Cerita Ibunda Angga Prasadewa soal Putranya yang Ditangkap Pasukan Israel dalam Misi Kemanusiaan

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

Sutrawati Kaharuddin gelisah. Firasatnya terhadap putra sulungnya, Andi Angga Prasadewa sudah tak enak.

WIDYAWAN SETIADI
Makassar

Dia menduga terjadi sesuatu kepada anaknya tersebut, saat menempuh perjalanan menuju Gaza, Palestina. Hal itu dirasakan perempuan 52 tahun itu beberapa hari sebelum video viral putranya beredar.

Video itu yang memberitahu bahwa rombongan anaknya telah diculik oleh tentara Israel. Sutrawati mengaku, firasat itu sudah mulai dirasakan sejak kabar kapal kemanusiaan dari Turki lepas jangkar menuju Gaza.

Kegelisahan yang dia rasakan berubah menjadi ketakutan nyata. Nalurinya sudah memberi tanda bahwa putranya memang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

“Waktu itu saya mulai curiga karena WhatsApp anak saya sudah centang satu. Biasanya dia selalu jawab pesan saya. Saya bilang ke dia, ‘Kakak, Bunda khawatir. Hati-hati di sana, banyak istighfar dan selalu minta perlindungan sama Allah’. Tapi setelah itu sudah tidak ada balasan lagi,” tuturnya Sutrawati, kemarin.

Putranya memang ikut dalam misi kemanusiaan menuju Gaza melalui jalur laut, dari Pelabuhan Marmaris, Turki. Menurut informasi yang dia terima, Angga tergabung dalam rombongan puluhan kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina.

Sutrawati makin gelisah, bahkan sebelum komunikasi kepada putranya benar-benar terputus. Dia sempat terbangun menjelang subuh dengan perasaan tidak tenang, beberapa saat sebelum putus komunikasi.

“Saya memang sudah ada firasat malam itu. Subuh-subuh saya bangun dan hati saya sudah tidak enak. Makanya waktu lihat WhatsApp anak saya cuma centang satu, saya langsung gemetaran,” lanjut ibu dua anak itu.

Rasa cemasnya makin kuat ketika Angga sebelumnya sempat menitip pesan kepada adik perempuannya. Kata dia, Angga menyampaikan jika suatu saat tidak bisa lagi dihubungi, kemungkinan telepon genggamnya sudah dibuang ke laut demi alasan keamanan.

“Dia bilang ke adiknya, kalau kakak sudah tidak bisa dihubungi, jangan kaget, HP kakak sudah dibuang ke laut. Terus tiba-tiba muncul video-video itu, saya langsung bilang, ‘Ya Allah, ini anakku sudah ditangkap,” katanya sembari menahan tangis.

Di tengah cuaca yang terik, mata Sutrawati justru mendung. Bulir-bulir air mata seperti memaksa untuk jatuh, namun dia berusaha menahannya. Dia juga mengaku sempat menolak permintaan izin Angga untuk mengikuti misi kemanusiaan tersebut.

Namun begitu, dia memahami betul karakter anak sulungnya itu yang sejak lama memiliki jiwa sosial tinggi.

“Awalnya saya tidak kasih izin. Tapi dia bilang ini panggilan hatinya. Saya tahu kalau sudah soal kemanusiaan, dia sangat serius. Saya akhirnya cuma bisa bilang, ‘Bismillah, Bunda cuma bisa mendoakan’,” ungkapnya.

Aksi sosial bukan hal baru bagi Angga. Pria kelahiran Januari 1993 itu telah lama aktif sebagai relawan kemanusiaan. Dia pernah bergabung dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana), menjadi relawan di lembaga kemanusiaan, hingga mengajar karate bagi anak-anak.
Kini, dia tergabung dalam kelompok Rumah Zakat, yang juga berangkat ke Gaza. “Jiwa sosialnya memang tinggi sekali. Bahkan setelah lulus sekolah, dia memilih jadi relawan dulu. Dia pernah tinggal bersama teman-temannya di lembaga kemanusiaan dan mengajar anak-anak di sana,” tuturnya.

Selain itu, perjalanan kemanusiaan juga bukan pengalaman pertama bagi Angga. Anaknya itu sudah beberapa kali ke luar negeri dalam kegiatan serupa, termasuk ke Kairo, Mesir.

Kali ini berbeda. Ketegangan konflik Gaza membuat Sutrawati terus dihantui rasa takut sejak anaknya berangkat dari Makassar, usai Idulfitri, Maret 2026. Sutrawati berharap, pemerintah dapat membantu membebaskan putranya dan relawan lain yang dikabarkan disandera oleh tentara Israel.

