FAJAR, MAKASSAR – Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Kelas I Makassar menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Cetak Sawah dan Mitigasi Kekeringan Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026 di Hotel Dalton Makassar, Kamis (21/5/2026).
Rakor tersebut membahas sejumlah agenda prioritas sektor pertanian, mulai dari program cetak sawah baru, optimasi lahan, pembangunan dan rehabilitasi irigasi pertanian, hingga langkah mitigasi kekeringan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Kepala BPLIP Kelas I Makassar, Rustan Massinai, menjelaskan, rapat koordinasi ini digelar untuk memastikan program cetak sawah yang menjadi arahan Presiden RI dan Menteri Pertanian dapat berjalan optimal dan sukses di seluruh wilayah sasaran.
Program cetak sawah saat ini telah berjalan melalui sistem tender dan e-katalog dengan total 29 paket pekerjaan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Dari jumlah tersebut, beberapa lokasi bahkan telah memasuki tahap konstruksi sekitar 20 persen.
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan empat lokasi utama program cetak sawah di Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Gowa, Luwu, Sidrap, dan Luwu Utara. Namun, beberapa paket masih dalam proses tender, khususnya di Sidrap dan Gowa.
Selain program cetak sawah, BPLIP Kelas I Makassar juga fokus pada langkah mitigasi kekeringan menyusul prediksi BMKG terkait potensi musim kering berkepanjangan selama empat bulan ke depan.
“Kami melakukan antisipasi melalui optimalisasi pompa air, irigasi perpompaan, dan irigasi perpipaan. Semua itu disiapkan agar lahan pertanian tidak mengalami kekeringan,” jelas Rustan.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino sesuai prediksi BMKG. Salah satunya dengan mempercepat masa tanam dari biasanya Juni menjadi mulai April untuk pengolahan lahan dan Mei untuk penanaman.
Selain itu, Pemkab Sidrap juga mendorong penggunaan benih super genjah agar panen lebih cepat, serta memperkuat ketersediaan air melalui embung, long storage, dam parit, irigasi permukaan, irigasi air tanah, dan pemanfaatan air dari Danau Sidenreng.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHBUN) Provinsi Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin, menegaskan bahwa program cetak sawah merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui perluasan lahan pertanian, dukungan infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat petani di daerah.
Ia berharap seluruh program yang dijalankan pemerintah dapat memberikan dampak besar terhadap peningkatan produksi padi nasional, memperkuat ketahanan pangan, mengurangi ketergantungan impor pangan, serta meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Melalui rakor tersebut, pemerintah berharap koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah semakin kuat sehingga program swasembada pangan nasional dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Sulawesi Selatan.





