Belakangan ini, pembahasan tentang feminisme kembali ramai di media sosial, terutama di Threads. Penulis sering melihat banyak laki-laki yang merasa tidak nyaman ketika mendengar kata “feminisme”. Tidak sedikit yang langsung menganggap feminisme sebagai gerakan yang membenci laki-laki atau ingin menjatuhkan posisi laki-laki dalam kehidupan sosial dan keluarga. Bahkan hal-hal sederhana seperti perempuan berani berargumen, memiliki karier bagus, atau berpenghasilan lebih tinggi dari suaminya sering dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri laki-laki.
Fenomena ini menunjukkan bahwa feminisme masih sering dipahami secara keliru. Banyak orang melihat feminisme hanya dari potongan konten media sosial, kemarahan di internet, atau stereotip yang berkembang di masyarakat. Akibatnya feminisme sering dipersepsikan sebagai gerakan perempuan melawan laki-laki. Padahal dalam berbagai karya feminis, fokus utama feminisme bukan membenci laki-laki, melainkan mengkritik sistem patriarki dan ketidaksetaraan gender.
bell hooks dalam bukunya Feminism Is for Everybody (2000) menjelaskan bahwa feminisme adalah gerakan sosial yang bertujuan menghapus seksisme, penindasan, dan dominasi berbasis gender. Bell hooks (2000) menekankan bahwa feminisme bukan perang antara perempuan dan laki-laki. Yang dikritik adalah budaya patriarki yang membuat laki-laki dianggap harus dominan, sementara perempuan diposisikan lebih rendah.
Dalam penjelasan bell hooks (2000), patriarki bekerja melalui pola asuh, pendidikan, budaya, dan lingkungan sosial. Sejak kecil laki-laki sering diajarkan bahwa mereka harus kuat, tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, dan harus menjadi pemimpin. Di sisi lain, perempuan sering dididik untuk lebih penurut, lembut, dan tidak terlalu vokal. Karena proses sosial ini berlangsung terus-menerus, masyarakat akhirnya menganggap dominasi laki-laki sebagai sesuatu yang normal.
Bell hooks (2000) juga menjelaskan bahwa patriarki tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga membebani laki-laki. Banyak laki-laki tumbuh dengan tekanan untuk selalu terlihat kuat dan berkuasa. Mereka takut dianggap gagal ketika kalah secara ekonomi, kalah dalam karier, atau terlihat lebih lemah dibanding perempuan. Akibatnya banyak laki-laki sulit mengekspresikan emosi karena takut dianggap tidak jantan.
Pemikiran bell hooks (2000) relevan dengan kondisi media sosial saat ini. Penulis sering melihat laki-laki marah ketika perempuan membahas kesetaraan gender. Ada yang merasa feminisme membuat perempuan “terlalu berani”, ada yang merasa perempuan sekarang “tidak bisa diatur”, bahkan ada yang merasa harga dirinya jatuh ketika pasangannya memiliki penghasilan lebih besar.
Padahal feminisme tidak pernah melarang laki-laki menjadi pemimpin atau kepala keluarga. Feminisme hanya mengkritik cara berpikir yang menjadikan kepemimpinan sebagai alat dominasi. Dalam hubungan yang sehat, relasi tidak dibangun di atas rasa superioritas, tetapi di atas kerja sama dan saling menghargai.
Pemikiran tentang posisi perempuan dalam masyarakat patriarki juga dijelaskan oleh Simone de Beauvoir melalui buku The Second Sex (1949). Simone de Beauvoir (1949) menjelaskan bahwa dalam sejarah masyarakat patriarki, laki-laki sering dijadikan standar utama manusia, sedangkan perempuan diposisikan sebagai “the Other” atau pihak kedua. Perempuan lebih sering dinilai berdasarkan hubungannya dengan laki-laki, seperti menjadi istri, ibu, atau pasangan, bukan sebagai individu yang utuh.
Simone de Beauvoir (1949) menjelaskan bahwa perempuan selama ini hidup dalam konstruksi sosial yang membuat mereka dianggap tidak sepenting laki-laki. Akibatnya perempuan sering kehilangan ruang untuk menentukan identitasnya sendiri. Bahkan ketika perempuan berusaha mandiri dan sukses, masyarakat tetap menilai mereka dengan standar patriarki.
Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak perempuan yang dianggap terlalu agresif ketika berbicara kritis. Perempuan yang aktif berargumen sering dicap emosional atau terlalu banyak bicara. Sebaliknya, laki-laki yang berbicara keras justru dianggap tegas dan berwibawa. Standar ganda seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang laki-laki dan perempuan dengan ukuran yang berbeda.
Fenomena patriarki juga terlihat dalam cara masyarakat memandang penghasilan perempuan. Sampai hari ini masih ada laki-laki yang merasa malu jika penghasilan istrinya lebih besar. Seolah-olah posisi laki-laki sebagai pemimpin otomatis hilang ketika perempuan lebih sukses secara ekonomi.
Padahal dalam hubungan yang sehat, penghasilan tidak seharusnya dijadikan alat menentukan siapa yang paling berkuasa. Namun budaya patriarki membuat banyak laki-laki merasa bahwa nilai dirinya ditentukan oleh dominasi ekonomi dan posisi sosial. Karena itu ketika perempuan mulai mandiri, sebagian laki-laki merasa posisinya terancam.
