Rahasia umur panjang mungkin bukan memperlambat penuaan, melainkan menjaga sistem tubuh yang tepat tetap berfungsi.
Oleh Rachel Ann T. Melegrito
Pada kebanyakan orang, protein yang menjaga ketahanan sel—mengatur sistem kekebalan, energi, dan peradangan—secara bertahap kehilangan keseimbangannya seiring bertambahnya usia. Namun, dalam sebuah studi baru di Swiss terhadap para lansia berusia 100 tahun, sebanyak 37 protein tetap berada dalam kondisi “muda.”
Biologi Penuaan—Mengapa Berbeda pada Setiap Orang
Penuaan memengaruhi setiap orang secara berbeda. Meskipun banyak lansia menghadapi penyakit kronis dan kelemahan fisik, sebagian lainnya tetap sangat sehat bahkan hingga usia lebih dari 100 tahun. Para ilmuwan telah lama menduga bahwa faktor genetik memegang peranan besar. Namun penelitian baru menunjukkan bahwa jawabannya lebih spesifik dan lebih dapat diterapkan daripada sekadar faktor gen.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Aging Cell ini menganalisis darah para centenarian—orang yang berusia 100 tahun atau lebih—dan membandingkan profil protein imun serta kardiometabolik mereka dengan orang dewasa sehat berusia 30 hingga 60 tahun, serta lansia yang dirawat di rumah sakit berusia 80 hingga 90 tahun. Menggunakan proteomik, teknik yang mengukur ratusan protein sekaligus, tim peneliti memeriksa bagaimana kadar protein berubah sepanjang hidup untuk mengidentifikasi jalur biologis yang mungkin menjelaskan ketahanan luar biasa pada usia sangat lanjut.
Para centenarian memiliki 583 protein dengan tingkat ekspresi yang berbeda dibandingkan dua kelompok lainnya. Di antara protein tersebut, 37 protein menonjol karena mempertahankan kadar yang lebih mendekati orang dewasa muda daripada lansia pada umumnya—pola yang sejalan dengan temuan studi besar lain tentang centenarian dan biomarker penuaan yang telah dikenal.
“Studi ini memperkuat prinsip utama dalam ilmu umur panjang: penuaan luar biasa bukan berarti lolos dari penurunan biologis, tetapi menjaga mekanisme pengatur penting tertentu tetap bertahan,” kata Sou Ahdjoudj Orlando, ilmuwan umur panjang dan pendiri AION Life, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, kepada The Epoch Times.
Sistem Biologis yang Menolak Menua
Ke-37 protein tersebut dikelompokkan dalam lima proses biologis utama:
- Pembersihan Sel
Enam protein berkaitan dengan apoptosis, yaitu proses pembersihan sel-sel yang rusak. Pembuangan sel “zombie” yang tidak berfungsi secara efisien dapat membantu mencegah peradangan kronis dan mengurangi risiko kanker.
- Stres Oksidatif
Lima protein yang berkaitan dengan stres oksidatif ditemukan dalam kadar lebih rendah pada centenarian, temuan yang awalnya tampak bertentangan dengan dugaan umum. Menurut Orlando, kadar protein antioksidan yang lebih rendah kemungkinan menunjukkan bahwa sel mengalami lebih sedikit stres sejak awal, bukan karena sistem pertahanannya melemah. Ia menyebutnya sebagai “tanda ketahanan, bukan sekadar perlawanan.”
Dr. Gabriel Alizaidy, pakar umur panjang dan kedokteran presisi, mencatat bahwa empat dari 37 protein tersebut—SOD1, PRDX3, HMOX1, dan GLRX—mengarah pada perlindungan mitokondria. Mitokondria menghasilkan energi, tetapi juga menghasilkan spesies oksigen reaktif yang menumpuk dan merusak sel seiring waktu. Ketika mitokondria bekerja secara efisien, mereka menyediakan energi yang stabil sambil menghasilkan lebih sedikit molekul berbahaya, sehingga membantu membatasi kerusakan sel, terutama pada jaringan yang membutuhkan energi besar seperti sel otak.
“Keempat protein ini membersihkan kerusakan tersebut melalui mekanisme yang berbeda, dan fakta bahwa semuanya tetap berada pada tingkat muda secara bersamaan pada para centenarian menunjukkan bahwa ketahanan mitokondria bukan sekadar faktor tambahan dalam penuaan luar biasa, melainkan tema utama yang konsisten,” kata Alizaidy.
- Integritas Jaringan dan Pengendalian Glukosa
Protein yang mendukung sel dan membantu mempertahankan posisinya membentuk kelompok lain, yang kemungkinan berkontribusi pada integritas struktur jaringan dan mungkin juga perlindungan terhadap kanker.
