JAKARTA, KOMPAS.TV - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meminta industri perbankan tidak terburu-buru menaikkan suku bunga kredit meski Bank Indonesia baru saja menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Perry menegaskan bank perlu meningkatkan efisiensi agar fungsi intermediasi tetap berjalan dan penyaluran kredit ke masyarakat maupun dunia usaha tidak melambat.
“Kami meminta bank-bank juga meningkatkan efisiensi supaya jangan menaikkan suku bunga kredit. Efisiensi harus ditingkatkan supaya betul-betul mendorong kredit,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Bank Indonesia menilai kondisi likuiditas pasar uang dan perbankan saat ini masih lebih dari cukup. Salah satu langkah yang dilakukan BI adalah membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder agar aliran likuiditas tetap terjaga.
Sejak awal 2026 hingga 19 Mei 2026, BI tercatat telah membeli SBN senilai Rp140,57 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp73,28 triliun berasal dari pembelian di pasar sekunder.
Tak hanya itu, pertumbuhan Uang Primer (M0) juga masih berada di level tinggi. Pada April 2026, pertumbuhan M0 mencapai 14,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy), naik dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 11,8 persen.
Kredit Perbankan Tetap Tumbuh
Dari sisi industri perbankan, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) tercatat sebesar 25,39 persen. Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen secara tahunan pada April 2026.
Pertumbuhan kredit juga menunjukkan kenaikan. Pada April 2026, kredit perbankan tumbuh 9,98 persen yoy, lebih tinggi dibanding Maret 2026 sebesar 9,49 persen yoy.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada di kisaran 8 hingga 12 persen.
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- bank indonesia
- perry warjiyo
- suku bunga
- bunga kredit
- bi rate
- kredit bank





