Kisah Rinja, Siamang Betina yang Bertahan Hidup dengan Empat Peluru Angin di Tubuhnya

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Nasib malang dialami seekor Siamang (Symphalangus syndactylus) betina yang dievakuasi dari kawasan permukiman penduduk di Dusun 4 Beringin Jaya, Pekon Way Panas, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, pada awal Mei 2026. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan, ada empat peluru senapan angin yang bersarang di tubuh satwa liar itu.

Kepala Seksi Konservasi SDA Wilayah III Lampung Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Itno Itoyo mengatakan, evakuasi terhadap siamang dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari sejumlah warga yang resah dengan kemunculan satwa sejak tiga bulan lalu. Menurut warga setempat, siamang itu sudah beberapa kali menyerang dan menggigit warga setempat.

Karena alasan itulah, tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu bersama dokter hewan dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mengevakuasi siamang. Proses evakuasi berlangsung selama tiga hari, yakni pada Rabu-Jumat (4–6/5/2026).  Proses penyelamatan satwa itu juga melibatkan aparat dari Polri/TNI serta aparatur desa setempat.

Siamang itu dievakuasi ke Sumatran Wildlife Center di Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Siamang betina itu lantas diberi nama Rinja.

Setelah sekitar satu pekan menjalani rehabilitasi, kabar mengagetkan datang saat tim dokter hewan dari Yayasan Jaringan Satwa Indonesia melaporkan hasil pemeriksaan medis dan foto rontgen satawa liar itu. Dari hasil pemeriksaan ditemukan empat butir peluru senapan angin bersarang di dalam tubuh satwa tersebut.

Tim medis pun langsung melakukan pengananan untuk mengangkat peluru yang bersarang pada bagian kepala, leher, dan punggung. Hingga saat ini, siamang itu masih menjalani perawatan intensf.

“Secara umum kondisi siamang betina bernama Rinja itu stabil. Namun, masih ada satu peluru angin yang bersarang di tubuhnya. Saat ini, tim medis masih melakukan observasi secara berkelanjutan,” kata Itno saat dikonfirmasi, pada Rabu (20/5/2026).

Dia menjelaskan, peluru angin yang belum bisa diangkat bersarang di bagian pinggul. Letak peluru yang berada jauh di dalam tubuh membuat tim medis belum dapat melakukan operasi karena berisiko pada keselamatan satwa.

Selain menangani luka tembak, tim medis juga melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan lanjutan terhadap siamang itu. Pemeriksaan tuberkulosis (TB) tahap pertama dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, baik dalam kondisi laten maupun aktif. Saat ini, Rinja masih menjalani masa observasi di kandang isolasi untuk keperluan pemeriksaan tahap berikutnya.

“Sudah di lakukan uji TB dan hasilnya negatif, tapi tim kesehatan tetap melakukan uji TB lanjutan,” katanya.

Itno menambahkan, tim medis juga mengambil sampel serum darah untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan ada atau tidaknya paparan virus rabies. Langkah itu dilakukan karena ada laporan bahwa siamang tersebut pernah menggigit warga setempat. Pemeriksaan darah lengkap juga dibutuhkan untuk keperluan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kesehatan satwa tersebut.

Baca JugaGajah dan Harimau Ditemukan Mati di Hutan Produksi yang Dirambah di Bengkulu
Ancam kelestarian

Sementara itu, Kepala BKSDA Bengkulu Agung Nugroho menyampaikan keprihatinannya atas kondisi yang dialami siamang betina tersebut. Agung menegaskan bahwa tindakan melukai satwa liar dilindungi melanggar hukum dan mengancam kelestarian satwa hingga keseimbangan ekosistem.

“Peristiwa ini menunjukkan masih adanya ancaman serius terhadap kelestarian satwa liar di habitat alaminya. Siamang merupakan satwa dilindungi yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Kami berharap seluruh elemen masyarakat bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap konservasi satwa liar dan menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap satwa,” kata Agung.

Dia menjelaskan, siamang termasuk satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Siamang juga berstatus Endangered atau terancam punah dan masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) akibat hilangnya habitat dan ancaman perburuan.

Sampai kini, pelaku penembakan terhadap siamang itu pun sulit untuk diungkap. Saat ini, petugas BKSDA fokus pada upaya penyelamatan satwa sesuai dengan kewenanganannya.

Kendati begitu, BKSDA terus berkoordinasi dengan intansi lain untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. “Peristiwa ini menjadi perhatian bersama, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan,” ujarnya.

Baca JugaKonflik Satwa dengan Manusia Terus Berulang di Lampung, Rehabilitasi Ekosistem dan Sosial Mendesak
Kawasan hutan

Selama ini, siamang liar umumnya memang akan menjelajah hutan untuk mencari wilayah dan pasangan baru. Dalam masa penjelajahan tersebut, satwa liar rentan mengalami interaksi negatif dengan manusia.

Apalagi lokasi evakuasi siamang memang berada di kawasan hutan lindung Register 30 Gunung Tanggamus yang dikelola Unit Pelaksana Teknik Daerah Kawasan Pengelolaan Hutan Kotaagung Utara. Dari pengakuan warga, ada tiga ekor siamang yang kerap terlihat di mendekat ke permukiman yang didirikan warga di dalam kawasan hutan. Namun, hanya satu ekor siamang yang terbiasa diberi makan oleh masyarakat.

Dia menjelaskan, interaksi langsung masyarakat dengan satwa liar, termasuk memberi makan, dapat memicu perubahan perilaku alami satwa dan meningkatkan potensi konflik antara manusia dengan satwa liar. Kebiasaan warga memberi makan satwa liar dapat memengaruhi perubahan perilaku satwa hingga menjadi bergantung pada manusia.

“Meski tampak jinak, naluri liar satwa tetap ada dan sewaktu-waktu dapat muncul, terutama ketika merasa terganggu, terancam, atau memasuki masa birahi. Karena itu, menjaga jarak dan tidak memberi makan satwa liar menjadi langkah penting demi keselamatan manusia maupun kelestarian satwa itu sendiri,” katanya.

Menurut dia, satwa yang terbiasa memperoleh makanan dari manusia juga bakal kehilangan sifat alaminya dan menjadi bergantung pada manusia. Ketergantungan terhadap manusia dapat memicu konflik yang membahayakan masyarakat maupun satwa itu sendiri.

Empat peluru yang bersarang di tubuh Rinja tentu bukan sekadar tanda kekejaman pemburu pada satwa liar. Luka itu sekaligus menjadi jejak rapuhnya hubungan manusia dengan satwa liar yang terus berebut ruang hidup.

Kali ini, Rinja memang dapat diselamatkan sehingga dapat bertahan hidup. Namun, kisahnya menyisakan tanya, berapa banyak satwa liar lain yang terluka di dalam hutan?

Baca JugaKonflik Manusia dengan Harimau

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak hanya Kagum dengan Keramahan Warga Lombok, Gubernur Malut Sherly Tjoanda Beli Kain Batik Khas Pulau Seribu Masjid
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Persija Jakarta Gagal Juara Super League Musim Ini, Manajer Siap Mundur
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Anak Muda Wajib Tahu! Ini Cara Menyikapi Kenaikkan BI-Rate Agar Keuanganmu Tetap Aman
• 44 menit lalumedcom.id
thumb
Daftar Larangan Bagi Orang yang Berkurban
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kemlu Prioritaskan Pembebasan 9 WNI yang Ditangkap Israel
• 2 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.