Bisnis.com, JAKARTA — Pasar kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) di Indonesia semakin ramai seiring agresivitas pabrikan otomotif asal China memperluas lini kendaraan listrik di pasar domestik.
Sejumlah merek asal China yang mulai gencar memasarkan model PHEV di Indonesia di antaranya BYD, Chery, Jaecoo, hingga Wuling. Kehadiran berbagai model baru tersebut membuat pilihan kendaraan elektrifikasi bagi konsumen semakin beragam.
Salah satu model terbaru yang masuk ke segmen tersebut yakni BYD M6 DM. Adapun, teknologi BYD DM merupakan bagian dari lini New Energy Vehicle (NEV) milik BYD. DM merupakan singkatan dari Dual Mode yang menggabungkan sistem kendaraan listrik dan hybrid dalam satu platform.
Dalam penggunaan harian, khususnya perjalanan jarak dekat di wilayah perkotaan, kendaraan dapat beroperasi sepenuhnya menggunakan tenaga listrik. Sementara itu, untuk perjalanan jauh, sistem tersebut tetap diklaim lebih efisien dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Berbeda dengan kendaraan berbasis mesin bensin konvensional, sistem BYD DM memprioritaskan motor listrik sebagai penggerak utama kendaraan. Adapun mesin bensin berfungsi sebagai pendukung untuk menghasilkan energi listrik dan meningkatkan efisiensi saat dibutuhkan.
Selain BYD M6 DM, sejumlah model PHEV asal China yang telah dipasarkan di Indonesia antara lain Chery Tiggo 8 CSH, Chery Tiggo 9 CSH, Jaecoo J7 SHS, Jaecoo J8 SHS, Wuling Darion PHEV, Wuling Eksion PHEV, hingga Geely Starray EM-i.
Baca Juga
- Adu Spesifikasi BYD M6 DM PHEV vs Toyota Veloz Hybrid, Mana Lebih Unggul?
- BYD M6 DM PHEV Diproduksi di Pabrik Subang, Segini Kisaran Harganya
- Adu Strategi Pabrikan China Garap Pasar Mobil PHEV
Kinerja pasar kendaraan PHEV juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales mobil PHEV pada kuartal I/2026 mencapai 1.510 unit, melonjak dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 50 unit.
Secara tren tahunan, penjualan mobil PHEV di Indonesia juga meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. Penjualan mobil PHEV tercatat sebanyak 46 unit pada 2021, kemudian melonjak menjadi 5.270 unit pada 2025.
Perbedaan PHEV & Mobil Hybrid BiasaDi tengah meningkatnya popularitas kendaraan elektrifikasi tersebut, masih banyak konsumen yang belum memahami perbedaan mendasar antara mobil PHEV dan hybrid electric vehicle (HEV) atau hybrid konvensional, khususnya terkait sistem kerja mesin dan baterai.
Mengacu laman resmi Wuling Motors, kendaraan PHEV menggabungkan mesin pembakaran internal dengan motor listrik berkapasitas baterai besar. Berbeda dengan hybrid biasa, baterai mobil PHEV dapat diisi ulang melalui sumber listrik eksternal selain dari mesin dan regenerative braking.
Sistem kerja PHEV memungkinkan kendaraan beroperasi dalam tiga mode utama, yakni full electric menggunakan motor listrik sepenuhnya, kombinasi motor listrik dan mesin bensin untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar, serta mode mesin bensin murni ketika daya baterai menipis atau membutuhkan tenaga tambahan.
Keunggulan utama kendaraan PHEV terletak pada fleksibilitas penggunaan. Saat baterai penuh, kendaraan dapat digunakan tanpa emisi dalam mode listrik murni. Namun ketika baterai habis, mesin bensin tetap dapat digunakan untuk menunjang mobilitas jarak jauh.
Secara umum, terdapat sejumlah perbedaan utama antara mobil PHEV dan hybrid biasa, mulai dari sumber pengisian daya, kapasitas baterai, peran mesin bensin, efisiensi bahan bakar, kebutuhan infrastruktur charging, hingga harga kendaraan.
Mobil hybrid konvensional mengisi baterai secara otomatis melalui mesin dan regenerative braking, sedangkan PHEV dapat dicas menggunakan sumber listrik eksternal. Selain itu, kapasitas baterai PHEV juga lebih besar sehingga mampu menempuh jarak lebih jauh menggunakan mode listrik penuh.
Dari sisi harga, kendaraan hybrid konvensional umumnya lebih terjangkau dibandingkan PHEV. Hal tersebut dipengaruhi penggunaan baterai yang lebih besar dan sistem teknologi yang lebih kompleks pada kendaraan PHEV.




