Inggris dan AS Kompak Loloskan Minyak Rusia, Uni Eropa Ngamuk

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker minyak yang dikaitkan dengan Rusia di Samudra Atlantik Utara pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat. (AFP/HANDOUT)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Inggris secara resmi memutuskan untuk membebaskan impor bahan bakar diesel dan avtur yang diproduksi dari minyak mentah Rusia, dengan syarat telah melalui proses penyulingan di negara ketiga. Langkah kontroversial ini menyusul kebijakan serupa dari Amerika Serikat (AS) yang memperpanjang kelonggaran sanksi bagi Moskow.

Mengutip laporan dari The Guardian pada Rabu (20/05/2026), perang Rusia-Ukraina yang kini telah memasuki hari ke-1,547 diwarnai oleh kompromi ekonomi dari negara-negara Barat demi meredam gejolak inflasi di dalam negeri mereka.

Selama ini, minyak mentah Rusia dikirim ke sejumlah negara seperti India dan Turki untuk disuling, kemudian diekspor kembali sebagai produk lokal. Praktik pencucian minyak ini dinilai para kritikus sengaja dibiarkan sehingga Kremlin bisa terus mendulang pendapatan segar demi mendanai mesin perang mereka di Ukraina.


Otoritas Inggris menegaskan bahwa regulasi pelonggaran impor komoditas energi ini sengaja diberlakukan guna menekan lonjakan biaya hidup masyarakat domestik yang kian mencekik. Kebijakan ini juga diproyeksikan akan terus berjalan secara berkala dalam jangka waktu yang belum ditentukan.

"Aturan baru ini mulai berlaku pada hari Rabu dan akan berdurasi tanpa batas waktu, meskipun aturan tersebut akan ditinjau secara berkala dan dapat diubah atau dicabut," demikian bunyi pengumuman resmi dari Pemerintah Inggris.

Baca: Harapan Baru Perang AS-Iran, 2 Kapal Raksasa China Tembus Selat Hormuz

Uni Eropa Ngamuk ke AS

Keputusan pelonggaran sanksi sepihak yang ditempuh oleh Washington dan London langsung memicu gelombang protes keras dari sekutu barat lainnya, terutama blok Uni Eropa (UE). Otoritas moneter UE menilai langkah yang diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent tersebut sangat tidak tepat, karena dilakukan saat Rusia sedang menikmati keuntungan ekonomi yang melimpah akibat disrupsi energi global dari perang yang ikut berkecamuk di Iran.

"Dari sudut pandang Uni Eropa, kami tidak berpikir bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk meredakan tekanan terhadap Rusia," kata Komisaris Ekonomi Uni Eropa Valdis Dombrovskis dalam konferensi pers pada Selasa.

Dombrovskis menambahkan bahwa Rusia merupakan pihak yang paling diuntungkan dari perang di Iran serta lonjakan harga bahan bakar fosil saat ini. Ia juga menyindir dalih dari mitranya di Washington yang menyebut kebijakan ini hanya bersifat darurat.

"Menteri Bessent meyakinkan kami bahwa ini adalah tindakan sementara, tetapi kami tahu bahwa ini sudah merupakan perpanjangan kedua dari tindakan yang awalnya dimaksudkan hanya berlangsung selama 30 hari," ketus Dombrovskis.

Selain meloloskan produk diesel, Inggris pada Selasa juga meluncurkan lisensi khusus baru untuk memuluskan layanan transportasi maritim gas alam cair (LNG) dari proyek Sakhalin-2 dan Yamal milik Rusia. Lisensi yang mencakup jasa pengapalan, pembiayaan, hingga broker internasional tersebut akan terus diizinkan beroperasi secara legal di bawah hukum sanksi Rusia hingga tanggal 1 Januari 2027 mendatang.

Baca: Rusia-China Bersatu, Ini 3 Poin Pertemuan Baru Putin-Xi Jinping

Tensi Tinggi Rusia vs Baltik

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di garis depan dilaporkan melonjak tajam setelah Moskow melayangkan ancaman militer terbuka terhadap Latvia di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) menuduh Ukraina sedang menyusun strategi matang untuk meluncurkan gelombang serangan drone ke wilayah Rusia dengan memanfaatkan wilayah kedaulatan negara-negara Baltik, yakni Latvia, Lithuania, dan Estonia.

Aksi saling ancam ini memuncak saat perwakilan diplomatik Rusia menegaskan bahwa status keanggotaan pakta pertahanan NATO sama sekali tidak akan mampu melindungi negara-negara tersebut jika terbukti membantu militer Ukraina.

"Keanggotaan NATO tidak akan melindungi Anda dari pembalasan," ancam Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya dalam sidang umum PBB.

Ancaman keras dari utusan Kremlin tersebut langsung memicu reaksi balik yang sangat agresif dari perwakilan Amerika Serikat yang menegaskan komitmen mutlak mereka dalam membela sekutu-sekutunya di Eropa Timur.

"Tidak ada tempat untuk ancaman terhadap anggota dewan. Amerika Serikat memegang teguh semua komitmen NATO-nya," balas Duta Besar AS untuk PBB Tammy Bruce.

Sementara itu, perwakilan dari negara-negara Baltik merespons ancaman tersebut dengan santai dan menilai tuduhan Moskow sebagai bentuk keputusasaan militer semata.

Perwakilan Latvia menegaskan negaranya sama sekali tidak pernah mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk menyerang Rusia, sementara situasi di lapangan kian rumit setelah sebuah jet tempur F-16 NATO milik Rumania terpaksa menembak jatuh sebuah drone di atas langit Estonia akibat adanya gangguan sinyal elektronik dari militer Rusia.

"Kebohongan, disinformasi agresif, dan ancaman adalah tanda keputusasaan dan kelemahan," ujar Perwakilan Latvia untuk PBB Sanita Pavļuta-Deslandes.


(tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Q1 - Dunia Berburu Minyak Rusia

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WNI Relawan Global Sumud Flotilla Ditangkap Israel, Pakar: Jangan Sampai Israel Manfaatkan Indonesia
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Wanti-wanti Kesulitan Proses Hukum Jika Cuma BPK Hitung Kerugian Negara
• 2 jam laludetik.com
thumb
Wamenhan Sebut 400 Karyawan BUMN yang Digembleng TNI Punya IQ di Atas 120
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Timnas Indonesia Ketiban Durian Runtuh, Vietnam dan Malaysia Berpotensi Absen di FIFA Matchday
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo: Tiap Malam Puluhan Ribu Kapal Bendera Asing Ambil Kekayaan RI!
• 14 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.