TABLOIDBINTANG.COM - Nama Sarwendah kembali menjadi sorotan setelah dikaitkan dengan isu pesugihan Gunung Kawi yang ramai dibicarakan di media sosial. Menanggapi hal tersebut, pihak Sarwendah melalui kuasa hukumnya menegaskan tengah menelusuri video lama yang kembali beredar dengan narasi negatif.
Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, mengatakan timnya saat ini mengumpulkan dan mempelajari sejumlah video yang viral untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. Menurutnya, fokus utama mereka adalah mencari tahu apakah penyebaran video tersebut mengandung unsur pencemaran nama baik.
"Kami akan pelajari video-video yang beredar. Kalau memang video ini disebarkan atau memang diframing menjelekkan nama baik klien kami, kami pasti akan lakukan upaya hukum seperti yang sebelum-sebelumnya," ujar Chris Sam Siwu.
Chris menyebut pihaknya juga memantau sejumlah akun media sosial yang dinilai ikut menyebarkan narasi negatif terkait kliennya. Bahkan, ia menyinggung seseorang berinisial PM yang dianggap terlibat dalam video yang beredar.
"Kepada pihak yang memang ada di dalam video itu ya mungkin saya inisialkan PM ya. Itu kita lihat bahasanya seperti apa nanti kita lihat ya. Kalau memang ternyata hanya hal-hal yang sifatnya memang dia menyampaikan apa adanya, ya kita lihatlah masih bisa kita maafkan apa enggak," lanjut Chris Sam Siwu.
Meski demikian, pihak Sarwendah disebut masih membuka ruang komunikasi sebelum membawa perkara tersebut ke ranah hukum. Namun, apabila tudingan yang beredar dianggap tidak berdasar dan merugikan nama baik, proses hukum dipastikan akan ditempuh.
"Tetapi kalau memang sudah menjurus menjelekkan nama klien kami pasti kami akan proses, ya kami akan proses. Jelas-jelas kami akan proses hukum ya, kita akan lakukan langkah hukum yang mana sekali lagi klien kami tidak ingin terus-terusan ada pihak yang selalu menyudutkan," tegas Chris.
Sementara itu, Simon Abraham menilai informasi yang beredar terkait isu tersebut belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya. Ia menduga sejumlah pernyataan yang muncul hanya berdasarkan asumsi untuk menarik perhatian publik.
"Ya kami rasa itu suatu apa ya penyampaian-penyampaian yang cukup asal, tidak dengan fakta yang sebenarnya. Mungkin ya untuk mendatangkan ramai di situ begitu ya. Ya asumsi kami itu cuma sekadar penyampaian kosong belaka lah," tutup Simon Abraham.




