Perajin Tempe Malang Kian Tertekan Harga Kedelai Impor dan Plastik

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

MALANG, KOMPAS—Keuntungan perajin tempe di Kota Malang, Jawa Timur, tertekan oleh naiknya harga kedelai impor dan plastik. Bahan baku kedelai terus naik beberapa waktu terakhir. Begitu pula harga plastik yang melonjak akibat kondisi geopolitik global.

Taryono (60), salah satu perajin tempe di Kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Rabu (20/5/2026), menuturkan, saat ini harga kedelai impor dari Amerika tembus Rp 10.500 per kilogram (kg). Harga sebelumnya masih dalam kisaran Rp 9.000 per kg. Sedangkan harga plastik yang semula Rp 35.000 per kemasan juga naik menjadi Rp 51.000.  

Ia membutuhkan sekitar 450 kg kedelai untuk membuat tempe dalam sehari. Tempe hasil produksinya banyak dijual kembali oleh pedagang (reseller) yang datang dan sebagian lainnya (20 persen) untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis.

“Dampak kenaikan harga bahan baku dan plastik membuat perajin tempe seperti kami berkurang labanya hingga 20 persen,” ujarnya.

Sejauh ini, ia belum berani menaikkan harga karena khawatir pelanggan beralih ke produsen lain. Soalnya ada produsen tempe di wilayah itu.

Kampung Sanan telah puluhan tahun menjadi sentra produsen tempe dan makan olahan turunannya di Kota Malang. Jumlah perajin mencapai sekitar 600 orang, termasuk yang fokus pada keripik tempe sebagai oleh-oleh. Sejauh ini, hampir semua peranjin memanfaatkan kedelai impor dengan alasan kontinuitas dibanding kedelai lokal.

Menurut Taryono, pedagang kecil selalu goyah saat terjadi perubahan harga bahan baku. Ketersediaan bahan baku sejauh ini mencukupi.

Baca JugaRupiah Masih Berisiko Melemah, Apa Ada  Dampaknya bagi Masyarakat Desa?

Pedagang tempe di Pasar Besar Kota Malang, Iwan Hariyono, mengatakan hal serupa. Menurut dia, sejak perang Amerika/Israel-Iran, harga kedelai impor naik sedikit demi sedikit. “Naiknya Rp 100, Rp 50, lalu turun lagi, terus naik lagi sampai hari ini Rp 10.500 per kg. Kalau kedelai lokal, kami kurang tahu harganya karena tidak pernah pakai. Stoknya terbatas,” kata Iwan yang tengah menunggu pembeli.

Iwan pun tidak berani menaikkan harga tempe karena khawatir pelanggan akan berpindah ke pedagang lain. Sebagai strategi agar tetap bertahan, dia terpaksa mengurangi ukuran tempe menjadi lebih kecil dari sebelumnya.

Kondisi pembeli tempe sendiri agak sepi akhir-akhir ini. Jika biasanya Iwan menghabiskan 400 kg kedelai dalam sehari maka saat ini hanya 300-350 kg. “Enggak tahu penyebabnya apa,” kata Iwan yang juga tinggal di Kampung Sanan.

Mengenai berkurangnya pembeli tempe dibenarkan Ita, pengurus koperasi kedelai di Kampung Sanan. Menurut Ita, sejak sebulan lalu, permintaan kedelai dari perajin tempe menurun. Jika biasanya pembelian kedelai ke koperasi mencapai 5 ton per hari saat ini menjadi 4 ton. “Memang pasarannya sedang sepi,” katanya.  

Meski demikian, Ita mengaku stok kedelai impor mencukupi. Saat ini di tempat itu masih terdapat 16 ton kedelai yang biasanya akan habis dalam waktu empat hari ke depan. Begitu stok menipis akan datang pasokan baru. “Kalau harga masih Rp 10.500 tidak ada perubahan dalam beberapa hari terakhir,” katanya.