Penjelasan tentang tekanan maskulinitas ini juga dibahas oleh Raewyn Connell melalui buku Masculinities (1995). Raewyn Connell (1995) memperkenalkan konsep hegemonic masculinity atau maskulinitas hegemonik. Menurut Connell (1995), masyarakat memiliki standar tertentu mengenai laki-laki ideal, yaitu laki-laki yang kuat, dominan, agresif, tidak emosional, dan memiliki kontrol terhadap perempuan.
Connell (1995) menjelaskan bahwa media massa dan budaya populer sering memperkuat standar maskulinitas tersebut. Film aksi, iklan olahraga, dan media sosial sering menampilkan laki-laki ideal sebagai sosok yang keras, berkuasa, dan tidak menunjukkan kelemahan emosional. Akibatnya banyak laki-laki merasa harus memenuhi standar itu agar dianggap “jantan”.
Connell (1995) juga menjelaskan bahwa maskulinitas hegemonik menciptakan tekanan sosial bagi laki-laki. Mereka takut terlihat lemah, takut kalah dari perempuan, dan takut kehilangan posisi dominan dalam hubungan. Karena itu ketika perempuan lebih sukses atau lebih vokal, sebagian laki-laki langsung merasa harga dirinya terganggu.
Kondisi ini membuat pembahasan feminisme sering dipenuhi kesalahpahaman. Kritik terhadap patriarki dianggap sebagai kebencian terhadap laki-laki. Padahal feminisme tidak menolak keberadaan laki-laki. Feminisme hanya mengkritik budaya yang menjadikan dominasi laki-laki sebagai sesuatu yang wajib dipertahankan.
Bell hooks (2000) menjelaskan bahwa feminisme sebenarnya ingin menciptakan relasi yang lebih manusiawi antara laki-laki dan perempuan. Feminisme tidak bertujuan mengganti dominasi laki-laki menjadi dominasi perempuan. Feminisme ingin menghapus budaya dominasi itu sendiri.
Karena itu feminisme juga sebenarnya membebaskan laki-laki. Ketika budaya patriarki melemah, laki-laki tidak lagi dibebani tuntutan harus selalu kuat dan dominan. Mereka bisa lebih bebas mengekspresikan emosi, lebih terbuka dalam hubungan, dan tidak merasa harga dirinya bergantung pada kekuasaan terhadap perempuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, patriarki sering muncul dalam bentuk sederhana tetapi terus diulang. Misalnya perempuan dianggap kurang cocok menjadi pemimpin karena dinilai terlalu emosional. Atau perempuan sukses dianggap melupakan kodratnya. Bahkan dalam hubungan percintaan, perempuan sering diharapkan terus mengalah demi menjaga ego laki-laki.
Tidak sedikit perempuan akhirnya takut terlihat terlalu pintar atau terlalu sukses karena khawatir dianggap mengintimidasi laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sering merasa nyaman ketika perempuan berada di posisi yang lebih rendah.
Padahal hubungan yang sehat seharusnya tidak dibangun di atas rasa takut kalah. Hubungan yang sehat dibangun di atas kerja sama dan saling menghargai. Ketika perempuan memiliki penghasilan besar, itu seharusnya menjadi kekuatan bersama dalam keluarga, bukan ancaman bagi harga diri laki-laki.
Bell hooks (2000) juga menjelaskan bahwa perempuan pun bisa ikut melanggengkan budaya patriarki. Artinya feminisme bukan sekadar membela semua tindakan perempuan. Jika perempuan juga mendukung budaya yang menindas perempuan lain, maka hal itu tetap perlu dikritik.
Karena itu feminisme bukan perang antara perempuan dan laki-laki. Feminisme adalah usaha membangun masyarakat yang lebih adil bagi semua orang. Laki-laki juga bisa mendapatkan manfaat dari feminisme karena mereka tidak lagi dibebani tuntutan maskulinitas yang berlebihan.
Di Indonesia, kesalahpahaman terhadap feminisme masih cukup besar. Banyak orang menganggap feminisme bertentangan dengan keluarga, agama, atau budaya. Padahal inti feminisme sebenarnya sederhana, yaitu perempuan harus diperlakukan sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar pelengkap kehidupan laki-laki.
Ketika perempuan diberi ruang untuk berbicara, bekerja, dan menentukan hidupnya sendiri, itu bukan berarti laki-laki kehilangan tempatnya. Kesetaraan bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tetapi tentang bagaimana manusia bisa hidup tanpa saling mendominasi.
Pada akhirnya, feminisme bukan ancaman bagi laki-laki. Yang merasa terancam sebenarnya adalah budaya patriarki yang selama ini terbiasa menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan. Feminisme hanya mengajak masyarakat untuk membangun hubungan yang lebih sehat, lebih setara, dan lebih manusiawi.
Karena itu memahami feminisme seharusnya tidak dilakukan lewat kemarahan atau stereotip media sosial saja. Feminisme perlu dipahami sebagai gerakan sosial yang ingin menghapus ketidakadilan gender, bukan sebagai gerakan untuk membenci laki-laki. Sebab dunia yang setara tidak akan membuat laki-laki kehilangan harga dirinya. Justru dunia yang setara memungkinkan laki-laki dan perempuan hidup tanpa tekanan dominasi satu sama lain.





