Neraca Pembayaran Defisit US$ 9,1 M pada Kuartal I 2026, Terbesar dalam 2 Dekade

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Bank Indonesia mencatat, neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit mencapai US$ 9,1 miliar pada kuartal I 2026, terbesar secara kuartalan sejak 2004. Defisit jumbo ini terjadi seiring defisit transaksi berjalan yang membengkak, serta transaksi modal dan finansial yang berbalik arah dari surplus menjadi defisit.

Berdasarkan laporan NPI yang dipublikasikan BI pada Jumat (22/5), defisit neraca pembayaran pada kuartal I 2026, berbanding terbalik dibandingkan kuartal sebelumnya yang surplus US$ 6,1 miliar.

Transaksi berjalan mencatat defisit US$ 4 miliar dolar AS atau 1,1% dari PDB), naik dibandingkan kuartal sebelumnya US$ 2,5 miliar. Sedangkan transaksi modal dan finansial berbalik arah dari surplus US$ 9 miliar pada kuartal IV 2025 menjadi defisit US$ 4,9 miliar. 

Meski demikian, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdhan Denny menjelaskan, defisit transaksi berjalan terbilang tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global. "Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” ujarnya, dalam pernyataan resmi, Jumat (22/5).

Ia juga menegaskan, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar US$ 148,2 miliar, atau setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

BI mencatat, defisit transaksi berjalan terjadi seiring surplus neraca perdagangan yang mulai menurun seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Penurunan surplus neraca perdagangan barang nonmigas dipengaruhi oleh lebih rendahnya ekspor, terutama dalam bentuk produk manufaktur seperti olahan makanan, batu bara, dan alat elektronik. 

“Defisit neraca migas menyempit di tengah penurunan surplus neraca perdagangan barang nonmigas. Penurunan defisit neraca migas tersebut dipengaruhi oleh lebih rendahnya impor, sejalan dengan penurunan konsumsi gas domestik,” kata dia.  

Semantara itu, defisit pada transaksi modal dan finansial terutama disebabkan oleh defisit pada investasi lainnya yang mencapai US$ 7,8 miliar, berbalik dibandingkan kuartal sebelumnya yang surplus US$ 1 miliar.  Denny mencatat, kinerja ini dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan kas dan simpanan, serta aset lainnya di luar negeri. 

“Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan dari persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik yang tetap terjaga,” kata Denny.

Investasi portofolio juga tetap mencatat surplus sebesar US$ 730 juta, meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapi US$ 4,6 miliar. 

BI pun memperkirakan kinerja NPI 2026 diprakirakan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah dalam kisaran defisit 1,3% sampai dengan 0,5% dari PDB.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Namanya Terseret Sebagai Host yang Pernah Kasar ke Kru TV, Sule Beri Bantahan
• 4 jam lalucumicumi.com
thumb
Strategi Ganda Tekan Inflasi, Pemerintah Guyur Ratusan Ribu Kiloliter Minyakita Hingga Juni
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sebar Iklan Haji Palsu, 4 WNI Ditangkap Polisi Makkah
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Replika Kursi Firaun Laku Rp 80 Juta Dilelang Kejaksaan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
PDIP Dipuji Prabowo, Puan: Kritik Kami Konstruktif yang Membangun Pemerintah
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.