FAJAR, SURABAYA — Bernardo Tavares mungkin sudah meninggalkan PSM Makassar, tetapi bayangannya belum benar-benar pergi dari sepak bola Indonesia. Kini, pelatih asal Portugal itu justru mulai terlihat sebagai ancaman paling serius bagi dominasi Bojan Hodak bersama Persib Bandung musim depan.
Di Surabaya, sebuah proyek besar perlahan sedang dibangun.
Persebaya Surabaya tampaknya tidak lagi sekadar ingin finis di papan atas. Target mereka jauh lebih besar: memutus dominasi Persib dan kembali menjadi penantang utama gelar Super League 2026/2027.
Dan semua itu berpusat pada satu nama: Bernardo Tavares.
Saat membawa PSM Makassar juara beberapa musim lalu, Bernardo dikenal sebagai pelatih yang mampu membangun tim dengan identitas kuat meski berada dalam keterbatasan finansial. Ia tidak selalu memiliki skuad paling mahal, tetapi berhasil menciptakan kolektivitas, disiplin, dan mental bertarung yang sangat kuat.
Kini, tantangan berbeda menunggunya di Surabaya.
Jika di Makassar ia sering harus berjuang dengan keterbatasan, maka di Persebaya ia berpotensi mendapatkan dukungan finansial dan kedalaman skuad yang lebih kompetitif.
Itulah yang membuat banyak pengamat mulai melihat Persebaya sebagai calon penantang paling serius musim depan.
Apalagi manajemen Green Force sudah memberi sinyal akan “jor-joran” di bursa transfer demi membangun skuad yang lebih dalam.
Evaluasi terhadap empat pemain rekrutan era Bernardo pada putaran kedua musim ini menjadi pertanda awal revolusi tersebut.
Nama seperti Jefferson Silva justru mendapat dukungan kuat untuk dipertahankan. Bek kiri asal Brasil itu dianggap cocok dengan filosofi permainan agresif Bernardo Tavares. Ia aktif membantu serangan, stabil bertahan, dan punya intensitas tinggi sepanjang pertandingan.
Sementara Gustavo Fernandes dinilai memiliki profil ideal untuk memperkuat pertahanan Persebaya musim depan. Dengan postur tinggi dan kemampuan duel udara yang kuat, ia bisa menjadi fondasi lini belakang yang lebih kokoh.
Yang menarik justru ada pada Bruno Paraiba.
Meski menit bermainnya tidak terlalu banyak, kontribusi empat gol dan dua assist dalam waktu singkat menunjukkan efektivitas yang sulit diabaikan. Bernardo dikenal menyukai pemain multifungsi, dan Bruno memiliki fleksibilitas bermain di beberapa posisi.
Sebaliknya, Pedro Matos tampaknya menjadi pemain yang paling terancam dilepas setelah gagal memberi dampak signifikan.
Namun lebih dari sekadar mempertahankan atau melepas pemain, yang sedang dibangun Persebaya sebenarnya adalah struktur baru.
Rumor kedatangan sejumlah eks pemain PSM seperti Yuran Fernandes, Victor Luiz, hingga Reza Arya Pratama memperlihatkan bagaimana Bernardo ingin membentuk tim dengan chemistry yang sudah teruji.
Jika sebagian besar target itu berhasil didatangkan, Persebaya bisa memiliki fondasi permainan yang matang bahkan sebelum musim dimulai.
Situasi ini tentu menjadi ancaman nyata bagi Persib Bandung.
Musim ini, Bojan Hodak berhasil membawa Persib tetap stabil lewat kedalaman skuad dan mental juara. Tetapi dominasi dalam sepak bola jarang bertahan lama ketika rival mulai membangun kekuatan secara serius.
Dan Persebaya kini terlihat menuju ke arah itu.
Dengan basis suporter besar, dukungan finansial yang lebih kuat, serta pelatih yang sudah terbukti mampu membangun tim juara, Green Force perlahan mulai memiliki semua elemen untuk menantang gelar.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Bernardo Tavares bisa sukses di Surabaya.
Melainkan: seberapa cepat ia mampu mengubah Persebaya menjadi mesin juara baru yang mengguncang dominasi Persib Bandung?





