Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi B DPRD Jatim, Hadi Setiawan mendorong petani di Jawa Timur mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia dan beralih menggunakan pupuk organik. Dia menilai tersebut penting untuk menjaga kualitas tanah pertanian sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pangan di Jawa Timur.
“Lahan pertanian itu setiap tahun mengalami penyusutan kualitas. Salah satu penyebabnya adalah rusaknya ekosistem tanah akibat bahan-bahan kimia yang masuk ke dalam tanah,” kata Hadi Setiawan, Kamis (21/5/2026).
Menurut Hadi, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus berpotensi merusak unsur alami dalam tanah sehingga berdampak terhadap produktivitas lahan dalam jangka panjang. Dia menyebut momentum masa tanam dan panen saat ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan pola pertanian ramah lingkungan kepada para petani.
“Kami beberapa kali berdiskusi dengan petani yang memakai pupuk organik, hasilnya juga sangat luar biasa,” ujarnya.
Ketua Partai Golkar Kabupaten Kediri itu mengatakan petani selama ini masih bergantung pada pupuk kimia karena dianggap lebih praktis dan cepat. Namun, menurut dia, keberlanjutan lingkungan dan kesuburan tanah harus menjadi perhatian bersama demi menjaga ketahanan pangan daerah.
“Pertanian tidak hanya bicara hasil panen hari ini, tetapi juga bagaimana lahan tetap subur untuk generasi berikutnya,” katanya.
Selain mendorong penggunaan pupuk organik, Hadi juga meminta pemerintah daerah melalui dinas pertanian lebih aktif memberikan pelatihan kepada masyarakat dan kelompok tani. Dia menilai edukasi terkait pembuatan dan penggunaan pupuk organik perlu diperluas agar petani memiliki alternatif yang mudah diterapkan di lapangan.
“Seharusnya pemerintah daerah mulai berpikir dan mendorong penggunaan bahan-bahan alami dalam pertanian,” ujarnya.
Hadi juga mengingatkan penggunaan bahan kimia berlebihan berpotensi berdampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Meski demikian, dia menyebut kajian ilmiah lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengukur dampak penggunaan pupuk kimia secara menyeluruh.
“Kita perlu mulai membangun kesadaran bersama agar pertanian tetap produktif tanpa merusak lingkungan dan kualitas tanah,” pungkasnya.[asg/aje]




