Provinsi Sumatra Selatan, penghasil batu bara terbesar kedua di Indonesia, membidik pengembangan beberapa industri, termasuk sawit untuk tumpuan ekonomi masa depan. Ini guna mengantisipasi agenda global yaitu transisi dari energi fosil, termasuk batu bara.
Kepala Seksi Konservasi Energi Dinas Energi di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sumatera Selatan Ira Rihatini menjelaskan, perkebunan sawit adalah perkebunan paling luas di Sumatra Selatan, setelah karet. Industri sawit dipandang strategis seiring kebijakan pemerintah memanfaatkan minyak sawit untuk campuran solar alias biodiesel.
“Kami di Provinsi Sumatera Selatan menyebutkan sawit itu adalah sumber energi masa depan, energi hijau,” kata dia dalam diskusi Transisi Energi Berkeadilan di Jakarta, pada Rabu (20/5).
Menurut dia, kondisi lahan di Sumatra Selatan cocok untuk sawit. “Kondisi geografi atau tanahnya itu rawa, nah tanaman yang bisa tumbuh di rawa ini adalah sawit. Tanaman yang lain agak sulit untuk hidup di tanah rawa,” ujar Ira.
Sebab, di tanah rawa, tanah mengandung asam lebih tinggi dan tanaman lebih sering terendam air. “Kebetulan sawit merupakan tanaman yang tangguh,” ucapnya.
Pengembangan sawit direncanakan lewat peningkatan produktivitas di perkebunan yang sudah ada alias tanpa menambah luas. Ira mencontohkan, bila sebuah perusahaan dengan konsesi 15.000 hektare baru memanfaatkan 12.000 hektare untuk ditanami, maka sisanya harus dikembalikan ke pemerintah. Lahan tersebut nantinya akan dikelola melalui skema perkebunan rakyat.
Perkebunan diharapkan bisa menghasilkan kualitas buah yang lebih baik agar bisa menghasilkan produk turunan yang bernilai. Untuk yang kualitasnya rendah bisa dimanfaatkan untuk gas biometana. “Biometana itu juga nanti diharapkan bisa menjadi pengganti LPG atau gas untuk industri,” ujarnya.
Alternatif lainnya, memanfaatkan minyak kelapa sawit untuk bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan: bioavtur. Sejatinya, bioavtur telah dikembangkan Pertamina dengan memanfaatkan used cooking oil atau minyak jelantah. Produknya telah dipasarkan meski belum masif.
Namun menurut Ira, jika mengandalkan minyak jelantah, maka akan sulit untuk memproduksinya dalam jumlah besar. “Mungkin sulit untuk mengumpulkan minyak jelantahnya, jadi lebih mudah mengumpulkan minyak kelapa sawit mentah,” kata dia.
Gubernur Sumatera Selatan telah menetapkan surat keputusan tentang pembentukan Forum Konsultasi Daerah untuk Percepatan Transformasi Ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan.
Forum ini akan memimpin rencana percepatan transformasi ekonomi yang telah ditetapkan melalui 12 sektor program. “Yang diharapkan nanti dapat menghasilkan PAD (Penghasilan Asli Daerah), menggantikan (hasil batu bara) biar pun tidak secara total,” ujar Ira.
Selain dari industri sawit, pemeritah berencana untuk menggenjot PAD dari komoditas kopi, karet, udang vaname, serat alami, ikan gabus, dan ikan patin. Ikan gabus dan patin ini juga terkait dengan pengembangan kuliner di daerah yang terkenal dengan pempek ini.
Selain itu, pariwisata dengan daya tarik pegunungan, air terjun, dan sungai yang menjalar di wilayah tersebut bakal dioptimalkan.
Dari aspek energi, Sumatera Selatan berencana memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) dan sampah untuk menghasilkan listrik. Ira mengatakan, dari potensi 21.032 megawatt EBT, baru 5,12 persen yang dimanfaatkan.




