Bagi banyak orang, ruas Jalan Tol Porong-Gempol, Sidoarjo, Jawa Timur, adalah cerita kejayaan yang sudah berlalu. Semburan lumpur Lapindo yang terjadi hampir 20 tahun lalu menyebabkan ruas jalan tol sepanjang 6 kilometer ditutup. Jalan yang menjadi penyambung ekonomi tersebut tidak lagi menjadi penting dan lama ditinggalkan.
Di Kecamatan Jabon, sebagian dari ruas jalan tersebut masih ada. Begitu juga jembatan penyeberangan masih terlihat jelas walau sudah rusak dan berkarat pagarnya. Di pinggir kiri dan kanannya banyak tumbuh semak belukar dan sejumlah warung semipermanen dibangun, seperti terlihat pada Kamis (21/5/2026).
Penutupan Tol Surabaya-Gempol dilakukan pada 8 Agustus 2006. Kendaraan dari Surabaya yang akan ke Gempol dikeluarkan di Pintu Tol Porong. Alasan utama penutupan waktu itu untuk mengevaluasi kekuatan tanggul yang menahan luapan lumpur di Km 37,800 hingga Km 39 Porong. Semburan yang tak kunjung berhenti menyebabkan volume lumpur makin bertambah dan ruas jalan tol tersebut dinilai berbahaya untuk dilintasi.
Walau telah ditutup, sisa ruas jalan tersebut masih menghadirkan manfaat bagi warga sekitar. Jalan yang cukup sepi pada hari-hari biasa berubah menjadi ramai pada Minggu pagi. Aktivitas ekonomi berdenyut di hari itu. Puluhan pedagang berjualan di sepanjang jalan dengan menawarkan berbagai barang, mulai dari pakaian, pekakas rumah tangga, hingga aneka makanan. Warga datang dengan bersepeda motor juga berjalan kaki. Sejumlah pemilik dokar ikut meramaikan dengan menawarkan jasa mengantarkan warga berkeliling.
Suyono, salah seorang pedagang yang datang dari Kecamatan Bangil, Pasuruan, mengaku sebagai salah satu pedagang yang berjualan dari awal. ”Dulu hanya ada tiga orang yang berjualan, termasuk saya. Saya lupa tahun berapa. Saya sejak dulu berjualan kopiah,” ujar Suyono.
Pedagang lainnya adalah Suhartati yang berasal dari Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. ”Saya sudah berjualan hampir lima tahun. Ya, sejak pagi hari. Memanfaatkan keramaian warga. Sekali datang, saya menyediakan 15 jenis es aneka rasa. Habis jalan-jalan, banyak warga yang haus,” tutur Suhartati yang setiap kali berjualan mengeluarkan modal Rp 1,5 juta.
Berfoto dengan latar belakang Sungai Porong. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Bersantai bersama keluarga. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Pedagang tertidur. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Hingga kini, hampir 20 tahun semburan lumpur Lapindo masih belum berhenti. Sejak terjadi, 16 desa di tiga kecamatan di Sidoarjo terdampak dan menyebabkan puluhan ribu orang direlokasi. Di beberapa tempat yang terdampak, warga mulai beradaptasi, salah satunya dengan berjualan di pasar Minggu pagi di bekas jalan tol. Aktivitas ringan dan menyenangkan tersebut seolah menjadi penghibur lara bagi trauma berkepanjangan warga yang pernah tinggal di sana.





