Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 21 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.667 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 13,5 poin atau setara 0,08 persen dari posisi Rp17.653,5 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 13,5 poin, sebelumnya sempat melemah 30 poin di level Rp17.667 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.653,5 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp17.648 per USD. Rupiah melemah sebanyak 48 poin atau setara 0,27 persen dari Rp17.600 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.673 per USD. Mata uang Garuda tersebut justru menguat delapan poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.685 per USD.
Baca juga: Rupiah Dibuka Turun ke Rp17.658/USD Perang Iran berada di "tahap akhir"
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump mengatakan perang Iran berada di "tahap akhir", dimana sebelumnya pekan ini mengatakan pembicaraan berjalan dengan baik.
Namun Trump juga memperingatkan ketidakmampuan untuk mencapai kesepakatan akan memicu lebih banyak aksi militer AS terhadap Iran, sehingga membatasi optimisme pasar secara luas. Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga harga minyak relatif tetap tinggi meskipun terjadi penurunan tajam awal pekan ini.
Iran memperingatkan terhadap serangan lebih lanjut dan mengumumkan langkah-langkah untuk memperkuat kendalinya atas jalur air penting Selat Hormuz, yang sebelum perang mengangkut pengiriman minyak dan gas alam cair setara dengan sekitar 20 persen konsumsi global tetapi sebagian besar telah ditutup.
Pada Rabu, Iran mengumumkan Otoritas Selat Teluk Persia yang baru, dengan mengatakan akan ada zona maritim terkontrol di Selat Hormuz. Iran secara efektif menutup selat tersebut sebagai balasan atas serangan AS dan Israel yang memulai perang pada 28 Februari.
Sebagian besar pertempuran telah berhenti sejak gencatan senjata April, tetapi sementara Iran membatasi lalu lintas melalui Hormuz, AS telah memblokade garis pantainya. Kehilangan pasokan dari wilayah Timur Tengah yang penting karena perang telah memaksa negara-negara untuk menarik persediaan komersial dan strategis mereka dengan cepat, menimbulkan kekhawatiran tentang penipisan persediaan tersebut.
Di sisi lain, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) memperingatkan bank sentral kemungkinan perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target dua persen mereka.
Risalah tersebut menyoroti kekhawatiran yang semakin dalam di antara para pejabat Fed tentang tekanan inflasi yang disebabkan oleh perang Iran. Pada rapat April, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal tetap stabil dalam kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pengetatan aturan ekspor komoditas jadi perhatian investor
Sementara itu, lanjut Ibrahim, investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo Subianto yang memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batu bara, dan ferro alloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara.
"Kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis Jumat, menyusul defisit kuartal keempat yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar," terang dia.
Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate tentu telah ditimbang matang-matang, dan hal ini dilakukan sebagai langkah pre-emptive yang terukur untuk merespons dinamika ketidakpastian global.
"BI tentu berkepentingan untuk menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah. Meskipun langkah ini akan menimbulkan beban tambahan pada biaya pinjaman, keputusan ini diharapkan dapat melindungi rupiah dari proses pelemahan yang lebih dalam," papar Ibrahim.
Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan, tidak hanya bekerja sebagai instrumen teknis untuk mengendalikan permintaan dan arus keluar modal. Tetapi, sekaligus juga menjadi upaya untuk memperoleh kembali kepercayaan.
Dengan menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia ingin menyatakan posisi rupiah masih akan dijaga, ekspektasi inflasi tidak akan dibiarkan liar, dan otoritas moneter belum kehilangan kendali.
"Pemerintah sendiri bukan tidak menyadari risiko yang bakal timbul. Mungkin benar dengan menaikkan suku bunga acuan akan dapat menahan proses pelemahan rupiah, tetapi pada saat yang sama sesungguhnya juga berisiko dapat mempermahal dana, menekan kredit, mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga," urai Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.660 per USD hingga Rp17.710 per USD," jelas Ibrahim.




