IEA Ungkap Konsumsi Minyak Dunia Mulai Turun di Tengah Eskalasi Krisis Timteng

suarasurabaya.net
5 jam lalu
Cover Berita

Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan, konsumi minyak dunia saat ini mulai menunjukkan penurunan di tengah krisis dan konflik di Timur Tengah.

“Kami melihat permintaan minyak global sudah mulai menurun. Jika harga melonjak lebih tinggi lagi, penurunan ini akan semakin terlihat jelas,” ucap Fatih Birol Direktur Eksekutif IEA, Kamis (21/5/202).

Ia menambahkan, situasi pasar minyak global berpotensi untuk menjadi lebih sulit pada musim panas mendatang apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka.

“Masalahnya, pada akhir Juni hingga awal Juli, musim liburan dimulai. Apa artinya? Biasanya, permintaan dan konsumsi minyak akan melonjak. Akibatnya, stok minyak menipis, sementara tidak ada pasokan minyak baru yang keluar dari Timur Tengah. Situasi ini bisa menjadi sulit dan kita mungkin akan memasuki Zona Merah,” terangnya, dilansir dari Antara.

Menurutnya, situasi krisis saat ini merupakan krisis paling besar daripada gabungan seluruh krisis energi yang pernah terjadi sebelumnya.

Akibat krisis tersebut, pasar kehilangan pasokan sekitar 14 juta barel minyak per harinya. Sebagai perbandingan, gangguan pasokan selama krisis minyak pada tahun 1970-an hanya mencapai 10 juta barel.

Selain kehilangan belasan juta barel pasokan minyak, pasar juga kehilangan pasokan gas yang saat ini telah menembus 130 miliar meter kubik.

Saat awal krisis ini terjadi, kondisi pasar masih memiliki surplus stok minyak dan cadangan yang tinggi, sehingga dapat membendung dampak krisis. Namun, cadangan tersebut perlahan mulai menipis.

Birol mengatakan, negara-negara anggota IEA telah melepaskan cadangan darurat mereka ke pasar, sedangkan beberapa negara lain telah mengurangi konsumsi minyak domestik. Meski demikian, ia menilai seluruh langkah tersebut belum cukup.

“Satu-satunya solusi paling penting untuk masalah ini adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat,” tuturnya.

Sebagai informasi, Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, dan dibalas oleh Iran dengan serangan ke Israel dan beberapa pangkalan AS di negara Teluk.

Pada 7 April, gencatan senjata terjadi antara AS dan Iran selama dua minggu. Perundingan negosiasi antara dua negara tersebut terjadi di Islamabad, Pakistan, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan apapun.

Eskalasi konflik tersebut membuat Iran melakukan blokade terhadap Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dari Teluk Persia ke pasar global.

Akibatnya, ekspor dan produksi minyak terganggu yang berimbas pada kenaikan harga bahan bakar dan produk-produk industri. (ant/vve/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Skuad Norwegia di Piala Dunia 2026: Odegaard dan Haaland Jadi Andalan
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi Sebut Sopir Taksi Green SM Lalai dalam Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Ahmad Sahroni Desak Kapolri Pecat Oknum Aparat Nakal yang jadi Beking Kejahatan
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Sopir di Kelapa Gading Jakut Ditangkap usai Diduga Perkosa ART
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Bus Rombongan Mahasiswa Unand Dipungli Rp 450 Ribu di Lembah Anai, Polisi Cek
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.