FAJAR, MAKASSAR — Setelah memperkuat kerja sama transformasi digital bersama Minjiang University dan Ruijie Networks di Fuzhou, Republik Rakyat Tiongkok.
Rombongan Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menghadirkan langkah yang sarat nilai kemanusiaan dan persaudaraan lintas bangsa.
Melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ) Yayasan Wakaf UMI, keluarga besar UMI menyalurkan donasi sebesar Rp500 juta atau setara RMB 196.000 kepada Masjid Fuzhou sebagai bentuk kepedulian, ukhuwah Islamiyah, dan penguatan hubungan kemanusiaan antarumat Muslim dunia.
Donasi tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, M.A., didampingi Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, S.E., M.Si., serta Direktur LAZ Yayasan Wakaf UMI, Dra. Hj. Nurjaya, S.H., M.H., dan diterima langsung oleh Direktur Masjid Fuzhou, Mr. Pu Lixin.
Di tengah rangkaian kunjungan internasional UMI di Cina yang sebelumnya, berfokus pada pengembangan smart campus, transformasi digital, kecerdasan buatan, dan jejaring pendidikan global.
Kekuarga besar UMI juga menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan reputasi internasional harus tetap berjalan berdampingan dengan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.
Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, menyampaikan bahwa perjalanan internasional UMI bukan hanya tentang membangun kerja sama akademik, tetapi juga membawa misi persaudaraan dan kebermanfaatan.
“Kami datang tidak hanya membawa donasi, tetapi membawa salam persaudaraan dari keluarga besar UMI untuk saudara-saudara Muslim di Fuzhou. Karena bagi kami, kampus bukan hanya tempat membangun ilmu dan teknologi, tetapi juga tempat merawat nilai kemanusiaan, ukhuwah, dan kepedulian lintas bangsa,” ujarnya.
Menurut Prof. Masrurah, bantuan tersebut merupakan amanah dari para muzakki, sivitas akademika, alumni, dan donatur LAZ Yayasan Wakaf UMI yang selama ini mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya untuk dikelola secara profesional dan disalurkan kepada yang membutuhkan.
“Kami percaya, pendidikan yang besar harus melahirkan hati yang besar. Dan UMI ingin terus hadir bukan hanya sebagai kampus yang berkembang secara global, tetapi juga kampus yang membawa manfaat dan persaudaraan dunia,” tambahnya.
Direktur LAZ Yayasan Wakaf UMI, Dra. Hj. Nurjaya, S.H., M.H., menegaskan bahwa penyaluran bantuan tersebut menjadi simbol bahwa nilai solidaritas umat tidak mengenal batas negara dan bahasa.
“Bantuan ini adalah bagian dari semangat kebermanfaatan yang terus dijaga UMI. Kami ingin menunjukkan bahwa dakwah kemanusiaan juga bisa hadir melalui kampus dan lembaga pendidikan,” ungkapnya.
Direktur Masjid Fuzhou, Mr. Pu Lixin, menyampaikan apresiasi dan rasa haru atas perhatian yang diberikan keluarga besar UMI.
“Kami sangat tersentuh dengan dukungan ini. Ini bukan hanya bantuan material, tetapi simbol persaudaraan yang sangat hangat dari saudara-saudara Muslim di Indonesia,” tuturnya.
Dalam suasana silaturahmi yang penuh keakraban tersebut, pembahasan kemudian berkembang pada peluang kerja sama pendidikan internasional.
Universitas Muslim Indonesia membuka kesempatan bagi mahasiswa Muslim asal Tiongkok untuk melanjutkan studi di UMI melalui jalur rekomendasi dari Masjid Fuzhou.
Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah kecil yang memiliki makna besar bagi masa depan hubungan pendidikan dan persaudaraan internasional.
“Awalnya kita datang membawa bantuan, tetapi ternyata Allah membuka ruang persaudaraan yang lebih luas. Dari masjid ini, InsyaAllah akan lahir jembatan ilmu, budaya, dan ukhuwah antara Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa UMI ingin terus hadir sebagai kampus yang membangun reputasi internasional tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan keislamannya.
Delegasi UMI juga menyampaikan penghormatan yang tinggi terhadap kemajuan Republik Rakyat Tiongkok, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.
Hal tersebut dinilai berhasil menghadirkan transformasi besar di bidang pendidikan, teknologi, dan pembangunan peradaban modern.
Bagi UMI, pengalaman Cina menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh visi pendidikan jangka panjang, disiplin kolektif, dan kemampuan membangun harmoni global melalui ilmu pengetahuan dan kerja sama kemanusiaan.
Karena itu, UMI berharap hubungan akademik dan persaudaraan yang mulai terbangun di Fuzhou dapat menjadi bagian penting dari jembatan persahabatan Indonesia–Tiongkok yang lebih kuat, damai, dan berorientasi pada masa depan generasi dunia.
Rangkaian kunjungan UMI di Fuzhou, Cina, kini menghadirkan wajah yang lengkap tentang arah besar universitas: membangun transformasi digital, memperluas jejaring global, memperkuat reputasi akademik, sekaligus menjaga ruh kemanusiaan dan persaudaraan lintas bangsa.
Karena bagi UMI, kampus masa depan bukan hanya kampus yang canggih secara teknologi, tetapi juga kampus yang tetap memiliki hati untuk manusia.
Karena UMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak. (wis)





