2026, drone Bars mulai beberapa kali terlihat digunakan di medan perang.

Drone FP-1

Sementara itu, FP-1 merupakan drone sayap tetap dengan baling-baling yang mulai digunakan Ukraina sejak akhir 2024.

Drone ini pertama kali dipamerkan secara publik pada Hari Infanteri Kyiv tahun 2025.

Meski kecepatannya relatif lebih lambat, FP-1 memiliki jangkauan luar biasa jauh hingga sekitar 1.600 kilometer.

Spesifikasi drone ini meliputi:

Drone FP-1 dibuat menggunakan material murah seperti:

Desainnya sederhana dan tidak menggunakan roda pendaratan. Peluncurannya memakai roket pendorong dengan sudut miring.

Konsep utama drone ini adalah biaya rendah dan produksi cepat, sehingga cocok untuk perang jangka panjang.

Ukraina disebut mampu memproduksi hingga:

Artinya, meskipun sebagian drone berhasil ditembak jatuh Rusia, Ukraina tetap mampu menggantinya dengan cepat.

Rusia Dinilai Mulai Kehilangan Momentum

Banyak analis militer menilai perkembangan terbaru ini menunjukkan Rusia mulai mengalami kelelahan perang.

Di garis depan Ukraina, Rusia dinilai gagal mencapai terobosan besar dalam beberapa bulan terakhir.

Contohnya terlihat di Krasnohorivka, di mana pertempuran telah berlangsung lebih dari dua tahun tanpa keberhasilan penuh Rusia menguasai wilayah tersebut.

Pada musim semi 2026, Ukraina bahkan berhasil merebut kembali sejumlah wilayah rawa di garis depan Zaporizhzhia.

Kini, serangan drone Ukraina bahkan sudah mampu mencapai langsung jantung ibu kota Rusia.

Pertahanan Moskow yang selama ini dianggap hampir tidak tertembus akhirnya benar-benar diuji.

Dan menurut banyak pengamat, apa yang terjadi hari ini mungkin baru permulaan.

Jika Ukraina benar-benar mampu memproduksi ribuan drone setiap bulan, maka serangan besar terhadap wilayah Rusia diperkirakan akan menjadi semakin sering, semakin luas, dan semakin agresif dalam waktu mendatang. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Ambruk ke Level Terendah, Asing Kompak Lego 10 Saham Ini
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Warga Ciputat Tangkap Pria Pencuri Sekring Listrik Perumahan, Polisi Sita 15 Fuse dan Motor Pelaku
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenkes Dukung BNN Larang Vape, Siti Nadia Bocorkan Efek Mengerikan Rokok Elektrik
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Kasasi Ditolak MA, Razman Nasution Tetap Divonis 1,5 Tahun Penjara
• 5 jam lalurctiplus.com
thumb
Top 3 Voli: Belum Sebulan Rekrut Megawati Hangestri, Spink Spiders Tak Cukup Tarik Sahabat Megatron, hingga Top Skor AVC Champions League 2026
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.