Medco: Gas Jadi Jawaban Ketahanan Energi yang Pragmatis saat Gejolak Geopolitik

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Seiring dengan kondisi ekonomi global yang kian sulit diterka, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) telah mengambil ancang-ancang untuk menjamin keberlanjutan bisnis sekaligus menjaga ketahanan energi nasional jauh dari kata terguncang.

CEO Medco Energi, Roberto Lorato, menyoroti isu ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia menjadi salah satu aral melintang bagi industri hulu migas, terutama di Indonesia.

"Ketegangan geopolitik global saat ini menciptakan tantangan tambahan berupa gangguan rantai pasok, isu ketahanan energi, serta volatilitas harga komoditas yang sangat ekstrem," ungkapnya saat Global Excecutive Talk di IPA Convex ke-50, Rabu (20/5).

Roberto menjelaskan bahwa Medco mengembangkan portofolio melalui tiga bisnis utama, yaitu minyak dan gas bumi, ketenagalistrikan, serta pertambangan tembaga dan emas.

Namun, dia menegaskan migas tetap menjadi tulang punggung utama perusahaan dengan produksi operasional lebih dari 350.000 barel setara minyak per hari (boepd). Pasalnya, perusahaan menilai peran hidrokarbon masih sangat penting di masa depan, meski terdapat disrupsi rantai pasok saat ini.

"Kami berupaya membangun perusahaan yang siap menghadapi realitas tersebut dengan menjadi lebih disiplin, lebih selektif, dan memiliki pandangan yang jelas mengenai peran hidrokarbon yang masih akan menjadi bagian penting dalam bauran energi Asia selama beberapa dekade ke depan," jelas Roberto.

Dari total 16 aset migas yang sudah beroperasi baik di dalam maupun luar negeri, mayoritas produksi Medco adalah gas bumi sebesar 72 persen dan 28 persen sisanya adalah minyak bumi, menjadikannya sebagai salah satu tulang punggung produksi gas nasional.

Roberto menyebutkan bahwa peranan gas bumi bukan lagi sebagai solusi alternatif bagi ketahanan energi di Asia, melainkan sudah menjadi jawaban yang pragmatis. Menurutnya, transisi energi di kawasan ini akan dibangun melalui kombinasi gas dan energi terbarukan.

"Gas mampu menggantikan batu bara, mendukung kestabilan energi terbarukan yang sifatnya intermiten, serta memenuhi kebutuhan di pasar yang permintaan listriknya masih tumbuh jauh lebih cepat dibanding rata-rata negara OECD," tegasnya.

Portofolio yang Selektif

Roberto menyebutkan Medco secara selektif mengakuisisi aset produksi dalam skala besar. Sebab, menurutnya, ketika sumber daya yang mudah diperoleh semakin habis, maka skala dan kualitas aset menjadi faktor utama yang menentukan kekuatan portofolio.

"Kami lebih memilih aset-aset matang di mana kami dapat mengambil kendali operasional, memiliki kepastian fiskal, serta melihat potensi pengembangan sebelum melakukan investasi," jelasnya.

Pada November 2025, Medco resmi mengakuisisi 45 persen hak partisipasi sekaligus menjadi operator di Blok Sakakemang menggantikan Repsol. Aksi korporasi ini berdampak pada penambahan produksi migas sekitar 127.000 boepd di Sumatera bagian selatan.

Perusahaan juga mengempit 80 persen hak partisipasi di Blok South Sakakemang dan 40 persen di PT Transportasi Gas Indonesia (TGI). Sebelumnya, perusahaan juga meningkatkan kepemilikan saham di Blok Corridor dari Repsol sebesar 24 persen, menjadi 70 persen.

Bahkan, Roberto menyebutkan salah satu karakteristik strategi perusahaan dalam 10 tahun terakhir adalah bertumbuh melalui akuisisi dan merger yang ekstensif. Namun, dia juga memastikan perusahaan tetap melakukan kegiatan eksplorasi.

"Setelah memilih lokasi, negara, dan aset, kami kemudian memfokuskan sumber daya dan kapabilitas kami untuk memperpanjang umur cadangan melalui pengembangan dan eksplorasi yang disiplin," tutur Roberto.

Dengan demikian, dia menegaskan bahwa bisnis gas menjadi fokus utama perusahaan untuk mencapai pertumbuhan permintaan energi paling kuat di kawasan Asia, sekaligus di pasar dengan margin yang relatif lebih tangguh menghadapi siklus ekonomi.

Strategi Konservatif

Kendati begitu, Roberto menyebutkan bahwa di saat perekonomian dunia yang penuh gejolak ini, perusahaan akan tetap mempertahankan strategi pengelolaan keuangan yang konservatif.

