VIVA –Menteri Keamanan Israel, Itamar Ben-Gvir mendapat kecaman publik dunia usai mengunggah video kekerasan terhadap 430 aktivis Global Sumud Flotilla di akun X miliknya Rabu 20 Mei waktu setempat. Dalam video yang diunggah Ben-Gvir memperlihatkan petugas menjambak rambut seorang aktivis perempuan hingga terduduk di lantai setelah dia meneriakkan ‘Free Free Palestine’.
Video tersebut juga menunjukkan puluhan aktivis yang ditahan sedang berlutut dalam barisan dengan tangan diikat kabel ties di belakang tubuh mereka, di area yang tampak seperti fasilitas pelabuhan terbuka di Israel. Sementara itu di area itu terlihat tentara bersenjata laras panjang berjaga dari atas kapal militer.
“Mereka datang merasa seperti pahlawan besar,” kata Ben-Gvir dalam video sambil berjalan melewati para aktivis dan membawa bendera besar Israel dikutip dari laman Reuters, Kamis 21 Mei 2026.
Ben-Gvir juga menyindir bahwa aktivis tersebut saat ini sudah tidak berdaya di tangan militr Israel.
“Lihat mereka sekarang. Lihat bagaimana keadaan mereka sekarang, bukan pahlawan dan bukan apa-apa,” kata dia lebih lanjut.
Sikap Ben-Gvir memicu kritik keras bahkan dari dalam koalisi pemerintahan Israel sendiri. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, membagikan ulang video tersebut dan menuduh Ben-Gvir merugikan Israel.
“Anda telah merusak upaya besar, profesional, dan sukses yang dilakukan begitu banyak pihak mulai dari tentara IDF, staf Kementerian Luar Negeri, hingga banyak lainnya,” tulis Saar.
Aktivis Dibawa ke Penjara Israel
Para aktivis yang berada di kapal bantuan pada misi-misi sebelumnya dan sempat dicegat diketahui dideportasi setelah ditahan.
Israel menyatakan para aktivis yang berada di armada kapal bantuan terbaru itu telah dipindahkan ke kapal milik Israel dan akan diizinkan bertemu perwakilan konsuler negara masing-masing setelah tiba di Israel. Penyelenggara armada menyebut peserta berasal dari 40 negara dengan total 50 kapal yang ikut dalam misi tersebut.
Kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, mengatakan dalam pernyataannya bahwa para aktivis saat ini ditahan di pelabuhan Ashdod.
“Pengacara Adalah bersama tim relawan telah memasuki fasilitas pelabuhan dalam beberapa jam terakhir, memberikan konsultasi hukum kepada mereka, dan akan terus menuntut pembebasan segera tanpa syarat,” tulis Adalah dalam pernyataannya.





