Bisnis.com, JAKARTA - Khotbah Jumat menjadi salah satu sarana penting untuk mengingatkan umat Islam tentang nilai-nilai keimanan, ketakwaan, hingga pentingnya memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit khatib maupun jamaah yang mencari referensi khutbah terbaru dengan tema yang relevan, menyentuh, dan penuh makna.
Dilansir dari NU Online, berikut tiga rekomendasi khotbah Jumat untuk 2026 yang membahas tentang menjaga hati, muhasabah diri demi keselamatan akhirat, serta cara membentengi diri dari godaan setan. Seluruh teks Arab dan terjemahan disajikan secara utuh agar dapat menjadi referensi khutbah yang lengkap dan siap digunakan.
1. Khotbah Jumat tentang Menjaga Hati dan Berbagai Hal yang MerusakKhutbah pertama mengangkat tema pentingnya menjaga hati dari berbagai penyakit yang dapat merusak keimanan dan ketakwaan seseorang. Dalam Islam, hati menjadi pusat dari seluruh perilaku manusia. Jika hati baik, maka baik pula seluruh amal perbuatannya.
Khutbah diawali dengan mukadimah berikut:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مُرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ، اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ (الذاريات: ١٦-١٧)
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Baca Juga
- Niat Salat Iduladha Lengkap dengan Tata Cara dan Bacaan Salat Iduladha
- Kisah Haru Guru Ngaji Menjemput Haji, Rutin Menabung usai Salat Subuh walau Kecil
- 6 Rekomendasi Kuliner Legendaris di Salatiga untuk Libur Lebaran 2026
Alhamdulillah, alhamdulillahirobbil alamin, segala puji bagi Allah swt. Dan syukur tidak henti-hentinya kita panjatkan kepada-Nya. Karena dengan sifat kasih dan sayang-Nya, kita semua masih diberikan kenikmatan berupa kesehatan, kesempatan, juga kenikmatan hati yang selalu dimudahkan untuk beribadah dan dijauhkan dari segala penyakit atau hal-hal yang dapat merusaknya.
Di samping itu, kita juga patut bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah swt berupa agama Islam, agama yang menuntun kita dalam kebenaran, agama yang mengajarkan kepada kita tentang pentingnya kerukunan di antara sesama.
Shalawat dan salam marilah kita haturkan kepada Nabi Muhamad saw, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya. Bershalawat adalah perintah Allah swt. Dalam perintah itu, Allah dan malaikat-malaikat-Nya pun juga bershalawat dan memberikan salam penghormatan kepada Nabi Muhamad saw. Semoga dengan keistikamahan dalam bershalawat, kita menjadi hamba yang betul-betul dicintai Allah dan Nabi Muhammad. Serta kelak di hari akhir, kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad saw. Amin ya rabbal alamin.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Tidak lupa Alfaqir mengajak kepada hadirin semua agar senantiasa berikhtiar meningkatkan kualitas takwa kepada Allah swt. Ajakan ini tentu saja juga berlaku untuk diri saya pribadi. Kualitas ketakwaan kita memang penting selalu di-update, dipertebal, dan ditingkatkan di tengah kesibukan-kesibukan yang kita miliki. Jangan sampai segala aktivitas kita lalu berdampak pada menipisnya tingkat ketakwaan kepada Allah.
Takwa ini sangat penting sebagai modal utama hidup di dunia. Kita sama-sama meyakini bahwa ada kehidupan selanjutnya yakni kehidupan akhirat yang tidak bisa dilupakan. Dan cara agar kita bisa selamat di kehidupan akhirat itu tidak ada lain adalah ketakwaan kita.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah swt adalah dengan menjaga hati dari hal-hal yang merusak dan menjauhkan diri dari sebab-sebab munculnya penyakit hati. Hati adalah sumber penggerak kebaikan dan dapat memacu kita untuk beribadah kepada Allah swt.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
أَلاَ وَإِنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهِيَ القَلْبُ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya, “Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh anggota badan dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh anggota badan, ketahuilah, ia adalah hati” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini bisa dimaknai dalam dua sudut pandang. Pertama, secara jasmani. Secara lahiriah, Nabi Muhammad saw berpesan tentang betapa vitalnya fungsi jantung (bahasa Arab: qalb) dalam tubuh manusia. Jantung punya fungsi utama memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.
Kedua, secara rohani. Istilah qalb dimaknai sebagai apa yang sering kita sebut dengan “hati”. Hati memang tak kasat mata tapi pengaruhnya kepada setiap gerak-gerik manusia amat menentukan.
Dalam khutbah ini dijelaskan enam hal yang dapat merusak hati menurut Imam Hasan al-Bashri.
