JAKARTA, KOMPAS.TV - Lipstick effect menjadi perbincangan di media sosial belakangan ini. Banyak warganet menilai fenomena ini berkaitan dengan kondisi ekonomi Indonesia, termasuk melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS.
Salah satu unggahan yang ramai datang dari akun X @T***** yang menyoroti kondisi pusat perbelanjaan.
“Kalian ngerasa nggak sih, mall masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun tersebut.
Baca Juga: Kebakaran Pusat Perbelanjaan di Teheran, 8 Orang Tewas dan 36 Lainnya Terluka | KOMPAS PETANG
Unggahan tersebut memicu diskusi, sebagian warganet mengaitkan fenomena tersebut dengan lipstick effect.
Apa Itu Lipstick Effect?
Mengutip Journal of Personality and Social Psychology, lipstick effect merupakan fenomena yang muncul ketika kondisi ekonomi melemah, tetapi konsumsi terhadap barang-barang kecil yang bersifat “memanjakan diri” justru tetap bertahan atau bahkan meningkat. Secara sederhana, lipstick effect adalah kecenderungan konsumen untuk tetap membeli barang kecil yang memberikan kepuasan emosional, meskipun mereka menahan pengeluaran besar.
Barang tersebut biasanya bukan kebutuhan utama, tetapi masih tergolong terjangkau. Beberapa barang meliputi kosmetik, parfum, kopi kekinian, hingga makan di luar.
Di sisi lain, pembelian besar seperti rumah, mobil, atau investasi jangka panjang justru ditunda karena ketidakpastian ekonomi. Fenomena ini banyak terjadi pada kelompok kelas menengah yang mengalami tekanan daya beli.
Alih-alih berhenti belanja sepenuhnya, mereka mengalihkan konsumsi ke “kemewahan kecil” (affordable luxury) sebagai bentuk kompensasi psikologis. Istilah lipstick effect sering dikaitkan dengan pemikiran Juliet Schor dalam bukunya The Overspent American (1998), yang membahas pola konsumsi masyarakat modern.
Penulis : Switzy Sabandar Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- Lipstick Effect
- Lipstick Effect adalah
- Belanja
- Kaum menengah





