HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Di tengah musim yang sempat berjalan penuh tekanan, PSM Makassar perlahan mulai menemukan kembali fondasi permainan mereka. Setelah memastikan diri aman dari ancaman degradasi dan bersiap menyambut Super League musim depan, satu nama muncul sebagai simbol perubahan yang mungkin sebelumnya tak terlalu diperhitungkan: Dusan Lagator.
Awalnya, kehadiran Lagator mungkin tak langsung mencuri perhatian publik. Ia datang tanpa sorotan sebesar pemain asing lain yang lebih dikenal. Namun sepak bola sering kali menghadirkan cerita menarik dari sosok yang bekerja dalam diam.
Dan Lagator tampaknya sedang menulis cerita itu di Makassar.
Laga melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, menjadi titik penting yang mengubah cara pandang banyak orang terhadap dirinya. Dalam pertandingan tersebut, Bernardo Tavares mengambil keputusan yang cukup berani: memainkan Lagator bukan di posisi naturalnya sebagai bek tengah, melainkan di sisi kanan pertahanan.
Dalam sepak bola modern, perubahan posisi bukan perkara sederhana. Seorang pemain bukan hanya dituntut memahami tugas baru, tetapi juga harus cepat beradaptasi dengan ritme permainan, sudut bertahan, hingga pola menyerang yang berbeda.
Namun Lagator justru terlihat seperti pemain yang telah lama mengisi posisi itu.
Sejak menit awal, ia tampil tenang dan disiplin. Tak banyak gerakan berlebihan, tetapi setiap keputusan yang diambil terasa efektif. Ketika PSIM mencoba membangun serangan dari sisi sayap, Lagator mampu membaca arah permainan dengan baik.
Tujuh intersepsi yang ia lakukan menjadi gambaran betapa dominannya ia dalam memotong aliran bola lawan. Ia seperti selalu berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Tambahan satu sapuan penting dan dua recovery bola semakin mempertegas kontribusinya dalam menjaga keseimbangan pertahanan PSM.
Bahkan kartu kuning yang diterimanya justru memperlihatkan satu hal penting: komitmen.
Dalam sepak bola, ada momen ketika seorang pemain harus mengambil keputusan cepat demi melindungi timnya. Dan Lagator menunjukkan keberanian untuk melakukan itu.
Namun yang membuat penampilannya terasa spesial bukan hanya soal bertahan.
Sepak bola modern kini menuntut seorang bek untuk ikut terlibat dalam fase menyerang. Bek tak lagi sekadar menghentikan lawan, tetapi juga harus mampu menjadi bagian dari proses membangun serangan.
Lagator menjawab tuntutan itu dengan baik.
Ia mencatatkan 22 umpan sukses, melepaskan crossing, dan beberapa kali berani naik membantu serangan. Pergerakannya menunjukkan bahwa ia bukan tipikal bek kaku yang hanya fokus di area sendiri.
Dan puncak dari semuanya terjadi di masa injury time.
Saat pertandingan tampak akan berakhir imbang, Lagator muncul sebagai penentu. Menyambut sepak pojok dari Victor Luiz, ia menanduk bola dengan penuh keyakinan hingga gagal dihentikan kiper lawan.
Gol pada menit 90+8 itu langsung mengubah atmosfer pertandingan.
Bukan hanya memastikan kemenangan 2-1 untuk PSM, tetapi juga menjadi gol perdananya bersama Juku Eja. Sebuah momen yang terasa emosional karena datang di saat paling menentukan.
Gol tersebut seperti jawaban atas proses panjang yang dijalaninya.
Tak berlebihan jika kemudian Lagator dinobatkan sebagai man of the match. Namun penghargaan individual itu mungkin bukan hal paling penting. Sebab, yang lebih besar dari itu adalah pesan yang ia kirimkan kepada manajemen PSM Makassar.
Bahwa dirinya layak dipertahankan.
Dalam beberapa musim terakhir, lini belakang PSM identik dengan duet Yuran Fernandes dan Aloisio Neto. Keduanya menjadi tulang punggung pertahanan sekaligus ancaman dalam situasi bola mati.
Kini, kehadiran Lagator memberi dimensi baru.
Ia bukan hanya pelapis. Ia menawarkan fleksibilitas taktik yang sangat penting dalam kompetisi panjang. Kemampuan bermain sebagai bek tengah maupun bek kanan membuat Bernardo Tavares memiliki lebih banyak opsi dalam menyusun strategi.
Dalam sepak bola modern, pemain serbabisa seperti ini memiliki nilai yang sangat tinggi.
Cedera pemain, rotasi jadwal padat, hingga akumulasi kartu sering menjadi masalah besar bagi klub sepanjang musim. Namun dengan pemain seperti Lagator, risiko itu bisa ditekan karena ia mampu mengisi lebih dari satu posisi dengan kualitas yang tetap terjaga.
Karakter tersebut tampaknya sangat cocok dengan filosofi permainan Bernardo Tavares. Sang pelatih dikenal menyukai pemain yang disiplin, cerdas membaca permainan, dan mampu menjalankan banyak fungsi sekaligus.
Lagator memenuhi semua kriteria itu.
Karena itulah, rumor bahwa manajemen PSM mulai mempertimbangkan perpanjangan kontraknya terasa masuk akal. Sebelumnya, PSM sudah bergerak mengamankan beberapa pemain penting seperti Yuran Fernandes dan Victor Luiz sebagai bagian dari upaya menjaga fondasi tim.
Jika langkah serupa dilakukan terhadap Lagator, maka itu bukan sekadar keputusan mempertahankan satu pemain asing. Ini adalah bagian dari upaya menjaga identitas permainan yang mulai terbentuk.
PSM tampaknya mulai memahami bahwa membangun tim kompetitif bukan hanya soal mendatangkan nama besar setiap musim. Stabilitas skuad dan kontinuitas filosofi permainan sama pentingnya.
Dan dalam kerangka itu, Dusan Lagator kini bukan lagi sekadar pemain tambahan.
Ia perlahan menjelma menjadi bagian penting dari struktur baru PSM Makassar.