Tergantung impor

Dihubungi secara terpisah, Ekonom Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, mengatakan, gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di Amerika belakangan ini menekan nilai tukar rupiah secara signifikan. Pelemahan tersebut menjadi ancaman nyata yang diam-diam menyusup ke dapur dan dompet masyarakat luas.

Menurut Yunan kenaikan harga kedelai beberapa waktu terakhir bukan hanya soal angka di pasar, tetapi juga dapur rakyat kecil. Di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar stabil, ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai menjadi persoalan yang semakin terasa, terutama bagi para perajin tempe dan tahu.

Indonesia, kata Dia sebenarnya dikenal sebagai negara agraris. Namun ironisnya, kebutuhan kedelai nasional masih didominasi oleh impor, terutama dari Amerika Serikat dan beberapa negara lain. Produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang begitu tinggi.

”Tempe dan tahu sendiri sudah menjadi makanan harian rakyat, dari warung kecil sampai rumah tangga sederhana. Akibatnya, ketika harga kedelai impor naik karena pelemahan rupiah, biaya logistik, perang dagang, atau kondisi global lainnya, dampaknya langsung terasa sampai ke pasar tradisional dan dapur para perajin,” katanya.

Kondisi ekonomi yang sedang terjadi membuat situasi semakin berat. Nilai tukar rupiah yang melemah, lanjut Yunan tak hanya membuat harga kedelai impor merangkak naik. Tetapi juga ongkos distribusi, bahan bakar, hingga biaya produksi lainnya, juga ikut meningkat.

Baca JugaKedelai: Impor, Konsumsi, Tata Niaga, dan Perkembangan Harga

“Bagi perusahaan besar mungkin masih ada cadangan modal, tetapi bagi perajin tempe skala kecil, kenaikan harga sedikit saja bisa sangat memukul usaha mereka,” ujarnya.

Posisi perajin tempe menjadi dilematis. Mereka tidak bisa begitu saja menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat sedang menurun. Jika harga tempe naik terlalu tinggi, pelanggan bisa berkurang. Tetapi jika harga tetap, keuntungan mereka makin tipis. Bahkan ada yang nyaris tidak mendapat laba sama sekali.

Karena itulah, banyak perajin akhirnya memilih jalan bertahan, mulai dari mengurangi ukuran tempe, membatasi produksi, hingga menurunkan kualitas kedelai agar mereka bisa tetap berproduksi dan menjual dengan harga terjangkau.

“Di balik sepotong tempe yang terlihat sederhana, ada perjuangan ekonomi yang cukup berat. Banyak perajin bekerja dari dini hari, mengolah kedelai dengan tenaga sendiri, tetapi keuntungan yang didapat semakin kecil karena harga bahan baku terus naik. Bahkan ada sebagian yang memilih berhenti produksi sementara karena modal tidak lagi cukup untuk membeli kedelai dalam jumlah besar,” paparnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa ketergantungan impor membuat sektor pangan rakyat menjadi rentan. Ketika pasokan luar negeri terganggu atau harga dunia naik, pelaku usaha kecil di dalam negeri menjadi pihak pertama yang terkena dampaknya.

Oleh karena itu, kata Yunan persoalan kedelai tidak cukup hanya dibahas sebagai urusan perdagangan, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan keberlangsungan usaha rakyat kecil. Pemerintah perlu memperkuat produksi kedelai lokal, memberikan perlindungan harga bagi petani, membantu distribusi, serta memberi dukungan nyata kepada perajin tempe agar tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Editorial MI: Bebaskan WNI Aktivis Flotilla
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
TelkomGroup Borong Penghargaan LinkedIn, Fokus SDM Jadi Penopang Transformasi
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pramono: Jakarta Segera Punya Tiga PLTSa, Soal Untung Rugi Urusan Lapangan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kunjungan Putin ke Beijing Soroti Persahabatan dan Kerja Sama Energi Rusia-China
• 58 menit lalukompas.tv
thumb
Mendikdasmen Ungkap Strategi Pemerintah Memenuhi Kebutuhan Guru ASN, Pastikan Tidak Ada PHK
• 5 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.