Dampak Pelemahan Rupiah di Meja Makan Keluarga

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Pelemahan rupiah terhadap dollar AS sering dianggap sebagai masalah ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, bagi banyak rumah tangga di Indonesia, dampak lesunya nilai tukar rupiah itu sampai ke meja makan keluarga.

Septiana (36), seorang ibu tiga anak di Kota Bandar Lampung, tersenyum getir saat membaca pesan Whatsapp dari penjual ayam ungkep langganannya. ”Mulai hari ini, harga paket ayam goreng ungkep naik dari Rp 50.000 menjadi Rp 55.000 ya, Bu,” begitu isi pesan yang diterimanya.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga itu mungkin tergolong kecil, hanya Rp 5.000. Namun, bagi Septiana, perubahan harga semacam ini sangat berdampak. Apalagi, kenaikan harga sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Tak hanya ayam goreng, berbagai kebutuhan pokok rumah tangga, mulai dari minyak goreng, telur, beras, daging, hingga elpiji nonsubsidi, ikut naik. Bahkan, tempe dan tahu yang menjadi lauk paling terjangkau kini ukurannya semakin tipis.  

Bagi keluarga Septiana, dampak melemahnya nilai tukar rupiah terlihat dari daftar belanja makanan yang semakin berkurang. Setiap hari, ia harus menyiapkan setidaknya Rp 100.000 untuk belanja berbagai kebutuhan rumah tangga.

”Dulu uang Rp 50.000 itu cukup untuk kebutuhan keluarga setiap hari. Kalau sekarang tidak cukup karena harga kebutuhan rumah tangga semuanya naik,” kata Septiana saat diwawancarai di Bandar Lampung, Kamis (21/5/2026).

Untuk menyiasati tingginya biaya hidup, Septiana memilih memasak sendiri di rumah. Oleh karena itu, ia memilih berlangganan ayam ungkep agar lebih praktis menyiapkan makanan untuk keluarga.

Saat harga ayam ungkep ikut naik, Septiana harus memutar otak agar pengeluaran bulanan keluarganya tidak jebol. Salah satunya dengan mengatur jenis lauk-pauk keluarga agar tetap sesuai bujet.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 17.500, Ini Dampak dan Tips Menghadapinya

”Kalau lagi bokek di akhir bulan seperti ini, kita pilih lauk telur, tempe, atau tahu. Sekarang pun ukuran tempe dan tahu jadi semakin tipis,” ucapnya sambil tertawa getir.   

Tak hanya itu, keluarganya juga harus mengurangi jatah makan di rumah makan. Sebelumnya, dia biasa mengajak anak-anaknya makan di rumah makan setiap akhir pekan. ”Kalau sekarang lihat sisa saldo dulu di rekening, kira-kira masih cukup enggak sampai akhir bulan,” ujarnya lagi.

Hal serupa juga diutarakan oleh Sundari (36), ibu tunggal yang harus menafkahi dua anaknya. Sejak bercerai dengan sang suami lima tahun lalu, ibu pekerja dengan gaji setara upah minimum regional (UMR) itu harus pintar-pintar mengatur uang agar cukup untuk biaya hidup satu bulan.

Perempuan lulusan SMA itu tidak begitu paham istilah pelemahan rupiah atau bagaimana nilai tukar mata uang memengaruhi perekonomian suatu negara. Dia juga tidak mengikuti pergerakan dollar AS di layar televisi atau berita pasar keuangan.

Baca JugaRealitas di Balik Konten ”Rp 10.000 di Tangan Istri yang Tepat”, Humor Pahit dari Dapur Keluarga

Namun, Sundari merasa dampaknya secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Harga kebutuhan dapur yang terus naik membuatnya harus lebih berhemat dan menahan diri untuk membeli barang-barang kebutuhan pribadi, seperti tas, sepatu, dan sekadar daster baru.

”Jangankan mau menabung atau membeli barang baru, gaji bisa cukup untuk kebutuhan makan, bayar listrik, beli bensin, dan kebutuhan sekolah anak-anak saja sudah alhamdullah,” ucap Sundari.

Pelaku usaha

Tak hanya rumah tangga, dampak pelemahan rupiah juga dirasakan oleh Puspa (33), seorang pengusaha katering makanan di Bandar Lampung. Kenaikan harga berbagai bahan pokok membuat belanja modal membengkak.

