PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (DJKA) masih mengkaji kembali potensi pengembangan LRT hingga Bogor, dengan rencana sampai kawasan Baranangsiang.
“Secara master plan, dulu memang sudah ada rencana sampai Bogor, kalau tidak salah sampai Baranangsiang," kata Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, dalam Peresmian Stasiun LRT Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia di Jakarta Pusat, Jumat (22/5).
"Kami dengan DJKA tentunya sedang mengkaji kembali potensi bisnis, potensi TOD, sehingga biaya yang besar itu kita bisa justifikasi dengan peningkatan penumpang,” sambungnya.
Gede menjelaskan, jalur Bogor saat ini menjadi penyumbang sekitar 50 persen trafik harian KRL di Jakarta. Dari total sekitar 1,1 juta penumpang per hari yang dilayani KAI Commuter, sekitar 500 ribu penumpang berasal dari Bogor Line.
“Jadi mengenai kapan LRT itu bisa membantu mengurangi beban Bogor Line memang sangat valid, dan itu masih dalam kajian kami, rute nya lewat mana dan lain sebagainya,” ucap Gede.
Selain kajian ekstensi LRT, KAI juga tengah melakukan studi penambahan jalur KRL menuju Bogor hingga Sukabumi. Nantinya, layanan KRL direncanakan dapat mencapai Sukabumi. “Terus di Bogor pun kami menambah emplacement 678 yang sekarang lagi dibangun, itu per hari bisa meningkatkan kapasitas sekitar 80 dulu,” sebut Gede.
Ia menambahkan, transformasi Bogor Line juga memungkinkan rangkaian KRL menjadi 12 gerbong, sedangkan rangkaian LRT hanya terdiri dari empat gerbong. Menurutnya, penambahan kapasitas melalui KRL dapat memberikan daya angkut dua kali lebih besar dibandingkan penambahan LRT.
“Makannya apa pun yang bisa kami lakukan untuk mengurangi okupansi, supaya lebih nyaman di Bogor, itu kami lakukan dulu ya, di samping lakukan kajian untuk ekstensi dari LRT sendiri,” tutur Gede.





