JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab sejumlah wilayah di Indonesia masih mengalami hujan meski saat ini sudah memasuki musim kemarau 2026.
Dalam beberapa hari terakhir, kondisi cuaca di berbagai daerah masih menunjukkan dinamika atmosfer khas masa peralihan musim.
Dalam "Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 22 - 28 Mei 2026", BMKG melalui laman resminya menjelaskan, berkurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif.
Akibatnya, suhu udara pada siang hari terasa lebih panas dibanding biasanya. Pada periode 18-20 Mei 2026, suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius masih terpantau di beberapa wilayah seperti Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.
Baca Juga: Warga Jakarta Siap-Siap, Jumat 22 Mei Sore Ini Diprediksi Hujan Hampir Merata!
Kondisi panas terik pada pagi hingga siang hari tersebut justru dapat memicu pembentukan awan hujan pada sore hingga malam hari.
Peluang hujan semakin besar di wilayah yang memiliki kelembapan udara cukup tinggi karena atmosfer mendukung pertumbuhan awan konvektif.
BMKG juga mencatat masih terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di sejumlah daerah pada periode yang sama.
Curah hujan harian tertinggi tercatat di Jawa Barat mencapai 133,1 mm per hari, Sulawesi Selatan 112,8 mm per hari, Jawa Timur 105,2 mm per hari, dan Sumatera Utara 105,0 mm per hari.
Selain itu, hujan lebat juga terjadi di DKI Jakarta dengan curah hujan 68,6 mm per hari, Papua Tengah 63,6 mm per hari, Kalimantan Barat 62,1 mm per hari, serta Jambi 54,6 mm per hari.
Penulis : Dian Nita Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- bmkg
- hujan
- musim kemarau 2026





