Malang (beritajatim.com) – Program Pengabdian Masyarakat yang diinisiasi oleh Tim Abdimas Program Studi Teknik Kimia S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang sukses melatih kreativitas warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang. Jika biasanya teknik ecoprint identik dengan kain, sebanyak 21 warga binaan mengaplikasikan motif daun alami pada media mug keramik dan tumbler.
Pelatihan intensif ini digelar di ruang bimbingan kerja Lapas Perempuan Malang pada Rabu (20/05/2026). Ketua Program Studi Teknik Kimia S-1 ITN Malang, Ir. Rini Kartika Dewi, ST., MT., IPM., menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk respon atas ketertarikan pihak Lapas terhadap pengembangan keterampilan warga binaan. Menurutnya, penggunaan media keramik memberikan nilai tambah dan keunikan tersendiri dibandingkan media konvensional.
”Membuat ecoprint di media mug dan tumbler ini sebenarnya memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan pada kain. Namun, pihak Lapas ingin memberikan edukasi sekaligus bekal keterampilan yang konkret,” ujar Rini saat memberikan keterangan resmi di ruangannya, Kamis (21/05/2026).
Rini menambahkan, tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan modal keterampilan mandiri bagi para warga binaan. “Harapannya, setelah mereka bebas nanti, mereka memiliki keahlian khusus yang bisa menjadi sumber mata pencaharian,” imbuhnya.
Pelatihan ini diikuti dengan antusiasme tinggi oleh peserta yang mayoritas berusia di atas 25 tahun. Mereka dibagi ke dalam enam kelompok untuk mempraktikkan teori secara langsung. Hasilnya pun cukup memuaskan, di mana seluruh karya yang dibuat pada hari tersebut berhasil ter-aplikasi dengan motif yang sempurna.
Dosen Teknik Kimia ITN Malang sekaligus pelatih dalam kegiatan tersebut, Dwi Ana Anggorowati, ST., MT., membedah teknis di balik proses pembuatan ecoprint unik ini. Pada pelatihan perdana, tim memilih menggunakan daun jati muda karena memiliki kandungan tanin yang tinggi sehingga mampu menghasilkan warna oranye cerah yang kuat.
Dwi Ana menekankan bahwa ketelitian adalah kunci utama, terutama dalam pemilihan bahan baku media keramik. Tidak semua mug bisa digunakan, melainkan harus yang memiliki lapisan coating khusus agar pigmen warna bisa menempel.
”Langkah awal dimulai dengan menempelkan daun pada mug dan tumbler, lalu dibungkus dengan kain yang telah direndam larutan mordant, yakni campuran 200 ml air dan satu sendok makan cuka sebagai pengikat warna. Kain ini berfungsi menekan daun agar kontak langsung dengan permukaan mug sehingga pigmen alami berpindah merata,” jelas Dwi Ana secara detail.
Proses selanjutnya adalah tahap penguncian warna. Mug dibungkus rapat menggunakan lakban dan plastik guna mencegah air kukusan masuk yang dapat memudarkan warna. Proses pengukusan dilakukan selama 1,5 jam.
”Terakhir ada proses aging atau penuaan dengan cara didinginkan. Tujuannya agar warna dan motif ecoprint menjadi lebih kuat, cerah, serta tidak mudah luntur saat digunakan sehari-hari,” paparnya.
Keberhasilan proyek perdana ini memacu rasa penasaran warga binaan untuk mengeksplorasi bahan alam lainnya. Tim Abdimas ITN Malang pun memberikan dukungan penuh dengan meninggalkan seluruh sisa bahan pelatihan agar bisa digunakan kembali secara mandiri di Lapas. Rencananya, mereka akan bereksperimen dengan daun jambu, ketapang, rambutan, kenikir, hingga daun telang.
Kendati produktivitas warga binaan sudah sangat tinggi, terbukti dengan adanya produk makanan berizin PIRT hingga jasa menjahit jaket pesanan perusahaan, permasalahan pemasaran masih menjadi hambatan utama. Menanggapi hal tersebut, ITN Malang berencana memperluas kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Dwi Ana mengungkapkan, pihaknya berniat menggandeng Program Studi Bisnis Digital ITN Malang untuk memberikan pendampingan dari sisi manajemen dan pemasaran.
”Harapan ke depan, kerja sama ini terus berlanjut. Kami ingin membantu memberikan ilmu mengenai strategi pemasaran digital bagi produk unggulan warga binaan. Jadi, setelah mereka mahir dalam sisi produksi, mereka juga paham bagaimana cara memasarkan produknya secara luas,” pungkas Dwi Ana. (dan/but)




