Bisnis.com, PADANG - Sejumlah pedagang sapi untuk kurban di Provinsi Sumatra Barat menyebutkan permintaan sapi mengalami peningkatan yang tinggi pada perayaan Iduladha 2026 ini tapi tidak diiringi dengan ketersediaan dan pasokan sapi yang ada.
Jasman, pedagang sapi di Padang, mengatakan jauh sebelum masuknya momen Iduladha 2026 ini, dirinya telah memperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan sapi kurban pada tahun ini. Sehingga dia berupaya untuk menyediakan sapi, sebagai bentuk antisipasi lonjakan permintaan itu.
“Kami dari sejumlah pedagang telah memprediksi soal peningkatan permintaan ini. Makanya, saya pribadi telah mencari modal untuk bisa membeli sapi lebih banyak lagi, hanya saja terkendala akses ke perbankan,” katanya, Rabu (20/5/2026).
Dia menjelaskan dari modal yang dimilikinya saat ini hanya mampu untuk menyediakan 40 ekor sapi kurban yang terdiri dari sapi lokal dan sapi bali. Kini, sapi yang ada di kandang itu telah dibeli seluruhnya, dan bahkan masih ada permintaan lainnya yang belum terpenuhi.
Pria yang akrab disapa Ujang ini menyebutkan bahwa untuk menjalani usaha sapi kurban ini, minimal harus dipersiapkan 6 bulan sebelum masuk waktu Hari Raya Iduladha. Karena sapi-sapi yang dibelinya itu, secara fisik dan bobot masih perlu untuk ditingkatkan lagi, makanya perlu waktu minimal 6 bulan untuk melakukan proses penggemukannya.
“Kalau sapinya melakukan perjalanan jauh, dipastikan secara bobot bakal berpengaruh turun. Nah, kondisi ini saya tangani dengan waktu 6 bulan itu, sehingga nantinya bisa memiliki bobot yang bagus dan layak dijadikan sapi kurban,” jelasnya.
Baca Juga
- Ada Aksi Mogok Pedagang Daging Sapi di Bandung, Stok di Jabar Dipastikan Aman
- Mana yang Lebih Baik, Kurban 1 Ekor Kambing atau 1/7 Sapi?
- Grup Djarum Beberkan Alasan Masuk ke Bisnis Peternakan Sapi Perah
Oleh karena itu, melihat butuhnya waktu untuk menyiapkan sapi kurban yang layak. Jauh-jauh hari, Ujang telah mengajukan pinjaman modal usaha ke perbankan, mulai dari bank daerah hingga ke himbara. Ternyata, pihak perbankan tidak memberikan kemudahan, dan malah meminta syarat yang rumit untuk dipenuhi.
“Saya tahu, kalau mengajukan pinjaman KUR di bawah Rp100 juta, tidak wajib ada agunan. Kalau bagi pedagang sapi untuk kurban seperti saya ini, modal Rp100 juta terbilang sedikit, hanya membeli beberapa ekor sapi saja,” sebutnya.
Dia menceritakan saat mengajukan pinjaman KUR ke perbankan, dengan nilai Rp200 juta, diminta ada agunan seperti surat-surat kendaraan roda empat atau pun lahan yang luas. Sementara, bagi pedagang sapi, agunan yang demikian sulit untuk dipenuhi.
“Dari sini saya telah coba diskusikan dengan dinas-dinas yang ada di Pemkot Padang, memang tidak ada solusinya. Bagi saya, momen ini perlu didukung pemerintah, mungkin ada skema lain yang diberi ke pedagang sapi kurban ini,” tegasnya.
Dia berharap meski kondisi kesulitan untuk mengakses pinjaman KUR ke perbankan mengalami kendala pada Iduladha 2026 ini, ke depan persoalan ini bisa jadi perhatian serius, sehingga kehadiran KUR yang sejatinya membantu pelaku usaha, benar-benar terlaksana dengan baik.
“Modal ini perlu. Karena sapi yang kami beli luar daerah dari Padang dan juga ada datang dari luar provinsi. Sekarang itu beli sapi di luar daerah, harus bayar dulu, tidak bisa barang terjual baru dibayar. Makanya butuh modal besar untuk berdagang sapi kurban,” kata dia.
Akibat adanya kendala itu, Ujang bilang cukup banyak permintaan sapi kurban di Padang sulit untuk dipenuhi. Bahkan kendati sapi yang di kandangnya saat ini telah habis terjual dan tinggal diantar sesuai lokasi permintaan, apabila ada masuk permintaan dia berupaya membantu untuk mengarahkan ke pedagang sapi lainnya.
“Supaya pembeli ini tidak kecewa dan gelisah. Setiap ada permintaan yang masuk, saya jawab bisa dicarikan. Jadi saya hubungi lah teman-teman pedagang sapi lainnya. Tapi juga tidak mudah mendapatkan. Intinya, ketersediaan sapi kurban di Padang memang tinggi,” ungkapnya.
Pedagang sapi lainnya, Jeri juga mengakui bahwa permintaan sapi kurban terbilang cukup tinggi pada tahun ini. Sehingga sapi-sapi yang ada di kandangnya itu biasanya digunakan pedaging, kini dicoba dialihkan khusus untuk pemenuhan kebutuhan sapi kurban.
“Lagi tinggi permintaan, dan sapi yang saya jual memiliki bobot yang besar, jadi harganya memang tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, Fungsional Pengawas Bibit Ternak Ahli Madya Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi Sumbar, Hilman menyampaikan dari pantauan beberapa kabupaten dan kota, memang kondisi terjadi tengah tingginya permintaan hewan kurban pada Iduladha 2026 ini.
“Data pasti berapa total kebutuhan sapi kurban dan yang tersedia saat ini di pedagang di Sumbar, saya memang tidak punya. Biasanya akan dapat data itu, bila kurban telah selesai dikerjakan. Kalau sekarang belum ada laporan, tapi dari pantauan di lapangan seperti di masjid dan mushola, memang meningkat jumlah hewan kurban pada tahun ini,” sebutnya.
Seorang pengurus Masjid Baiturrahmi di Kabupaten Pesisir Selatan, Julai mengatakan tahun ini dari data yang mendaftar untuk ikut kurban memang terjadi peningkatan jumlah. Bahkan hingga saat ini, telah ada 9 kelompok yang sudah bisa melaksanakan ibadah Iduladha, artinya akan melakukan kurban pada 9 ekor sapi.
“Kami perkirakan bisa lebih dari 10 ekor sapi pada tahun ini, karena ada dua kelompok lagi yang masih kurang jumlah orangnya. Kalau terisi semua, ada belasan ekor bisa itu. Semoga saja bisa terwujud, karena waktu masih ada sekitar sepekan lagi,” ujarnya.
Dia menyampaikan melihat pada tahun lalu sapi kurban di masjid itu sekitar 7 ekor sapi, dan sisanya ada kambing. Kalau sekarang bertambah, dan hal ini menunjukkan bahwa ekonomi dan kesadaran masyarakat untuk mengikuti kurban lebih baik dari tahun ke tahun.





