REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Universitas Maranatha Bandung mengukuhkan dosen Ariesa Pandanwangi sebagai guru besar bidang ilmu seni, desain, dan media dengan kepakaran bahasa rupa. Pengukuhan dilakukan di Auditorium Prof Surjadi pekan ini dan menambah jumlah profesor di lingkungan kampus tersebut.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Ariesa mengangkat tema “Bahasa Rupa, Tantangan Global, dan Perlindungan dalam Industri Kreatif”. Ia menyoroti pentingnya menjaga bahasa rupa sebagai identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan budaya visual modern.
Baca Juga
Kreator Konten: Bahasa Fatwa Masih Sulit Dipahami Masyarakat
Program Guru Transformasional Tingkatkan Kompetensi Bahasa Inggris
Badan Bahasa Tekankan Peran Perempuan Bangun Fondasi Literasi Anak
Menurut Ariesa, generasi muda kini semakin akrab dengan simbol visual global dibandingkan budaya visual lokal. Kondisi tersebut dinilai dapat mengancam keberlanjutan warisan budaya Nusantara jika tidak diantisipasi.
Ia juga memperkenalkan inovasi batik kontemporer berbasis cerita tradisional Sunda dari manuskrip kuno Bujangga Manik. Karya itu dikembangkan bersama mitra industri agar memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Budaya lokal bukan penghambat kemajuan, tetapi sumber kreativitas yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Ariesa.
Rektor Universitas Kristen Maranatha Prof Frans Umbu Datta mengatakan, Ariesa merupakan akademisi yang konsisten menghasilkan penelitian dan karya kreatif di bidang seni dan budaya.
“Beliau adalah kebanggaan kampus dan menjadi salah satu profesor seni yang sangat langka di Indonesia,” ujar Frans.
Menurut dia, keberadaan guru besar memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas riset, mendorong inovasi, hingga memperkuat kolaborasi dengan industri.
Frans menambahkan, pencapaian tersebut juga berkaitan dengan peningkatan indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi, mulai dari kualitas sumber daya manusia dosen, publikasi ilmiah internasional, hingga kerja sama industri.
Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Maranatha James Martin Aryadi Budiman menilai peningkatan jumlah profesor menunjukkan perguruan tinggi swasta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.