JAKARTA, KOMPAS – Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengukuhkan lima profesor riset baru dari berbagai disiplin ilmu dengan beragam kepakaran. Dalam orasinya, lima profesor riset tersebut memaparkan pengembangan komposit bioselulosa, rekayasa metabolik, tantangan perubahan iklim, reaktor nuklir, hingga kemiskinan ekstrem.
Acara pengukuhan sekaligus orasi ilmiah lima profesor riset BRIN baru dilakukan dalam sidang terbuka di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, BRIN, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Lima profesor riset yang dikukuhkan ialah Sri Hartati (kepakaran biologi molekuler tanaman), Istiana Hermawati (kepakaran pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat), Anastasia Wheni Indrianingsih (kepakaran kimia organik ramah lingkungan), Rahmat Arief (kepakaran penginderaan jauh radar), dan Syaiful Bakhri (kepakaran aplikasi energi nuklir).
Orasi ilmiah pertama disampaikan oleh Sri Hartati dari Pusat Riset Rekayasa Genetika dengan judul “Rekayasa Metabolik Dinding Sel Tanaman Berkayu untuk Pengembangan Bioproduk Ramah Lingkungan.” Penelitian tersebut berfokus pada rekalsitransi dinding sel tanaman terhadap proses hidrolisis enzimatik dan perlakuan kimia dalam produksi biomassa.
Melalui manipulasi interaksi xiloglukan–selulosa dengan overekspresi gen xiloglukanase dan selulase pada tanaman sengon dan mangium transgenik, terjadi relaksasi dinding sel dan peningkatan deposisi selulosa. Hasilnya, efisiensi sakarifikasi dan produksi bioetanol meningkat hingga 1,4 kali tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman.
“Pendekatan genetik presisi yang terintegrasi dengan analisis struktural dan fisiologis terbukti meningkatkan efisiensi biokonversi. Konsep biomass by design menjadi strategi penting dalam pengembangan bioindustri lignoselulosa yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Istiana Hermawati dari Pusat Riset Kebijakan Publik memparkan orasi ilmiah kedua berjudul “Transformasi Kebijakan Publik untuk Pengentasan Kemiskinan Multidimensi Melalui Inovasi Sosial dan Pemberdayaan Komunitas.” Ia menyoroti kemiskinan multidimensi di Indonesia yang mencakup aspek ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, gender, dan teknologi.
Menurut Istiana, kemiskinan bukan sekadar kekurangan pendapatan, melainkan keterbatasan kemampuan manusia untuk mewujudkan potensinya. Pandangan ini menuntun semua pihak untuk memahami bahwa kemiskinan merupakan fenomena multidimensi.
Melalui riset longitudinal dengan metode Confirmatory Factor Analysis, ia mengembangkan Indeks Kemiskinan Multidimensi versi Indonesia yang lebih komprehensif dan kontekstual sehingga mampu menggambarkan realitas sosial masyarakat secara lebih akurat. Riset ini juga menekankan pentingnya inovasi sosial dan pemberdayaan masyarakat.
“Transformasi kebijakan publik melalui inovasi sosial dan pemberdayaan komunitas adalah ikhtiar kecil saya dalam membangun kesejahteraan sosial yang inklusif dan berkeadilan di Indonesia,” ucapnya.
Orasi berikutnya disampaikan Anastasia Wheni Indrianingsih dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan berjudul “Pengembangan dan Aplikasi Bioselulosa dalam Bidang Pangan dan Kesehatan di Indonesia.” Ia menyampaikan hasil riset pengembangan komposit bioselulosa dan ekstrak aktif tanaman Indonesia untuk pengemasan makanan dan aplikasi kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan, bioselulosa bisa dimanfaatkan sebagai masker wajah hingga pembalut luka. Pemanfaatan bioselulosa ini pun didukung oleh sumber daya alam lokal yang melimpah sehingga menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang menjanjikan.
Penginderaan jauh dan nuklir
Rahmat Arief dari Pusat Riset Geoinformatika menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Pengembangan Sistem Cerdas Teknologi Penginderaan Jauh Radar Berbasis Data Siap Analisis untuk Pemantauan Lingkungan dan Kebencanaan di Wilayah Tropis.”
Dalam orasinya, Rahmat menyoroti tantangan perubahan iklim, bencana hidrometeorologi, degradasi lingkungan, dan keterbatasan pengamatan optik di wilayah tropis. Ia menawarkan solusi melalui Sistem Cerdas Penginderaan Jauh Radar berbasis Analysis Ready Data (ARD) yang mengintegrasikan data Synthetic Aperture Radar (SAR), metode polarimetri dan interferometri, kecerdasan buatan, serta komputasi modern.
Sistem tersebut memungkinkan pemantauan lingkungan dan kebencanaan dilakukan secara cepat, akurat, dan adaptif. Pengembangan teknologi diarahkan untuk mendukung kemandirian teknologi radar nasional dan sistem observasi operasional berbasis multisatelit.
“Temuan ini juga mendukung pertaninan rendah emisi dan efisiensi irigasi. Di bidang lingkungan dan kebencanaan, teknologi radar digunakan untuk pemantauan banjir, deforestasi, kebakaran hutan, dan penurunan muka tanah di kota besar,” tuturnya.
Selain itu, teknologi ini telah dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan oleh Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS). Pengembangan teknologi ini turut diperkuat melalui peningkatan literasi ekologis dan pemberdayaan manusia bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Adapun orasi ilmiah terakhir disampaikan Syaiful Bakhri dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir. Orasinya berjudul “Inovasi Reaktor Suhu Tinggi Peluit-40: Strategi Akselerasi Net Zero Emission Melalui Teknologi Nuklir Generasi Keempat.”
Syaiful memaparkan pengembangan reaktor nuklir High Temperature Gas-cooled Reactor (HTGR) melalui desain Peluit-40. Reaktor suhu tinggi tersebut menawarkan keamanan pasif bawaan, efisiensi termal tinggi, serta kemampuan menghasilkan listrik dan panas untuk industri sekaligus produksi hidrogen hijau.
Peluit-40 berpotensi menjadi solusi energi bersih dan andal untuk mendukung dedieselisasi daerah terpencil, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, dan memperkuat ketahanan energi nasional menuju target Net Zero Emissions (emisi nol bersih).
“Peluit-40 atau teknologi HTGR ini adalah masa depan nuklir Indonesia yang cerdas secara sistem, aman secara fisik, dan hijau secara dampak. Dukungan seluruh pihak kami harapkan dan kita siap melompat menuju kemandirian energi nasional,” ucapnya.





