Wall Street Turun Tiga Hari Beruntun, Investor Tunggu Arah Kebijakan The Fed

eranasional.com
19 jam lalu
Cover Berita

Amerika, ERANASIONAL.COM – Wall Street kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (19/5) waktu Amerika Serikat, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta belum adanya kepastian terkait perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Tekanan terbesar terjadi pada indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi. Pelemahan tersebut menandai penurunan hari ketiga berturut-turut bagi Nasdaq dan S&P 500 setelah sebelumnya pasar sempat menikmati reli kuat sejak akhir Maret lalu. Investor kini mulai mengurangi eksposur pada saham-saham berisiko sambil menunggu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di tengah situasi global yang masih belum stabil.

Mengacu pada data perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 322,24 poin atau 0,65 persen ke level 49.363,88. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 49,44 poin atau 0,67 persen menjadi 7.353,61 dan Nasdaq Composite terkoreksi 220,02 poin atau 0,84 persen ke posisi 25.870,71.

Tekanan terhadap pasar saham AS tidak lepas dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang melonjak hingga menyentuh 4,687 persen, level tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan yield obligasi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Kondisi itu diperparah oleh harga minyak dunia yang masih berada di level tinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup turun sekitar 0,73 persen, harga minyak tetap bertahan di atas level USD 110 per barel. Pelaku pasar menilai harga energi yang mahal dapat memicu tekanan inflasi tambahan, terutama bagi perekonomian global yang masih menghadapi tantangan pemulihan.

Perhatian investor saat ini tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah muncul sinyal yang belum sepenuhnya jelas terkait upaya penghentian konflik di kawasan tersebut. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung pada Selasa menyusul adanya proposal baru dari Teheran untuk mengakhiri perang.

Namun demikian, pernyataan Trump berikutnya kembali memunculkan ketidakpastian setelah ia mengatakan bahwa Amerika Serikat kemungkinan masih perlu melakukan serangan terhadap Iran apabila situasi tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Di sisi lain, Iran dikabarkan tetap berharap tercapai kesepakatan guna menghentikan eskalasi konflik.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan bahwa pembicaraan antara kedua negara telah menunjukkan banyak kemajuan dan masing-masing pihak disebut tidak menginginkan kampanye militer kembali berlanjut. Meski begitu, pasar keuangan global masih menunggu langkah konkret yang dapat memberikan kepastian lebih besar terhadap situasi geopolitik tersebut.

Managing Director dan Equity Sales Trader Rosenblatt Securities, Michael James, mengatakan pasar sejauh ini belum melihat adanya perkembangan konstruktif yang benar-benar dapat menjamin terciptanya gencatan senjata permanen. Menurut dia, selama belum ada kepastian mengenai konflik di Timur Tengah, harga minyak dan imbal hasil obligasi kemungkinan akan tetap tinggi sehingga tekanan terhadap pasar saham masih berlanjut.

Ia menilai semakin lama konflik berlangsung tanpa perkembangan berarti, maka kekhawatiran investor akan terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa pasar saham AS mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Kenaikan yield obligasi pemerintah AS juga mendorong pasar mulai memperhitungkan peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuannya. Berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember kini mencapai 41,7 persen. Angka itu meningkat dibanding pekan sebelumnya. Sementara peluang kenaikan sebesar 50 basis poin naik menjadi 15,7 persen dari sebelumnya hanya 4,7 persen.

Investor kini menunggu risalah rapat kebijakan moneter terbaru Federal Reserve yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat. Dokumen tersebut akan menjadi perhatian utama pasar untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan bank sentral AS, termasuk sejauh mana para pejabat The Fed mendukung perubahan kebijakan menuju posisi yang lebih netral setelah sebelumnya cenderung longgar.

Portfolio Strategist Natixis Investment Managers Solutions, Garrett Melson, mengatakan perhatian utama pasar saat ini tertuju pada pergerakan suku bunga dan kecepatan kenaikannya. Menurut dia, pasar masih dapat menerima kenaikan suku bunga secara bertahap, namun lonjakan yang terlalu cepat biasanya memicu tekanan besar terhadap aset berisiko.

Di level sektoral, saham teknologi dan layanan komunikasi menjadi penekan utama indeks S&P 500. Kenaikan imbal hasil obligasi umumnya memberikan tekanan lebih besar terhadap saham teknologi karena valuasi perusahaan sektor tersebut sangat bergantung pada proyeksi pertumbuhan laba jangka panjang.

Sektor material menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah turun hampir 2,3 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan yang cenderung defensif justru memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 1,1 persen karena investor mulai beralih ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian pasar.

Indeks software S&P 500 yang sempat menguat pada awal perdagangan akhirnya ditutup turun 1,2 persen. Perdagangan saham semikonduktor juga bergerak fluktuatif sepanjang sesi sebelum akhirnya indeks Philadelphia Semiconductor ditutup nyaris stagnan dengan kenaikan tipis 0,03 persen setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 3 persen.

Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan raksasa chip kecerdasan buatan Nvidia yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu. Laporan tersebut dipandang penting karena dapat menjadi indikator kekuatan permintaan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang selama ini menjadi pendorong utama reli saham sektor teknologi.

Michael James menyebut investor sebenarnya sudah mulai bersiap menghadapi laporan Nvidia sejak awal pekan karena kinerja perusahaan tersebut kerap memengaruhi pergerakan pasar secara keseluruhan, khususnya saham-saham semikonduktor dan teknologi.

Di antara saham individual, Akamai Technologies tercatat menjadi salah satu saham dengan pelemahan terbesar setelah ditutup turun 6,3 persen usai perusahaan cloud tersebut mengumumkan penawaran obligasi konversi senilai USD 2,6 miliar.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun jauh lebih banyak dibanding saham yang naik. Di Bursa New York atau NYSE, rasio saham melemah dibanding menguat mencapai 2,66 banding 1. Sementara di Nasdaq, saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 2,07 banding 1.

Volume perdagangan di bursa saham Amerika Serikat tercatat mencapai 19,45 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di kisaran 18,38 miliar saham. Tingginya volume transaksi menunjukkan investor masih aktif melakukan penyesuaian portofolio di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan arah kebijakan moneter AS.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cek Lapak Pedagang, Bupati Jeje Jamin Kesehatan Hewan Kurban di Bandung Barat
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pemerintah Perpanjang Skema WFH Jumat hingga 2 Bulan ke Depan
• 52 menit lalukumparan.com
thumb
Siap Hadapi Atmosfer Kandang Persib, Mario Lemos Pastikan Persijap Siap Bertempur dengan Mentalitas Pemenang
• 21 jam lalubola.com
thumb
5 Poin Penting Kebijakan Ekspor Komoditas Wajib Lewat BUMN, Ini Mekanismenya
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
Energi dan Arsitektur Kebijakan Fiskal
• 4 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.