HUT BJB ke 65, Pesan Dedi Mulyadi: Reformasi Sistem Upah dan Kredit ASN Jelang Pensiun

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com,BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti persoalan kesejahteraan pegawai, disparitas sistem pengupahan, hingga skema kredit Bank BJB bagi aparatur sipil negara (ASN) menjelang masa pensiun.

Dalam arahannya saat perayaan Ulang Tahun Bank BJB ke 65, Dedi Mulyadi meminta adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada ASN senior, khususnya terkait suku bunga pinjaman menjelang pensiun.

Menurutnya, ASN yang selama puluhan tahun menjadi nasabah loyal dan disiplin membayar cicilan seharusnya mendapat bentuk apresiasi berupa penurunan bunga kredit saat mendekati masa pensiun.

“Misalnya ASN selama 30 tahun menjadi peminjam setia dan tidak pernah telat bayar. Ketika menjelang pensiun tiga atau empat tahun, bisa tidak suku bunganya diturunkan sebagai bentuk apresiasi,” katanya dikutip Jumat (22/5/2026).

Ia menilai kebijakan tersebut penting karena pendapatan ASN biasanya mulai menurun menjelang pensiun, sementara mereka tetap harus mempersiapkan kebutuhan hidup di masa tua.

Selain itu, Dedi juga menyoroti ketimpangan sistem pengupahan di Indonesia yang dinilai terlalu mengutamakan jabatan struktural dibanding pekerja lapangan.

Baca Juga

  • Dukung Komunitas Lari, Bank BJB Buka Akses Slot Dieng Caldera Race 2026
  • Bank BJB dan PT Taspen Perkuat Sinergi Layanan Pembayaran Manfaat Pensiun
  • BJB Tebar Dividen, Susi Pudjiastuti Komut

Menurut dia, disparitas gaji yang terlalu tinggi membuat banyak orang lebih tertarik mengejar posisi struktural ketimbang bekerja di sektor operasional yang menjadi tulang punggung produktivitas.

“Marketing yang kehujanan dan kepanasan kurang diminati karena orang lebih mengejar jabatan struktural yang pekerjaannya lebih ringan tetapi gajinya besar,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan produktivitas, baik di lingkungan birokrasi maupun sektor nonbirokrasi.

Karena itu, pemegang saham pengendali ini meminta Bank BJB mulai membangun sistem penghargaan berbasis kinerja dan produktivitas, termasuk berani memangkas disparitas penghasilan di internal perusahaan.

“Kalau ingin menjadi bank modern, disparitasnya harus dihilangkan. Berani memangkas gaji pejabat, kemudian meningkatkan kesejahteraan pegawai yang bekerja loyal dan produktif,” ujarnya.

KDM menilai sistem penghargaan seharusnya diberikan kepada pegawai dan cabang yang benar-benar menghasilkan kinerja terbaik, bukan dibagi rata tanpa mempertimbangkan produktivitas.

“Cabang yang paling produktif dan bekerja keras harus lebih dihargai. Jangan sampai yang bekerja keras tidak dihargai, sementara yang leha-leha mendapat banyak,” katanya.

Pihaknya juga menegaskan budaya kerja berbasis prestasi perlu dibangun agar pegawai lebih fokus meningkatkan kinerja dibanding sekadar mengejar jabatan.

Ia juga menggambarkan filosofi kepemimpinannya yang menempatkan kerja keras sebagai dasar penghargaan dalam organisasi.

“Orang yang paling dekat itu orang yang paling capek, paling sering disuruh, paling harus mau berkorban, paling sering ditelepon, dibangunkan malam, disuruh pagi, bergerak setiap waktu tidak pernah berhenti. Nanti seiring dengan apa yang dia dapat, karena itulah bekerja,” ujarnya.

Menurut Dedi, pola kerja tersebut menjadi bagian penting untuk membangun budaya organisasi yang produktif dan kompetitif.

“Orang harus merasa bahwa yang dihargai itu prestasi, bukan semata jabatan,” tandasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wamenkeu Klaim Minat Investor ke SBN Masih Tinggi
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kafe Resto di Pangandaran Ludes Terbakar, Pemadaman Sempat Terkendala Angin Kencang
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Rumah di Tambora Rusak Akibat Ledakan Tabung Gas, Satu Orang Alami Luka Bakar
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Corfe bakal Berikan yang Terbaik untuk PSIM di Laga Pamungkas
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Sempat Batal, Trump Bilang Akan Kirim 5.000 Tentara ke Polandia
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.