REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) RI mendorong majelis taklim untuk menjadi pusat penguatan ketahanan keluarga. Hal itu disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi. Menurut dia, peran wadah pengajian kian urgen di tengah meningkatnya tantangan sosial, ekonomi, dan digital dalam kehidupan masyarakat modern.
“Ketahanan bangsa sangat terkait dengan ketahanan keluarga. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan kuat. Sebaliknya, ketika keluarga rapuh, berbagai persoalan sosial akan mudah muncul,” ujar Muchlis M Hanafi di Jakarta pada Kamis (21/5/2026).
Baca Juga
Empat Kecamatan di Cirebon Kebanjiran, Ketinggian Air Hingga Satu Meter
Menko AHY Tinjau PT PAL: Perkuat Industri Galangal Kapal Nasional
Tak Cuma Menabung, Ini Cara Jaga Keuangan di Tengah Gejolak Global
Ia menegaskan, keluarga merupakan fondasi utama kehidupan masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, penguatan keluarga harus menjadi perhatian bersama, terutama di tengah meningkatnya tantangan sosial, ekonomi, dan digital yang mempengaruhi kehidupan rumah tangga saat ini.
Menurutnya, keluarga modern saat ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari melemahnya komunikasi dalam keluarga akibat penggunaan teknologi yang berlebihan, tekanan ekonomi, perubahan pola relasi dalam rumah tangga, meningkatnya angka perceraian, hingga tantangan pengasuhan anak di era media sosial.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Penguatan keluarga tidak cukup hanya melalui pendekatan administratif atau hukum, tetapi juga membutuhkan penguatan nilai, moral, dan spiritualitas," katanya.
Dalam konteks tersebut, majelis taklim memiliki posisi yang sangat strategis karena hadir langsung di tengah masyarakat.
“Majelis taklim harus naik kelas. Tidak hanya menjadi tempat belajar agama semata, tetapi juga menjadi pusat edukasi keluarga, ruang konsultasi sosial-keagamaan, sekaligus sarana memperkuat nilai-nilai mawaddah, rahmah, dan tanggung jawab sosial dalam keluarga,” katanya.
Muchlis juga menegaskan Kemenag terus mendorong transformasi layanan keagamaan yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dakwah harus mampu menjawab persoalan nyata umat, termasuk persoalan keluarga, pendidikan anak, kesehatan mental, etika digital, dan harmoni sosial.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)