Dalam kelompok ini, DPP-4, enzim yang memecah glucagon-like peptide-1—hormon yang merangsang pelepasan insulin—tetap terjaga pada centenarian. Meski hal ini tampak bertentangan mengingat peran insulin dalam menurunkan gula darah, para penulis studi menyarankan bahwa centenarian mungkin mampu mempertahankan keseimbangan glukosa tanpa sinyal insulin yang berlebihan, mencerminkan metabolisme yang teratur secara halus, bukan terlalu aktif.
- Pengaturan Energi
Kelompok lain mencakup pengaturan metabolisme, termasuk protein yang membantu mengelola keseimbangan energi dan pengendalian glukosa. Salah satunya adalah adenylate kinase 1, yang mengatur AMPK, sensor energi seluler yang aktif ketika energi rendah dan membantu sel menghemat sumber daya.
“Jika Anda pernah mendengar tentang metformin, berberin, atau manfaat metabolik dari olahraga dan pembatasan kalori, maka Anda telah mendengar hal-hal yang sebagian bekerja melalui aktivasi AMPK,” kata Alizaidy.
- Kesehatan Otak dan Sistem Imun
Kelompok lain berkaitan dengan sinyal neurotropik—jalur yang mendukung kelangsungan hidup sel saraf dan fungsi otak—serta pengaturan sistem imun. Hal ini memperkuat gagasan bahwa umur panjang yang luar biasa mungkin bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan di berbagai sistem biologis secara bersamaan.
Alizaidy mencatat bahwa studi ini berskala kecil dan bersifat observasional, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Panel protein yang dianalisis juga terbatas pada peradangan dan kardiometabolisme.
“Kita belum tahu apakah protein-protein ini benar-benar menyebabkan umur panjang luar biasa atau hanya mencerminkan sistem biologis yang sejak awal memang sudah bekerja dengan baik karena alasan lain,” katanya. Namun, ia menambahkan bahwa arah temuan ini sejalan dengan data independen lain mengenai centenarian.
Gaya Hidup Tetap Penting
Meskipun faktor genetik mungkin menjadi dasar, cara seseorang menjalani hidup selama puluhan tahun tetap menjadi faktor dominan.
“Para centenarian dalam studi ini adalah hasil dari sistem tubuh yang selama puluhan tahun bekerja lebih bersih dibanding rata-rata,” kata Alizaidy. “Dan sebagian besar itu bergantung pada cara mereka hidup.”
Orlando mengidentifikasi tiga prinsip biologis yang secara langsung berkaitan dengan pola biologis yang tetap terjaga pada para centenarian:
Stabilitas Metabolik: Latihan kekuatan, aktivitas fisik harian, asupan protein yang cukup, dan menghindari makan berlebihan secara kronis membantu menjaga kestabilan pengendalian glukosa dan keseimbangan hormon.
Mengurangi Peradangan: Tidur yang memulihkan, komposisi tubuh yang sehat, serta pola makan kaya serat dan padat nutrisi membantu mengurangi beban peradangan sistemik dari waktu ke waktu.
Kesehatan Mitokondria: Aktivitas fisik teratur, pengelolaan stres, serta menghindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan membantu menurunkan stres oksidatif dan meningkatkan ketahanan sel.
Alizaidy menambahkan bahwa beberapa terapi yang telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sudah bekerja pada jalur biologis yang berkaitan dengan ketahanan tubuh. Ia mencontohkan peptida SS-31, obat penelitian yang mendukung fungsi mitokondria, serta agonis glucagon-like peptide-1 dosis rendah, yang telah disetujui FDA untuk diabetes dan pengelolaan berat badan. Terapi tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan metabolik, dengan perbaikan kadar lipid, gula darah, dan peradangan bahkan tanpa penurunan berat badan.
Orlando mengatakan bahwa temuan ini masih memerlukan validasi jangka panjang dalam skala lebih besar, namun hasil tersebut menambah bukti yang berkembang bahwa umur panjang bergantung pada kemampuan menjaga sistem biologis penting tetap berfungsi dari waktu ke waktu.
“Umur panjang pada akhirnya mungkin tidak terlalu bergantung pada menghilangkan penuaan, melainkan lebih pada mengidentifikasi dan mempertahankan sistem biologis yang menua lebih lambat,” katanya.
Rachel Melegrito pernah bekerja sebagai terapis okupasi dengan spesialisasi kasus neurologis. Ia juga mengajar mata kuliah ilmu dasar dan terapi okupasi profesional di universitas. Pada 2019, ia meraih gelar magister dalam perkembangan dan pendidikan anak. Sejak 2020, Melegrito banyak menulis topik kesehatan untuk berbagai publikasi dan merek.