“Saya mohon pemerintah segera membantu membebaskan anak saya. Anak saya bukan teroris, dia aktivis kemanusiaan. Dia ke sana cuma membawa obat-obatan dan bantuan untuk warga Palestina yang kelaparan,” pintanya.

Hingga kini dirinya belum mendapat informasi dan komunikasi langsung dari pemerintah. Informasi yang diterimanya justru berasal dari lembaga kemanusiaan tempat Angga bernaung, Rumah Zakat.

“Dari awal pihak lembaga yang terus menghubungi saya dan bilang mereka akan bertanggung jawab atas keselamatan anak saya. Jadi saya sangat berharap anak saya bisa kembali sehat dan selamat tanpa kekurangan apa pun,” harapnya.

Dari rumah sederhana yang terletak di Jl Yusuf Daeng Ngawing, Kota Makassar, doa ibu terus dirapalkan. Setiap detik, Sutrawati menunggu kabar baik tentang putranya yang berlayar membawa bantuan kemanusiaan, namun kini justru berada di tengah bayang-bayang konflik dan penahanan.

“Saya cuma minta semua orang mendoakan anak saya. Dia pergi karena ingin membantu orang yang susah. Semoga Allah lindungi dan pulangkan dia dengan selamat,” ungkapnya.

Di tengah kesedihan ini, secercah harapan muncul melalui Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM). Mereka bergerak cepat mendesak pemerintah untuk mengambil sikap dan membebaskan para tersandera, termasuk Angga yang juga alumni IMMIM.

Koordinator Presidium Pengurus Pusat IAPIM, Armin Toputiri menyampaikan, pihaknya telah melayangkan surat kepada pemerintah, melalui DPD RI dan DPR RI. Itu dilakukan, sebab dia tahu betul para wakil rakyat bisa mendesak pemerintah untuk bertindak secara cepat dan tepat.

“Bukan melalui komisi lagi, tetapi direct person to person. Mulai dari Abdul Waris Halid, Tamsil Linrung, Andi Ichsan, semua di DPD saya kasih surat. Termasuk juga teman-teman yang di DPR, sudah saya sampaikan semua,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan, surat nomor 0137/B/SIKAP/PP-IAPIM/V/2026 itu dianggap penting dilayangkan. Bukan karena Angga sebagai sesama alumni IMMIM semata, tetapi juga karena kemanusiaan. Mereka adalah warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan perlindungan dari negara.

Itu sebabnya, mereka meminta pemerintah mengambil langkah cepat atas tindakan militer Zionis Israel yang telah menyandera kapal milik Global Sumud Flotilla (GSF), serta menawan para penumpang berisi rombongan aktivis kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), yang berlayar membawa bantuan kemanusian untuk rakyat di Gaza.

“Adapun salah satu di antara tujuh relawan kemanusiaan internasional yang ditawan ialah Andi Angga Prasadewa, lahir 16 Januari 1993, merupakan anggota kami yang tergabung di organisasi Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM) Makassar, Angkatan 2005-2011,” tulisnya.

Oleh karena itu, mereka menyampaikan sikap secara organisatoris yang memuat dua poin penting. Pertama mengecam keras tindakan militer Zionis Israel yang telah melakukan penyanderaan kapal, serta menahan para penumpangnya dan dijadikan tawanan. Padahal mereka aktivis kemanusiaan internasional yang bermaksud membawa bantuan kemanusiaan untuk rakyat di Gaza.

“Sehingga, atas tindakan militer Zionis Israel dimaksud, secara nyata telah melakukan pelanggaran Hukum Humaniter Internasional,” jelasnya.

Kedua mereka mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk sesegera mungkin menempuh diplomasi serta mengambil tindakan nyata, untuk menyelamatkan dan mengembalikan tujuh WNI aktivis kemanusiaan internasional dimaksud ke tanah air. “Khususnya anggota kami Andi Angga Prasadewa,” tegasnya. (wid/zuk)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Lanjutkan Perjuangan Tata Kelola Royalti Digital di Forum Hak Cipta Dunia
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Solusi Bangun  (SMCB) Bubarkan Tiga Anak Usaha Tak Aktif
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Wakil Uskup TNI-Polri Audiensi ke Kedubes Vatikan
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Andalkan Ekosistem Ritel Berkelanjutan, Imago Mulia (LFLO) Kantongi Laba Bersih Rp20,3 Miliar
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
KKP Berhasil Bujuk AS Hapus Hambatan Ekspor Rajungan
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.