BEKASI, KOMPAS.com — Ribuan peserta berpakaian hitam putih memadati Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (20/5/2026).
Sejak pagi, tribun stadion dipenuhi wajah-wajah muda dari berbagai daerah yang datang membawa harapan baru lewat seleksi program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk Koperasi Desa Merah Putih.
Di tengah lautan peserta itu, Afiful Haidar (25), pria asal Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat, datang dengan membawa harapan besar untuk masa depannya dan keluarganya.
Baca juga: Jeritan Guru dan Mahasiswa Keguruan di Surabaya: Penghapusan Honorer Hanya Memindahkan Masalah
Wajah Haidar tampak lelah usai menyelesaikan rangkaian Seleksi Kompetensi Teknis (SKT) yang berlangsung selama berjam-jam.
Namun di balik kelelahan itu, tersimpan semangat untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Haidar merupakan lulusan Sarjana Pendidikan Matematika.
Meski memiliki latar belakang pendidikan keguruan, ia mengaku belum pernah mengajar secara formal sejak menyelesaikan kuliah.
Baca juga: Sejumlah Guru Besar IPB Tawarkan Solusi Ilmiah untuk Atasi Krisis Global
“Setelah lulus kuliah, saya belum pernah menjadi guru. Menurut saya, gaji guru di Indonesia saat ini masih kurang. Sementara tanggungan saya sebagai anak pertama itu luar biasa,” ujar Haidar saat ditemui Kompas.com di Stadion Patriot Candrabhaga, Rabu.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Haidar merasa harus ikut membantu menopang ekonomi keluarga.
Kondisi itu membuatnya memilih mencari pekerjaan yang dinilai lebih menjanjikan secara finansial.
Bagi Haidar, mengikuti seleksi tersebut bukan sekadar mencari pekerjaan.
Baca juga: Massa Guru Madrasah Diterima Baleg DPR, Dijanjikan Aturan Baru soal Guru Swasta
Ada tanggung jawab keluarga yang terus ia pikirkan sejak melangkahkan kaki ke stadion pagi itu.
“Saya berharap program ini bisa mengembangkan potensi dan penghasilan. Dan saya bisa jadi sarjana penggerak yang punya dampak nyata di desa ataupun kelurahan,” kata dia.
Setelah lulus kuliah, Haidar sempat menjadi relawan di Dinas Sosial sebelum akhirnya bekerja di koperasi sekolah.
Pengalaman itulah yang membuatnya tertarik mendaftar sebagai calon manajer Koperasi Desa Merah Putih.