FAJAR, MAKASSAR-Riuh langkah mahasiswa memenuhi selasar Gedung Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Deretan buku dari berbagai penerbit seperti Nas Media hingga Unhas Press berjajar rapi, menghadirkan suasana yang semakin jarang ditemui di tengah kebiasaan generasi serbadigital: berlama-lama di antara halaman buku.
Pameran buku yang digelar Perpustakaan Unhas dalam rangka menyambut Hari Buku Nasional 2026 sekaligus merayakan ulang tahun ke-64 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Di balik keramaian stan dan antusiasme pengunjung, tersimpan satu pertanyaan besar, masihkah buku fisik memiliki tempat di tengah budaya konsumsi informasi yang serbacepat?
Nurenci, Duta Literasi Unhas, melihat langsung bagaimana pola membaca mahasiswa mulai berubah. Menurutnya, minat baca tidak benar-benar hilang, tetapi bergeser menjadi lebih instan dan singkat.
“Kalau parameternya buku fisik, minat baca mahasiswa memang bisa dibilang menurun. Sekarang kebanyakan lebih suka membaca potongan informasi di media sosial, cukup dari sinopsis atau rangkuman singkat yang lewat di layar HP,” ujarnya.
Kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat, lanjutnya, sedikit demi sedikit memengaruhi cara mahasiswa memahami sesuatu. Banyak orang merasa cukup mengetahui inti persoalan tanpa benar-benar menyelaminya lebih dalam. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan reflektif perlahan terkikis oleh budaya serbapraktis.
Meski begitu, Nurenci percaya kondisi ini bukan alasan untuk menyerah pada perkembangan zaman. Baginya, tugas Duta Literasi bukan sekadar hadir meramaikan acara, melainkan menjadi jembatan yang mendekatkan mahasiswa dengan budaya membaca.
“Kadang orang merasa literasi itu kaku dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Tugas kami adalah memperlihatkan kalau membaca sebenarnya dekat, menyenangkan, dan penting,” katanya.
Menurut Nurenci, tantangan terbesar hari ini bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan cara manusia menggunakannya. Media sosial memang menawarkan kepuasan instan, tetapi tidak selalu mampu memberikan pemahaman mendalam. Ketika seseorang membutuhkan pengetahuan yang utuh dan detail, buku tetap menjadi ruang yang sulit tergantikan.
Antusiasme pameran ini juga dirasakan Asrul, mahasiswa Teknik Pertanian angkatan 2025. Menurutnya, kehadiran acara tersebut membuat perpustakaan terasa lebih hidup dan ramai dibanding hari-hari biasa.
“Kesan pertamanya sangat menarik karena bisa memantik minat mahasiswa untuk memperbanyak literasi dan lebih mendalami isi Perpustakaan Unhas. Semenjak ada event ini, perpustakaan jadi jauh lebih ramai,” ungkapnya.
Ia berharap suasana seperti ini tidak berhenti setelah pameran selesai. Baginya, kampus perlu terus menghadirkan kegiatan yang membuat mahasiswa merasa nyaman datang ke perpustakaan, baik melalui program literasi maupun penataan ruang yang lebih menarik.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, pameran buku ini seolah menjadi pengingat bahwa membaca bukan hanya soal mencari informasi, tetapi juga soal memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas lebih lama. Buku mungkin tidak lagi menjadi sumber hiburan utama bagi generasi hari ini, tetapi ia tetap menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh guliran konten singkat.
Naskah: Athaya Najibah
Foto: Adam Akhinal Rozaq
(Magang Fajar Unhas)