- Pertama, berbuat dosa dengan berharap kelak bisa bertobat.
- Kedua, berilmu tetapi tidak mau mengamalkannya.
- Ketiga, beramal tetapi tidak ikhlas.
- Keempat, memakan rezeki Allah tetapi tidak mau bersyukur.
- Kelima, tidak ridha terhadap karunia Allah.
- Keenam, mengubur orang mati tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.
Dalam khutbah juga disampaikan firman Allah SWT:
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Artinya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS Asy-Syura: 27)
Khutbah juga mengingatkan bahwa kematian adalah nasihat paling nyata bagi manusia. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اْلقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَر مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
Artinya, “Sungguh liang kubur merupakan awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)-nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)-nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR Tirmidzi)
Khutbah kemudian ditutup dengan doa:
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
2. Khutbah Jumat tentang Muhasabah Diri demi Meraih Keselamatan Akhirat
Khutbah kedua membahas pentingnya muhasabah atau introspeksi diri agar manusia senantiasa memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Mukadimah khutbah:
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah
Di mimbar ini, Alfaqir mengajak jamaah Jumat dan kepada diri sendiri agar senantiasa mempertebal tingkat ketakwaan kepada Allah swt. Takwa adalah kunci kesuksesan di dunia meraih kebahagiaan yang abadi kelak di akhirat.
Muhasabah diri adalah perintah agama. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Sayyidina Umar bin Khattab:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا
Artinya, “Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”
Dalam hadits Rasulullah bersabda:
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Artinya, "Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.' (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Ini hadits hasan”).
Khutbah ini menjelaskan bahwa introspeksi diri membuka mata manusia atas berbagai kekurangan yang dimiliki sehingga mendorong semangat memperbaiki diri.
Selain itu, khatib juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surat Yasin ayat 65:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (Q.S. Yasin/36 : 65)
Kemudian khutbah dilanjutkan dengan firman Allah:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31).
Khutbah ditutup dengan doa:
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
3. Khutbah Jumat tentang Cara Membentengi Diri dari Godaan Setan
Khutbah ketiga membahas tentang berbagai tipu daya setan dan cara agar manusia dapat menjaga diri dari godaan tersebut.
Khutbah dibuka dengan mukadimah:
الحمد لله غافر الذنب وقابل التوب شديد العقاب، ذي الطول لا إله إلا هو إليه المصير. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادة معترف بالذنب والتقصير، سائل العفو والزلفى وحسن المآب يوم المصير. وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله وأمينه على وحيه خير بشير، وأشفق نذير. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه، نعم الصحب البشير، ونعم القدوة لمن طلب الفوز والنجاة في يوم عسير. أما بعد: فيا أيها المسلمون اتقوا الله تعالى في السر و العلن، يا أيها الذين آمنوا اتقو الله حق تقاته و لا تموتن إلا وأنتم مسلمون
Kaum Muslimin, rahimakumullah
Marilah pada kesempatan ini, kita kembali berupaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.
Dalam khutbah dijelaskan bahwa setan akan terus menggoda manusia sebagaimana disebutkan dalam Surat Shad ayat 77-83:
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ . وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ . قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ . قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ . إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ . قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (ص: 77-83)
Artinya, "Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shad: 77-83)
Menurut Imam al-Ghazali, terdapat tujuh pintu yang digunakan setan untuk menyesatkan manusia.
- Pertama, al-Syubhat.
- Kedua, al-Syahwat.
- Ketiga, al-Hirsh atau al-Tam’u.
- Keempat, al-Hasad.
- Kelima, memandang kecil dosa-dosa kecil.
Dalam khutbah juga disampaikan hadis Rasulullah:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ. (رواه أحمد)
Artinya, “Jauhilah dosa-dosa dan sesuatu yang dianggap dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu ketika dilakukan seseorang maka ia akan membinasakannya”. (HR. Ahmad).
Khutbah kemudian menjelaskan lima cara agar selamat dari tipu daya setan.
- Pertama, menjaga keikhlasan.
- Kedua, menjaga kestabilan iman.
- Ketiga, berlindung kepada Allah SWT.
- Keempat, memperbanyak membaca Al-Qur’an dan dzikir.
- Kelima, menjadikan setan sebagai musuh.
Salah satu dalil yang disampaikan adalah:
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya, "Dan jika kamu digoda oleh setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (al-A’raf:200).
Khutbah ditutup dengan doa:
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ . وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
Demikian tiga rekomendasi khutbah Jumat terbaru 2026 yang dapat menjadi referensi bagi khatib maupun jamaah. Ketiga tema tersebut mengingatkan pentingnya menjaga hati, memperbanyak muhasabah diri, serta membentengi diri dari godaan setan agar senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah SWT.





