Menatap Masa Depan Sembari Menyesap Budaya yang Lestari di Guangzhou

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kedigdayaan ekonomi China yang sudah merambah kepada pesatnya perkembangan teknologi, tidak serta merta membuat Guangzhou melepas identitas budaya leluhur, sehingga masih mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Budaya yang tak lekang oleh waktu selama berabad-abad lamanya ini masih terlihat di sudut-sudut perkotaan Guangzhou. Kota metropolitan yang juga disebut Kota Canton ini mengalokasikan sumber dayanya sedemikian rupa untuk merawat peninggalan historis.

kumparan bersama 15 jurnalis lainnya dari 8 negara Asia Pasifik berkesempatan menyambangi Guangzhou dalam rangkaian program APEC-themed Media Training yang diadakan China International Press Communication Center (CIPCC).

Kami sempat mencicipi perkembangan teknologi yang disuguhkan di Pazhou AI Mofac, Haixinsha Omni-Space Intelligent Experience Center, hingga Zhongshan Ophtalmic Center, Sun Yat-Sen University. Guangzhou berhasil menjelma sebagai salah satu ekosistem terdepan dalam pengembangan robot dan kecerdasan buatan (AI) di China, hingga menjadi rumah bagi EHang, perusahaan pelopor taksi terbang nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) di dunia.

Salah Satu Ekonomi Terbesar di China

Guangzhou merupakan ibu kota dan pusat politik, ekonomi, teknologi, hingga budaya di Provinsi Guangdong. Menurut laman resmi Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau, Guangzhou merupakan pusat perdagangan internasional sekaligus pusat transportasi di China.

Kota ini memiliki luas total 7.434,40 kilometer persegi. Biro Statistik Guangzhou mencatat kota ini memiliki populasi tetap sebanyak 18.978.000 penduduk pada akhir tahun 2025.

Industri teknologi menjadi salah satu sumbangsih terbesar bagi pertumbuhan ekonomi di kota yang termasuk dalam kawasan teluk besar (Greater Bay Area/GBA) tersebut. Pada kuartal I 2026, Guangzhou menempati urutan keempat dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di daratan China.

Berdasarkan data Biro Statistik Guangzhou, PDB kota tersebut mencapai 798,888 miliar yuan pada kuartal I 2026, meningkat 6 persen secara tahunan atau di atas rata-rata nasional. Sementara sepanjang tahun 2025, PDB Guangzhou mencapai 3.203,946 miliar yuan atau naik 4 persen secara tahunan.

Saat ini, Guangzhou tengah memasuki babak baru revolusi teknologi dan transformasi industri. Pusat perdagangan yang berusia ribuan tahun ini tetap kokoh di tengah ketidakpastian ekonomi yang melanda dunia, tidak terkecuali China.

Hal tersebut terlihat dari nilai tambah industri Guangzhou pada kuartal I 2026 meningkat sebesar 6,5 persen secara tahunan, dengan industri utama yakni otomotif yang naik 5,5 persen, dengan produksi kendaraan energi baru yang melesat 36,1 persen.

Khusus sektor industri teknologi informasi baru, Guangzhou mencatatkan nilai tambah pada manufaktur sirkuit terpadu, perangkat pintar, komponen elektronik, dan material khusus elektronik masing-masing sebesar 1,1 kali, 25 persen, dan 23 persen, serta output chip analog, layar, dan robot layanan meningkat masing-masing sebesar 25,1 persen, 15,6 persen, dan 11, persen.

Sebagai pusat perdagangan, Guangzhou mencatatkan total penjualan ritel barang konsumsi mencapai 309,217 miliar yuan pada kuartal I 2026, meningkat 6,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara dari sisi investasi, pada periode yang sama, kota ini merealisasikan kenaikan 9,8 persen secara tahunan.

Jika dilihat berdasarkan sektor, investasi industri di Guangzhou tumbuh sebesar 8,5 persen, dengan investasi peningkatan teknologi industri meningkat sebesar 24,5 persen, terbesar dari subsektor lainnya.

Renegenerasi Kawasan Tua

Tidak sampai di situ, kumparan juga diajak menelusuri jejak-jejak bersejarah di kawasan tua (old quarter). Salah satu kawasan yang terkenal di Guangzhou yakni Yongqingfang. Beberapa bangunan yang paling ikonik di sini yakni rumah leluhur Bruce Lee dan Golden Cinema, bioskop ber-AC pertama di Guangzhou.

Pada akhir pekan, Yongqingfang sangat dipadati oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Gang sempit itu terhubung ke Jalan Pejalan Kaki Shangxiajiu di Distrik Liwan yang ikonik dengan bangunan-bangunan tua yang masih terawat dan dialihfungsikan menjadi toko yang trendi, sehingga sangat digemari oleh generasi muda.

Lautan manusia di jalan setapak yang sempit dan lembabnya cuaca kawasan teluk tidak membuat semangat kami luntur untuk menuntaskan perjalanan di Yongqingfang untuk meredakan rasa penasaran.

Wakil Kepala Insinyur dan Direktur Lembaga Penelitian Kota Bersejarah dan Budaya, Guangzhou Urban Planning and Design Survey Research Institute Co Ltd, Sun Yongsheng, menjelaskan Yongqingfang merupakan salah satu proyek regenerasi kota tua di Guangzhou yang berhasil memertahankan identitas asli.

"Ini adalah contoh khas dari mikro-renovasi gaya bordir. Pada masa lalu, proyek regenerasi seringkali berfokus pada perluasan ruang fisik. Namun dengan proyek ini, kami mempertahankan ruang asli dan melakukan peningkatan pada ruang yang ada," jelasnya saat berbincang dengan awak media, Sabtu (25/4).