Kenaikan harga paling tinggi dirasakan pada harga ayam yang mencapai Rp 35.000–Rp 38.000 per kilogram. Selain itu, harga minyak goreng kemasan naik menjadi Rp 230.000 per karton. Harga berbagai jenis sayuran, seperti buncis dan selada, juga naik.

Baca JugaKenaikan Suku Bunga Acuan, ”Ongkos” yang Harus Dibayar untuk Menstabilkan Rupiah

Dulu uang Rp 50.000 itu cukup untuk kebutuhan keluarga setiap hari. Kalau sekarang tidak cukup karena harga kebutuhan rumah tangga semuanya naik.

Masalahnya, Puspa tidak bisa dengan mudah menaikkan harga karena bisa kehilangan langganan. Apalagi, dia merasa daya beli rumah tangga saat ini tidak sebaik tahun-tahun lalu. ”Sebagian menu memang harus upgrade harga dan ada beberapa menu harus yang dikurangi porsinya,” ucapnya.

Meski terpaksa menaikkan harga, Puspa harus bersiasat dengan memberikan promo setiap bulan. Itu semua dilakukan agar usaha kateringnya tetap mendapat pesanan dari pelanggan dan konsumen baru.

”Pokoknya saya harus mikir gimana caranya bisa dapat orderan setiap hari. Walaupun margin keuntungan sekarang makin menipis,” ujarnya.

Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Lampung, Pujiati, berpendapat, dalam perspektif pendidikan ekonomi, tekanan ekonomi yang terjadi sangat berpengaruh terhadap pengeluaran keluarga, terutama mereka dengan pendapatan menengah ke bawah.

”Harga-harga naik, tetapi pendapatan cenderung stagnan hingga menggerus tabungan (keluarga),” katanya.

Pujiati menyebut, masyarakat harus bijaksana dalam mengatur kebutuhan rumah tangga di tengah tekanan ekonomi seperti sekarang. Mereka harus memprioritaskan kebutuhan pokok, seperti kebutuhan pangan dan pendidikan keluarga.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 17.300, Dompet Rumah Tangga dan UMKM Bisa Kempes

Dia menambahkan, literasi keuangan berperan penting agar rumah tangga, khususnya kelas menengah ke bawah, tidak terjerembap pada utang konsumtif di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

Menurut Pujiati, hasil studi mahasiswa di Program Studi Pendidikan Universitas Lampung Ekonomi menunjukkan adanya peningkatan perilaku konsumtif, terutama di masyarakat dengan literasi keuangan yang rendah. Apalagi, saat ini, banyak konten kretaor yang mempromosikan berbagai produk yang bisa mendorong seseorang untuk berbelanja secara impulsif.

Sebelumnya, Direktur Kolaborasi Internasional Indef Imaduddin Abdullah mengatakan, pelemahan rupiah bisa berdampak pada kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok, termasuk BBM. Itulah mengapa, pelemahan rupiah bakal berpengaruh pada kehidupan masyarakat, termasuk di perdesaan.

”Banyak barang yang dipakai warga desa dan harganya sangat dipengaruhi (nilai tukar) dolar, mulai dari BBM, LPG, pupuk, obat, pakan ternak, alat pertanian, bahan pangan impor, sampai ongkos logistik. Kalau rupiah melemah, biaya impor naik, biaya produksi naik, lalu pelan-pelan masuk ke harga barang di pasar atau warung. Jadi, dampaknya tetap sampai ke desa walaupun tidak langsung kelihatan,” kata Imaduddin (Kompas.id, 17/5/2026).

Itulah mengapa, bagi banyak keluarga di Tanah Air, pelemahan rupiah bukan sekadar angka yang bergerak di pasar uang. Saat ini, banyak keluarga di Indonesia yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang terasa hingga ke meja makan keluarga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pasang Nama di Stasiun LRT Dukuh Atas, BSI Targetkan 2 Juta Nasabah Emas
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
PT KAI Eksekusi 80 Perlintasan Sebidang Berbahaya, 1.800 Titik Tak Dijaga Jadi Sorotan
• 12 jam laludisway.id
thumb
Rundown MMAJ Jakarta 2026: Ada Guest Star Jepang hingga Movie Screening Eksklusif
• 6 jam lalubeautynesia.id
thumb
Bekali Keterampilan Wastra, Dekranas Gelar Bimtek bagi UMKM Alor
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Kacau! Model Cantik Penyebar Hoaks Dibacok Begal Ternyata Cuma Bisulnya Pecah
• 2 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.