Ebola adalah penyakit dengan tingkat fatalitas tinggi yang menyebar melalui berbagai cara.
IDXChannel—Setelah ramai isu soal virus hanta, kini wabah virus Ebola di Kongo dan Uganda juga ramai diperbincangakan. Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik, Ayman Alatas, membagikan penjelasan tentang virus ini melalui cuitannya di Twitter (X).
Lewat unggahan di akun pribadinya, dr. Ayman menjelaskan bahwa World Health Organization (WHO) baru saja menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai “public health emergency of international concern” atau darurat kesehatan global.
“Apa itu Bundibugyo? Strain Ebola yang jarang dan sudah jadi darurat kesehatan global,” tulis dr. Ayman membuka utasnya.
Berbeda dengan wabah Ebola sebelumnya yang banyak didominasi oleh strain Zaire, kali ini penyebaran disebabkan oleh strain Bundibugyo, yang tak lain adalah salah satu virus orthobola penyebab penyakit Ebola.
Menurut dr. Ayman, Ebola adalah penyakit dengan tingkat fatalitas tinggi yang menyebar melalui berbagai cara. Seperti kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, material yang terkontaminasi, hingga jenazah pasien yang meninggal akibat penyakit tersebut.
Dokter Ayman juga menjelaskan beberapa gejala terpapar virus Ebola, seperti:
- Demam
- Nyeri tubuh
- Kelemahan
- Muntah
- Perdarahan (di beberapa kasus)
“Gejala awal meliputi demam, nyeri tubuh, kelemahan, dan muntah, yang dalam beberapa kasus diikuti dengan perdarahan,” tulisnya.
Sementara itu, tingkat kematian strain Bundibugyo ini diperkirakan mencapai 30-40 persen. Hingga kini, pengobatan yang tersedia masih sebatas perawatan suportif.
Ayman juga menjelaskan bahwa wabah kali ini adalah outbreak Bundibugyo terbesar yang pernah terdokumentasi, di mana telah tercatat 246 kasus suspek dengan 80 kematian.
Kondisi ini menunjukkan virus diduga telah menyebar selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum akhirnya terdeteksi secara resmi. Dokter Ayman pun mengimbau beberapa upaya pencegahan seperti protokol keselamatan hingga pelacakan kontak.
“Pencegahan melalui protokol keselamatan, surveilans ketat, pelacakan kontak, dan engagement komunitas menjadi strategi kontrol utama dalam mengatasi situasi yang kompleks ini,” jelasnya.
Hal ini juga sejalan dengan komitmen Kementerian Kesehatan yang beberapa waktu lalu menegaskan tidak ditemukan virus Ebola di Indonesia. Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes juga melakukan berbagai pencegahan seperti:
- Penyiagaan petugas kesehatan di lapangan
- Memperkuat skrining pelaku perjalanan
- Menyiapkan prosedur rujukan ke rumah sakit berstandar internasional apabila ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada Ebola
Seluruh laporan dari pintu masuk negara juga akan dipantau selama 24 jam melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).
Selain itu, kapasitas laboratorium nasional disebut juga disiagakan penuh untuk mendukung deteksi cepat dan respons dini.
(Nadya Kurnia)