"Dalam lingkungan bisnis yang penuh volatilitas, alokasi modal menjadi semakin penting. Kami menjaga disiplin biaya, dengan biaya produksi yang kompetitif secara global, serta menjalankan pengelolaan neraca keuangan secara konservatif sesuai siklus industri yang tengah berlangsung," tegasnya.

Senada, SVP Business Support Medco Energi, Iwan Prajogi, menjelaskan komitmen perusahaan menjaga keuangan dengan konservatif untuk mengurangi beban yang lebih berat bagi keberlangsungan bisnis ke depannya.

"Kalau bicara mengenai volatilitas, kalau bicara mengenai gejolak, kita selalu menempatkan kita secara konservatif. Tetapi, bukan berarti bahwa kemudian kita tidak take action juga. Kalau kita melihat ada potensial upset, pasti itu akan kita manfaatkan," ungkapnya saat diskusi di sela-sela IPA Convex ke-50.

Situasi geopolitik yang memanas menimbulkan gejolak pada harga minyak mentah dunia, yang akhirnya merembet kepada harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP). Pada April 2026, ICP ditetapkan sebesar USD 117 per barel.

Di tengah kondisi tersebut, Iwan mencontohkan strategi konservatif perusahaan yakni dengan mengurangi beban utang, namun di sisi lain tetap melihat peluang akselerasi proyek yang dapat berdampak positif bagi keuangan.

"Salah satunya bisa kita lakukan adalah mengurangi beban ke utang kita, tapi kita juga lihat apakah ada capital-capital proyek yang bisa diakselerasi, yang memberikan positif impact kepada bisnis Medco Energi," jelasnya.

Adapun Medco mencatat peningkatan produksi migas hingga 18 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni mencapai 170.000 boepd.

Selain Blok Sakakemang dan Blok Corridor, perusahaan juga fokus mengembangkan aset di daerah lain. Misalnya di Sulawesi, Senoro Phase 2A ditargetkan beroperasi penuh pertengahan tahun ini.

Sementara di tingkat regional, Bualuang Phase-1 di Thailand dijadwalkan on stream pada kuartal II 2026. Perusahaan juga memperluas peran strategis melalui operatorship Cendramas PSC di Malaysia yang akan efektif di September 2026.

Ancaman Pasokan Global dan Solusinya

Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran tak hanya berdampak pada pasokan dan harga minyak, tapi juga mengancam gas bumi, termasuk gas alam cair (LNG) global imbas penutupan Selat Hormuz turut mengganggu perdagangan LNG.

Perang di Iran menjadi gangguan di pasar gas terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Invasi Rusia ke Ukraina pada empat tahun lalu menciptakan gejolak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perdagangan gas internasional, menghilangkan Moskow dari pasar ekspor terbesar, memicu volatilitas, dan memicu rekor lonjakan harga di Eropa dan wilayah lain.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mencanangkan kebijakan baru, yakni memberikan subsidi terhadap penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk rumah tangga. Sebab, bahan bakunya tersedia di dalam negeri.

“CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah. Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan, dikutip Rabu (6/5).

Bahlil menilai, pengembangan CNG sangat penting mengingat kebergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih cukup besar, yaitu sekitar 75-80 persen dari total kebutuhan. Sementara konsumsi LPG nasional terus meningkat setiap tahun, termasuk untuk kebutuhan rumah tangga yang mencapai sekitar 7-8 juta ton.

Sementara itu, Asosiasi Perusahaan Liquefied & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) mencatat kapasitas produksi CNG di Indonesia cukup besar yakni mencapai 50 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).

"Kapasitas produksi CNG di Indonesia saat ini mencapai sekitar 30—50 mmscfd atau 10.800-18.000 mmscf per tahun," ungkap Bendahara Umum APLCNGI, Tori, saat dihubungi kumparan, Sabtu (9/5).

Dengan berbagai tantangan dan solusi yang dihadirkan pemerintah tersebut, peran gas bumi semakin vital bagi ketahanan energi nasional maupun secara internasional. Hal ini menjadikan masa depan industri hulu gas semakin terang benderang dan turut menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Simak Ketentuan Pengunjung Acara Waisak Nasional Borobudur 2026
• 8 jam laludetik.com
thumb
Dirut Terra Drone Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Batal Ibadah Haji Tahun Ini, Jadwal Ulang Berangkat Tahun Depan
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kasus Pencurian Kabel BTS, Tiga Warga Banyumas Ditangkap
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemprov Sumut Terus Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Permukiman
• 10 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.