Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh kisaran Rp17.685 mulai menjadi perhatian pelaku industri otomotif nasional. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan potensi kenaikan harga mobil di Indonesia.
Namun, PT Toyota Astra Motor (TAM) memastikan belum ingin buru-buru menyesuaikan harga kendaraan. Produsen otomotif asal Jepang itu mengaku masih berusaha menahan dampak pelemahan kurs agar tidak langsung dirasakan konsumen.
Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Bansar Maduma, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan nilai tukar dolar terhadap rupiah. Menurut dia, Toyota berupaya agar kenaikan biaya akibat kurs tidak sepenuhnya dibebankan kepada pelanggan.
“Di kondisi saat ini, seperti diketahui bahwa dolar sudah sangat tinggi. Namun yang pasti kami selalu monitor. Kami tidak mau bahwa ini semua dibebankan oleh customer, jadi kita terus monitor,” kata Bansar.
Sikap tersebut menunjukkan Toyota masih memilih menjaga stabilitas pasar dibanding langsung menaikkan banderol kendaraan.
Baca Juga: Gandeng CATL dengan Investasi Rp1,3 Triliun, Toyota Siap Produksi Baterai Mobil Hybrid di Indonesia
Tekanan dari penguatan dolar memang cukup besar bagi industri otomotif. Meski banyak model Toyota diproduksi di dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi, masih ada sejumlah komponen dan material yang didatangkan dari luar negeri.
Ketika kurs dolar naik, biaya pengadaan komponen impor otomatis ikut meningkat. Situasi itu akhirnya berpengaruh terhadap total ongkos produksi kendaraan.
Tidak hanya itu, industri otomotif juga memiliki rantai pasok global yang saling terhubung. Artinya, dampak kurs tetap dirasakan walaupun proses perakitan kendaraan dilakukan di Indonesia.
Bansar menjelaskan Toyota juga terus berkoordinasi dengan seluruh jaringan industri untuk menghadapi kondisi tersebut. Mulai dari supplier, manufaktur, hingga prinsipal global Toyota disebut ikut mencari solusi bersama.
“Khususnya kalau misalkan kenaikan dolar, pastinya kita akan bekerjasama dengan Toyota Group. Kita bukan hanya kami sebagai distributor, tapi juga kami disupport oleh manufacturer dan juga supplier,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses produksi kendaraan melibatkan banyak lapisan industri, mulai dari supplier Tier 3, Tier 2, Tier 1, manufaktur, distributor, sampai dealer. Karena itu, strategi menghadapi pelemahan rupiah harus dilakukan secara menyeluruh.
Toyota juga menilai menjaga harga tetap kompetitif penting untuk mempertahankan kepercayaan konsumen. Sebab, kenaikan harga mobil yang terlalu tinggi berisiko membuat masyarakat menunda pembelian kendaraan baru.
Baca Juga: Cetak Rekor Baru, Penjualan Global Toyota Tembus 10,48 Juta Unit pada Tahun 2025
“Kita akan semaksimal mungkin, untuk bisa mengurangi impact yang terjadi di customer. Sehingga customer juga lebih trust kepada merek Toyota, dan tidak akan meninggalkan mereka,” kata Bansar.
Meski demikian, peluang penyesuaian harga kendaraan tetap ada apabila tekanan kurs berlangsung dalam waktu lama. Jika biaya produksi terus meningkat, produsen kemungkinan akan melakukan penyesuaian secara bertahap sesuai kondisi pasar dan model kendaraan yang terdampak.
Untuk saat ini, Toyota memilih fokus menjaga daya beli konsumen sambil mencari cara agar dampak penguatan dolar tidak terlalu besar terhadap harga mobil di Indonesia.





