Jakarta, ERANASIONAL.COM – Di tengah rupiah melemah, Menkeu Purbaya tetap berangkat haji dan mengaku siapkan doa khusus untuk ekonomi RI.
Di tengah tekanan hebat terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap melanjutkan rencana ibadah hajinya ke Tanah Suci.
Keberangkatan Purbaya pun langsung menjadi sorotan publik karena terjadi saat kondisi ekonomi nasional sedang penuh tekanan.
Purbaya dijadwalkan berangkat haji pada Kamis, 21 Mei 2026.
Menariknya, ia mengaku telah menyiapkan doa khusus untuk perekonomian Indonesia agar kondisi rupiah dan pasar keuangan segera membaik.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai menghadiri rapat terbatas bidang ekonomi yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Senin 19 Mei 2026.
“Kamis (21/5), kalau nggak ada halangan,” ujar Purbaya singkat saat ditanya soal jadwal keberangkatannya.
Ia mengatakan persiapan ibadah haji sebenarnya sudah dilakukan sejak dua Minggu terakhir.
Bahkan, ia mengaku mulai mempelajari doa-doa khusus meski masih sering lupa.
“Persiapan haji sudah dua minggu lalu, sudah belajar doa-doanya, masih lupa juga,” katanya sambil tersenyum.
Keberangkatan Menkeu ini langsung menuai perhatian karena dilakukan di saat rupiah sedang berada dalam tekanan berat.
Berdasarkan data hingga Selasa siang, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.720 per dolar Amerika Serikat.
Angka tersebut menjadi salah satu pelemahan terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan sejumlah bank nasional dilaporkan menjual dolar AS di kisaran Rp17.675 hingga Rp17.810 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah disebut dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari penguatan dolar AS, ketidakpastian ekonomi dunia hingga arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Meski begitu, Purbaya mencoba menenangkan publik dengan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen.
Ia menyebut pertumbuhan itu tidak hanya ditopang belanja pemerintah, tetapi juga konsumsi masyarakat yang masih terjaga.
“Ekonomi kita masih baik, konsumsi masyarakat juga masih tumbuh,” ujarnya.
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga disebut terus melakukan koordinasi untuk menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar rupiah.
Purbaya mengungkapkan pemerintah mulai masuk secara bertahap ke pasar obligasi atau bond market guna menjaga sentimen investor dan menahan tekanan terhadap rupiah.
“Kita sudah masuk ke bond market bertahap. Asing juga sudah masuk juga, jadi seharusnya ke depan minggu-minggu ini akan lebih stabil,” jelasnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund.
Skema tersebut disiapkan untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah gejolak global.
Purbaya menyebut pemerintah berencana mengalirkan dana sekitar Rp2 triliun per hari ke pasar obligasi melalui mekanisme cash management.
Langkah itu diharapkan mampu memberikan sinyal positif kepada investor sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Namun di media sosial, keberangkatan Purbaya ke Tanah Suci tetap memicu beragam komentar dari netizen.
Sebagian mendukung niat ibadah dan doa untuk ekonomi Indonesia, namun tak sedikit yang menyindir kondisi rupiah yang terus melemah.
“Semoga doanya langsung tembus langit dan rupiah cepat balik kuat,” tulis salah satu netizen di X.
Komentar lain bernada satir juga bermunculan.
“Rupiah lagi babak belur, Menkeu berangkat haji. Semoga pulangnya dolar udah turun,” komentar akun lainnya.
Meski menjadi sorotan, Purbaya tampak tetap tenang menghadapi situasi ekonomi yang sedang bergejolak.
Ia optimistis kondisi pasar akan kembali stabil dalam beberapa pekan ke depan seiring langkah intervensi pemerintah dan Bank Indonesia.
Selain menjalankan ibadah haji, Purbaya menegaskan dirinya akan memanfaatkan momen spiritual di Tanah Suci untuk memanjatkan doa agar ekonomi Indonesia semakin kuat dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
Publik kini menanti apakah berbagai langkah stabilisasi yang disiapkan pemerintah benar-benar mampu menahan tekanan terhadap rupiah yang belakangan terus melemah di pasar global. []





