Jakarta, VIVA – Perkembangan teknologi digital perlahan mengubah cara generasi muda memandang kehidupan, termasuk dalam urusan spiritualitas. Jika dulu ibadah Haji identik dengan usia lanjut atau kondisi ekonomi yang sudah mapan, kini pandangan tersebut mulai bergeser di kalangan anak muda Muslim Indonesia.
Di tengah meningkatnya penggunaan platform digital dan media sosial, generasi muda kini semakin terbuka membicarakan tujuan hidup yang bersifat personal dan spiritual. Haji dan Umrah pun mulai dipandang bukan sekadar ibadah yang dilakukan di masa tua, melainkan cita-cita hidup yang ingin diwujudkan sejak dini.
Temuan ini terlihat dari survei terhadap pengguna platform gaya hidup Muslim, Muslim Pro, di Indonesia pada April 2025. Dalam survei tersebut, sebanyak 81 persen responden memilih kemudahan perencanaan Haji, Umrah, atau Zakat sebagai fitur yang paling diinginkan dalam akun tabungan berbasis syariah.
Di kelompok usia 23 hingga 39 tahun, permintaan terhadap fitur perencanaan religi, termasuk persiapan Haji, mencapai 66 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Fenomena tersebut dinilai mencerminkan perubahan budaya di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Di era digital, ruang daring kini tidak lagi hanya digunakan untuk hiburan atau interaksi sosial, tetapi juga menjadi tempat belajar agama, refleksi diri, hingga merencanakan tujuan hidup jangka panjang.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang pada 2024 atau sekitar 79,5 persen dari total populasi nasional.
Perubahan pola hidup digital itu ikut memengaruhi cara generasi muda memaknai kesuksesan. Jika generasi sebelumnya lebih banyak mengaitkan pencapaian hidup dengan kepemilikan aset, karier, atau keluarga, sebagian anak muda saat ini justru semakin menghargai pengalaman yang memiliki nilai emosional dan spiritual.
Bagi sebagian generasi muda Muslim Indonesia, Haji dan Umrah tidak lagi dipandang sebagai tujuan “nanti saat sudah mapan”, melainkan bagian dari cita-cita hidup yang ingin mulai diwujudkan sejak dini. “Kami melihat adanya perubahan perilaku yang signifikan,” ujar Group Managing Director dan CEO Muslim Pro Nafees Khundker, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu, 20 Mei 2026.





