Pedagang Pasar Waru Sebut Keuntungan Menipis akibat Harga Modal Naik

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Pedagang di Pasar Waru, Lagoa, Koja, Jakarta Utara, mengeluhkan keuntungan yang semakin menipis akibat kenaikan harga modal berbagai komoditas pangan sejak Lebaran 2026.

Hendri (45) salah seorang pedagang bumbu di Pasar Waru mengatakan, kenaikan harga bawang, cabai, hingga bahan pokok lain membuat biaya modal dagang ikut melonjak.

"Jadi keuntungan itu semakin tipis aja, gitu kan. Karena kan bahan, modalnya itu meningkat harganya. Sementara pendapatan ya gitu-gitu aja," ujar dia kepada Kompas.com, Jumat (22/5/2026).

Baca juga: Wajah Baru Pasar Waru Setelah Lama Diliputi Sampah

Ia menjelaskan, harga bawang merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp60.000 per kilogram.

Sementara harga cabai rawit kini mencapai Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram.

Sebagai pedagang, ia mengaku tidak memiliki pilihan selain menaikkan harga jual karena harga di pasar induk juga terus meningkat.

Baca juga: Harga Cabai-Bawang di Pasar Tangsel Diprediksi Masih Naik hingga Idul Adha

"Kalau pedagang ini, kami beli mahal, jual pun mahal juga. Itu udah enggak bisa kita pungkiri. Kalau kita belinya di pasar induk, ya kan, tinggi kita beli, tentu ada pula naik juga kita harganya," tutur dia.

Meski begitu, ia menilai kenaikan harga bahan-bahan justru paling berdampak kepada para konsumen.

Kenaikan harga yang terjadi dihampir semua bahan dianggap membebani para konsumen secara langsung.

Baca juga: Harga Cabai Merah di Bekasi dari Rp 35.000 Jadi Rp 60.000, Pembeli Enggak Ada, Barang Pada Mahal

"Konsumen itu yang berat sekali bagi mereka karena rata naiknya. Menumpuk di konsumen kan. Karena kebutuhan mereka itu, kalau satu dua macam doang bahannya naik, yang lainnya ada kestabilan, itu enak bagi mereka," tutur Hendri.

Keluhan serupa disampaikan Jaelani, (40) salah seorang pedagang sayur.

Ia mengaku modal dagang yang dikeluarkan kini meningkat jauh dibanding sebelumnya.

“Ibaratkan saya juga dulu mah modal Rp 10 juta cukup, sekarang Rp 20 juta juga kurang,” ujar Jaelani saat ditemui Kompas.com, Jumat.

Baca juga: Harga Bawang hingga Buncis Pasar Tradisional Tangsel Naik Jelang Idul Adha

Masalah lain juga terjadi bagi Jaelani. Saat modalnya meningkat, penjualan justru menurun karena pembeli mulai mengurangi belanja.

"Iya modalnya gede, tapi ya lakunya enggak ada. Dulu ibaratkan kalau dagangan mahal, lakunya ada, jadi kita perputarannya tuh enak. Kalau sekarang udah mah belinya mahal, lakunya kadang-kadang nggak ada," ungkap dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia berharap harga komoditas pangan dapat kembali stabil agar keuntungan pedagang dan daya beli masyarakat kembali normal.

“Harapannya mah ya murah lagi, stabil lagi, normal lagi,” tambah Jaelani.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Surplus Dagang Arab Saudi Naik Tiga Kali Lipat Berkat Lonjakan Harga Minyak
• 14 menit laluidxchannel.com
thumb
Purbaya: Saya akan Bikin Ekonomi Baik hingga Orang Bayar Pajak dengan Gembira
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Indonesia Bidik Ekspor 500.000 Ton Beras Premium ke Malaysia, Nilai Rp8 Triliun
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Pesanan Daihatsu Rocky Hybrid 750 Unit, Beli Sekarang Inden Sebulan
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Satu Orang Tewas dalam Ledakan di Pabrik Kimia di Hongaria
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.