JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang hewan kurban bernama Kastono (51) di bawah kolong tol Ir. Wiyoto Wiyono, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, tak pernah kehabisan akal setiap tahunnya untuk membuat dagangannya laku.
Hampir empat tahun meneruskan bisnis almarhum ayahnya yang sudah berjalan 16 tahun, Kastono selalu memiliki strategi-strategi unik untuk memikat pembeli.
Sejak pertengahan 2023, ia membuka salon sapi untuk para hewan kurbannya agar memikat pembeli.
Di salon itu, sapi-sapi hewan kurban di lapak dagangannya bisa dimandikan, dipijat, dan dirawat kukunya.
Selain untuk menarik pembeli, layanan perawatan itu juga dipercaya bisa membuat sapi terhindar dari stres yang membuat bobotnya turun drastis.
Dengan mendapat perawatan, Kastono yakin bobot sapi yang dijualnya bisa terus bertambah sampai Iduladha nanti.
Baca juga: Nyentriknya Emak-emak Bertopi Koboi Jadi SPG Sapi Kurban
Pakai SPG emak-emakStrategi marketingnya untuk menarik pembeli tak hanya sampai di situ.
Tahun ini, Kastono sengaja merekrut emak-emak berusia di atas 30 tahun untuk menjadi Sales Promotion Girls (SPG) dagangan hewan kurbannya.
Sejauh ini ada sekitar empat emak-emak yang menjadi SPG di lapak Kastono setiap Sabtu, Minggu, dan Senin.
Sebab, di tiga hari tersebut pembeli hewan kurbannya kerap membeludak dan Kastono sering kewalahan.
Bukan sekedar emak-emak, Kastono juga memilih SPG yang penampilannya menarik, komunikatif, dan fotogenik, meski usianya sudah tak lagi muda.
Selain itu, ia juga mewajibkan para SPG-nya mengenakan pakaian koboi ketika bertugas melayani tamu.
"Tahun ini kami tambahkan lagi sesuatu yang unik dan menarik, yaitu kami menghadirkan tenaga pemasar atau SPG dengan kostum koboi," ujar Kastono ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (20/5/2026).
Ia mengaku, nekat mendandani SPG hewan kurbannya dengan pakaian koboi, karena terinspirasi dengan konten-konten di media.
Di mana para penggembala sapi seringkali menggunakan pakaian koboi dengan topi khas dan sepatu bootsnya.
Selain menarik, pakaian koboinya itu juga bisa membuat penampilan para SPG-nya menjadi lebih rapi ketika menyambut pelanggan.
Kastono mengaku, sengaja merekrut ibu-ibu dibandingkan SPG muda, karena ingin msreka memiliki penghasilan tambahan.
Di sisi lain, pekerjaan tersebut tidak lah mengikat, sehingga para SPG bisa masuk ketika memiliki waktu luang saja.
Sebelum mulai bekerja, Kastono juga memberikan edukasi kepada SPG-nya terkait jenis-jenis sapi dan kambing yang dijual.
Setelah mendapat edukasi yang cukup, SPG itu baru bisa bekerja seperti menyambut tamu, mempromosikan hewan kurban yang ada, menjelaskan jenis dan lain sebagainya.
Baca juga: Viral Makan Badan Trotoar, Lapak Kambing Kurban di Karet Tengsin Jakpus Ditertibkan





