REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memprihatinkan dari waktu ke waktu. Wilayah Palestina itu masih merasakan kebiadaban genosida yang dilakukan Israel. Ini memperparah situasi penjajahan yang rakyat setempat alami sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.
Lembaga filantropi Qudwah Indonesia mengungkapkan, krisis pangan di Jalur Gaza tak kunjung mereda. Menjelang Idul Adha 1447 H/2026 M, sekira 95 persen dari keseluruhan jumlah hewan ternak di wilayah tersebut musnah. Padahal, momen hari raya tersebut semestinya menjadi kesempatan bagi rakyat setempat untuk mendapatkan lebih banyak protein hewani.
Baca Juga
Pakar Ungkap Tantangan Besar Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia
Membangun Resiliensi di Balik Kenaikan BI Rate
KUHAP Baru Dinilai Jadi Momentum Reformasi Hukum Nasional
Melihat situasi tersebut, Qudwah Indonesia mengajak umat Islam memperkuat solidaritas kemanusiaan melalui program "Qurban Strengthening 2026." Ini difokuskan untuk membantu masyarakat di wilayah krisis, terutama Jalur Gaza.
Presiden Direktur Qudwah Indonesia Lukman Hakim mengatakan, program "Qurban Strengthening" hadir untuk membangun semangat kolaborasi dan sekaligus menghadirkan manfaat qurban bagi masyarakat yang membutuhkan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kurban bukan hanya ibadah personal, tetapi juga bentuk solidaritas dan penguatan harapan bagi saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,” ujar Lukman Hakim dalam keterangan tertulis pada Rabu (20/5/2026).
Sementara itu, aktivis kemanusiaan Amar Ar-Risalah mengungkapkan bahwa kehancuran sektor peternakan di Gaza berdampak besar terhadap ketersediaan pangan masyarakat.
“95 persen hewan ternak di Gaza sudah hancur akibat perang,” katanya.
Menurut Amar, kondisi tersebut membuat warga Gaza sangat membutuhkan bantuan pangan, terutama daging yang dapat membantu pemenuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan korban luka.
“Kebutuhan protein di Gaza sangat tinggi,” ucapnya.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)