Seorang narapidana di Amerika Serikat lolos dari eksekusi mati, setidaknya sementara, karena kejadian tak terduga. Eksekusi dengan suntikan mematikan di negara bagian Tennessee itu dibatalkan setelah staf medis tidak dapat menemukan pembuluh darah yang sesuai.
Tony Carruthers, 57 tahun, dijadwalkan untuk dieksekusi mati pada hari Kamis (21/5) pagi di penjara di Nashville atas pembunuhan tiga orang pada tahun 1994.
Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tennessee mengatakan personel medis telah menemukan jalur infus utama untuk memberikan obat mematikan, tetapi tidak dapat menemukan pembuluh darah lain yang sesuai untuk cadangan, yang dibutuhkan berdasarkan protokol suntik mati Tennessee.
"Eksekusi kemudian dibatalkan," kata LP Tennessee dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (22/5/2026).
Amy Harwell, pengacara Carruthers mengatakan kepada USA Today, bahwa selama proses yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, kliennya itu kesakitan dan banyak darah mengalir saat staf medis berusaha menemukan pembuluh darah guna memberikan dosis pentobarbital yang mematikan.
Gubernur Tennessee Bill Lee memberikan penangguhan eksekusi selama satu tahun kepada Carruthers, yang tetap bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah.
Stacy Rector, direktur eksekutif organisasi Tennesseans for Alternatives to the Death Penalty (TADP), mengatakan "upaya eksekusi Tony Carruthers yang gagal ini mengerikan, tetapi tidak mengejutkan."
"TADP telah menyuarakan kekhawatiran selama bertahun-tahun tentang masalah serius dengan suntikan mematikan dan mendesak negara bagian kita untuk lebih transparan sehingga masalah-masalah ini dapat diatasi," kata Rector.
(ita/ita)