Kawasan Yongqingfang dibangun pada tahun 1253 saat awal pemerintahan Baoyou dari Dinasti Song Selatan. Masa kekaisaran tersebut identik dengan puncak peradaban seni. Kemudian selama Dinasti Ming dan Qing, tempat ini merupakan salah satu pusat politik, ekonomi, dan budaya Guangzhou.

Sun menuturkan, struktur jalan setapak berbatu tradisional berhasil terpelihara dengan baik. Selain itu, seluruh arsitektur juga masih dijaga dengan baik seiring dengan penambahan fungsi baru sebagai ruang komersial.

Adapun gang tersebut memang mempertahankan sejumlah besar bangunan bergaya Lingnan, termasuk bebatuan kuno yang masih eksis dalam struktur jalan setapak yang usianya hampir 1.000 tahun.

"Sehingga menarik minat dan perhatian kaum muda ke area sejarah dan budaya ini, memastikan bahwa area ini tetap dinamis dan penuh kehidupan," ujar Sun.

Ia menambahkan, regenerasi kawasan tua ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan sejarah dan penataan lingkungan, namun juga seraya meningkatkan kesejahteraan penduduk dan warga setempat.

Pasalnya, kawasan yang berubah wajah menjadi destinasi wisata dan ruang komersial ini berhasil menggaet ratusan bahkan ribuan pengunjung setiap harinya. Dengan demikian, penghuni setempat juga dapat kecipratan cuan yang berkelanjutan.

"Kami melestarikan warisan sejarah dan budaya, dan juga melakukan peningkatan yang sangat baik pada ruang industri atau komersial," kata Sun.

Selain melihat bangunan tradisional yang khas, wisatawan juga bisa mampir ke Cantonese Opera Art Museum di Yongqingfang. Sun mengatakan, kawasan tua ini dulunya merupakan Xiguan, berada tepat di luar gerbang barat Kota Guangzhou kuno.

Museum ini juga rutin menyelenggarakan penampilan Yueju Opera, yang menjadi salah satu daya tarik dan bagian paling penting dalam pelestarian budaya yang terintegrasi dengan penggemar di kawasan Yongqingfang. Kesenian ini juga sudah masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage oleh UNESCO.

"Beberapa identitas sosial tradisional masih tetap ada di sini, salah satunya adalah Opera Canton, kita masih memiliki banyak kelompok pertunjukan profesional dan juga para penggemar di lingkungan ini," tutur Sun.

Pemberdayaan Penduduk Asli

Yongqingfang bukan satu-satunya kawasan tua yang berhasil diregenerasi oleh otoritas setempat. Sun mengungkapkan setidaknya terdapat 26 kawasan tua yang sama dan tersebar di seluruh wilayah Guangzhou.

"Secara keseluruhan terdapat 26 kawasan bersejarah dan budaya di Guangzhou, total luas kawasan tersebut mencapai 4,5 kilometer persegi. Setiap kawasan ini melestarikan arsitektur yang telah terbentuk selama lebih dari 100 tahun," ungkap Sun.

Di kawasan tua tersebut, lanjut Sun, terdapat 176 pasar dengan berbagai jenis barang layaknya pusat atau klaster industri, misalnya ada pasar hanya menjual kain atau barang-barang hasil logam. Hal ini menandakan ciri khas Guangzhou sebagai pusat perdagangan dan jaringan maritim penting selama ribuan tahun.

Ia pun mencontohkan terdapat 13 rumah pedagang satu-satunya diizinkan untuk berdagang dengan dunia luar, bahkan selama periode paling tertutup di China yakni pada akhir Dinasti Qing, seluruhnya berlokasi di Guangzhou.

"Sejarahnya masih sangat hidup. Budayanya pun masih sangat hidup. Penduduk asli masih tinggal di bangunan-bangunan tersebut," ujar Sun.

Regenerasi kawasan tua yang diimplementasi oleh Guangzhou tidak memaksa penduduk asli untuk pindah. Bahkan, otoritas setempat membentuk komunitas yang dapat mempromosikan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Sun menuturkan, setidaknya terdapat dua pendekatan. Pertama, bagi penduduk setempat yang tidak ingin direnovasi tempatnya, maka tidak ada paksaan bagi mereka dan mencari solusi lain dalam peningkatan fungsi ruang publik. Di sisi lain, otoritasnya juga menghormati keputusan penduduk yang membolehkan regenerasi menjadi bisnis baru.

"Proyek ini fungsi utamanya tetap sebagai rumah bagi penduduk setempat. Jadi, fungsi sekundernya hanya pariwisata dan kami akan melakukan banyak hal untuk memastikan tempat ini tidak akan mengalami gentrifikasi," tegasnya.

Berdasarkan KBBI, gentrifikasi memiliki arti perpindahan penduduk kelas ekonomi menengah ke wilayah yang baru saja diperbaharui atau mengalami modernisasi. Hal ini kerap menjadi momok bagi warga lokal yang huniannya berada di destinasi wisata bersejarah.

Penduduk asli memang seharusnya tidak boleh menjadi korban di tanah sendiri yang dipoles sedemikian rupa untuk menjadi penarik wisatawan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan pemerintah setempat, atau bahkan pemodal besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
VinFast VF MPV 7 Rakitan Subang, Bawa Fitur Baru Sesuai Kebutuhan Konsumen
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Chery Q Ramaikan Segmen Compact EV, Hadir Bawa Diferensiasi Esensial
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Bahas Teknologi Energi di Istana, Konversi Motor BBM ke Listrik Kembali Disorot
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Breaking! Menlu Sugiono Sebut 9 WNI Resmi Dibebaskan Tentara Israel
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dukung Presiden Prabowo, PP ISMAHI Tekankan Pentingnya Persatuan Nasional
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.