Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan kolaborasi riset bersama kampus Australia terkait dampak mikroplastik dan nanoplastik pada kesehatan ibu dan bayi.
Prof. Dr. dr. Eighty Mardiyan Kurniawati Dekan FK Unair menyebut, riset itu untuk menjawab ancaman lingkungan terhadap ibu dan bayi.
“Salah satu inisiatif utama yang sedang dikembangkan adalah kolaborasi riset terkait paparan mikroplastik dan nanoplastik serta dampaknya terhadap kesehatan ibu dan bayi, khususnya pada periode kehamilan dan persalinan,” ungkapnya lewat keterangan pers, Rabu (20/5/2026).
Riset itu, untuk mendalami sumber paparan lingkungan, distribusi mikroplastik pada jaringan maternal seperti plasenta, termasuk dampaknya terhadap luaran maternal dan neonatal.
“Inisiatif ini diharapkan dapat menghasilkan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung strategi pencegahan dan kebijakan kesehatan berbasis lingkungan,” bebernya.
Kolaborasi ke depan akan meluas ke isu perubahan iklim dan kesehatan maternal.
“Mengingat perubahan iklim semakin diakui sebagai determinan penting yang memengaruhi kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, dan ketahanan sistem kesehatan,” ungkapnya lagi.
Kolaborasi riset itu dilakukan kemarin, Selasa (19/5/2026) sekaligus Guest Lecture (Kuliah Tamu) bersama School of Public Health, Adelaide University, Australia.
Prof. Mohammad Afzal Mahmood Senior Lecturer & Deputy Postgraduate Coordinator Adelaide University atau pakar kesehatan masyarakat dalam kuliah tamu itu mengangkat tema “Sistem Pelayanan Kesehatan Kebidanan di Indonesia, Khususnya Peran dan Keterlibatan Tenaga Kesehatan pada Berbagai Level Layanan Kesehatan”.
Dia membahas tata kelola dan tantangan sistem pelayanan kesehatan kebidanan di Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) sangat bergantung pada efektivitas peran tenaga kesehatan di setiap tingkatan, mulai dari tingkat primer (Puskesmas dan Posyandu), sekunder (Rumah Sakit tipe C dan B), hingga tersier (Rumah Sakit rujukan utama).
“Keterlibatan aktif dan sinkronisasi peran antara bidan, dokter umum, hingga dokter spesialis obstetri dan ginekologi di semua level fasilitas kesehatan menjadi penentu utama kualitas luaran klinis yang diterima oleh ibu dan anak,” ujar Prof. Afzal.(lta/rid)




