Rofik (38) asyik berbincang dengan anak dan istrinya melalui telepon selulernya di bale-bale yang menghadap ke Kali Angke, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, sembari menunggu dua perahu pencari ikannya mendarat, Kamis (21/5/2026).
Rofik merupakan pengusaha kecil yang mengoperasikan tiga perahu berukuran 3 meter x 10 meter untuk mencari ikan tembang di kawasan perairan Kepulauan Seribu. Namun, sudah seminggu terakhir ini satu perahunya dibiarkan tertambat di dermaga tepi Kali Angke, tidak beroperasi. ”Gak kuat lagi, Mas,” cetusnya ketika ditanya kenapa satu perahunya dibiarkan tidak melaut.
”Minggu lalu, selama empat hari, saya mengoperasikan semua perahu keluar Rp 12 juta untuk modal melaut. Namun, hasilnya tidak sebanding,” tambah Rofik.
Nelayan merapikan jaringnya setelah melaut di perairan Kepulauan Seribu. (KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO)
Menunjukkan ikan hasil melaut. (KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO)
Wareh beristirahat di atas perahunya setelah pulang dari menangkap rajungan. (KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO)
”Sekarang melaut sekuatnya saja. Kalau dipaksakan, bisa boncos, apalagi hasilnya tidak bisa dipastikan juga,” lanjutnya. Menurut Rofik, saat ini modal untuk melaut setiap perahunya sekitar Rp 500.000. Itu untuk membeli solar dan bekal makanan bagi lima awak perahu selama sehari melaut. Sebagian besar modal itu habis untuk membeli solar. Untuk sekali melaut, setiap perahunya membutuhkan sekitar 30 liter solar.
”Harga solar sudah tidak masuk akal. Sejak perang, harganya naik dari Rp 9.000 menjadi Rp 13.500 per liter. Padahal, harga ikan tembang hanya naik Rp 500 perak menjadi Rp 5.000 per kilonya,” lanjutnya. Rofik memang tidak menjadi anggota perkumpulan nelayan di wilayah itu sehingga tidak mendapat jatah solar bersubsidi yang berharga Rp 6.800 per liter. Dia harus membelinya di pedagang solar eceran, yang harganya setiap saat bisa berubah.
Hal senada juga dikeluhkan oleh Waleh (49), yang baru saja menambatkan perahunya tak jauh dari tempat Rofik. Berbeda dengan Rofik, Waleh bersama dua anak buahnya melaut untuk mencari rajungan di sekitaran Kepulauan Seribu. ”Kali ini hasilnya hanya impas modal,” katanya ketika ditanya berapa hasil melautnya.
Bermodal Rp 400.000, hari ini Waleh hanya berhasil menjebak rajungan dengan total seberat 5,9 kilogram. Rata-rata rajungan dengan ukuran sekepalan tangan orang dewasa dihargai oleh pengepul Rp 80.000 per kilogram. Dari berat rajungan yang didapat, dia dan dua anak buahnya mendapatkan uang tak sampai Rp 500.000. Meskipun solar yang dibutuhkan hanya 10 liter, Waleh banyak mengeluarkan uang untuk membeli ikan sebagai umpan rajungan dan bekal makanan selama di laut.
Sama seperti Rofik, Waleh yang merupakan nelayan asal Indramayu ini tidak memiliki pass untuk membeli solar bersubsidi di SPBU nelayan Muara Angke sehingga ia harus membeli secera eceran. ”Dulu waktu harga solar masih Rp 8.000 seliter, lumayan, masih ada untung untuk dibagi bertiga,” pungkasnya.
Kelangkaan solar mulai sering terjadi sejak sebulan terakhir ini seiring dengan naiknya harga minyak dunia akibat perang Iran melawa Israel dan Amerika Serikat. Para nelayan kecil seperti Rofik dan Waleh berharap pemerintah dapat segera menurunkan kembali harga solar dan mudah diperoleh sehingga kembali menggerakkan roda perekonomian mereka.





